kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Pasar Keuangan Indonesia Semester II 2026 Masih Diselimuti Tantangan, Ini Kata Analis


Jumat, 03 Juli 2026 / 19:08 WIB
Pasar Keuangan Indonesia Semester II 2026 Masih Diselimuti Tantangan, Ini Kata Analis
ILUSTRASI. Pasar keuangan Indonesia hadapi badai di paruh kedua 2026. Pelemahan rupiah dan suku bunga tinggi jadi ancaman utama. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia dinilai masih akan menghadapi sejumlah tantangan pada paruh kedua 2026. Pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi, siklus kenaikan suku bunga, serta arah kebijakan domestik masih menjadi perhatian investor.

Shim Tae Yong, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, mengatakan tekanan pasar pada semester I 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil obligasi, pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, serta risiko kebijakan.

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik dari 6,05% menjadi 7,13%, atau meningkat 108 basis poin secara year to date (YTD).

Di saat yang sama, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin ke level 5,75%, menandai masuknya Indonesia ke dalam siklus kenaikan suku bunga.

Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan.

"Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting," ujar Shim dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, Jumat (3/7/2026).

Baca Juga: IHSG Turun 0,35% dalam Sepekan, Ini Sentimen Penyebabnya

Menurut Shim, fokus utama Bank Indonesia saat ini lebih tertuju pada stabilisasi nilai tukar rupiah. Rupiah tercatat melemah dari Rp16.690 per dolar AS menjadi Rp17.882 per dolar AS, atau sekitar 7,1% YTD.

Konsensus juga memperkirakan USD/IDR berada di sekitar Rp17.728 per dolar AS pada akhir tahun.

Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik rupiah. Namun, konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap tertahan.

"Ini menjadi dilema utama pasar, karena stabilitas perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan juga menjadi lebih terbatas," katanya.

Shim menambahkan, siklus kenaikan suku bunga saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi 2018, ketika kenaikan suku bunga dilakukan untuk meredam pelemahan rupiah dan mengembalikan kepercayaan investor asing.

Pada tahun 2026, BI Rate telah naik dari 4,75% pada Maret 2026 menjadi 5,75% pada Juni 2026. Dalam periode yang sama, rupiah terhadap dolar AS bergerak dari Rp16.995 menjadi Rp17.848, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun dari 7.048 menjadi 5.821.

Menurutnya, masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan tersebut.

"Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko," katanya.

Baca Juga: Kinerja Reksadana Saham Masih Minus, Momentum Pemulihan Dinanti pada Semester II

Dari sisi valuasi, Samuel Tumbuh Bersama menilai pasar saham Indonesia mulai menawarkan titik masuk yang lebih menarik setelah mengalami koreksi tajam.

IHSG tercatat turun dari 8.647 menjadi 5.643, atau melemah sekitar 35% YTD, dengan valuasi berada di sekitar 14,6 kali, yang disebut sudah mendekati level valuasi krisis.

"Namun, kenaikan suku bunga dan risiko kebijakan membuat katalis pemulihan pasar belum sepenuhnya kuat," ungkapnya.

Selain tekanan suku bunga dan nilai tukar, isu MSCI juga masih menjadi perhatian.

Samuel Tumbuh Bersama memperkirakan tekanan terbesar dari isu MSCI kemungkinan telah berlalu, meskipun ketidakpastian terkait daya tarik, free float, transparansi, dan potensi downgrade ke frontier masih menjadi faktor yang perlu terus dicermati investor.

Sementara itu, Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menilai sektor perbankan masih menunjukkan kinerja yang relatif resilien secara tahunan, meskipun tekanan makro mulai memengaruhi prospek pertumbuhan.

Dalam proyeksi Samuel Sekuritas Indonesia, laba bersih bank-bank besar atau Big 4 diperkirakan tumbuh 7% secara tahunan (YoY) pada kuartal II 2026, tetapi turun 9% secara kuartalan (QoQ) karena faktor musiman.

Untuk semester I 2026, pertumbuhan laba diperkirakan mencapai 9% YoY, sedikit lebih rendah dibandingkan 10% YoY pada kuartal I 2026.

"Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Menurut Prasetya, kombinasi rupiah yang lemah dan suku bunga yang lebih tinggi menjadi latar belakang yang kurang ideal bagi sektor bank.

Baca Juga: Penurunan Level PMI Manufaktur Warning Bagi Emiten, Ini Saham Rekomendasi Analis

Rupiah sempat berada di level di atas Rp17.700 per dolar AS, bahkan menyentuh sekitar Rp18.178 pada 8 Juni, sementara suku bunga acuan BI telah naik 100 basis poin ke 5,75%.

Kondisi ini berpotensi menekan bank melalui tiga jalur utama, yaitu kenaikan biaya dana, tekanan margin bunga bersih (NIM), serta risiko kualitas aset.

Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan cost of funds. Jika repricing dana pihak ketiga bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan.

"Di saat yang sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur," jelasnya.

Samuel Sekuritas Indonesia juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan agregat laba sektor perbankan 2026 menjadi 1,8%, dari sebelumnya 4,6%, seiring tekanan margin dan biaya kredit.

Dengan latar belakang tersebut, rating sektor perbankan untuk 12 bulan ke depan diturunkan menjadi Neutral dari sebelumnya Overweight.

Prasetya pun memilih PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai top pick dengan target harga Rp6.000 per saham. Ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 54% dari harga saat laporan disusun.

Alasannya, salah satu pendorong utama kinerja BMRI adalah pertumbuhan laba sektor. Dalam proyeksi semester pertama 2026, laba bersih BMRI diperkirakan tumbuh 16% YoY, sementara BBCA menjadi salah satu yang lebih tertinggal dengan pertumbuhan sekitar 3% YoY.

Secara keseluruhan, hasil kuartal II 2026 diperkirakan masih cukup kuat, tetapi fokus pasar akan bergeser pada kemampuan bank menjaga margin dan kualitas aset pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga: Kantongi Restu RUPS, FUTR Tancap Gas Garap Proyek EBT

Dari sisi profitabilitas, pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) bank-bank besar tercatat sebesar 8% YoY pada Mei 2026, didorong oleh BMRI yang tumbuh 14% dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 12%.

Pendapatan bunga bersih Big 4 masih tumbuh 7% YoY, dengan BBNI naik 15% dan BMRI naik 10%, sementara pendapatan nonbunga tumbuh 13% YoY.

Menurut Prasetya, pertumbuhan laba masih ada, terutama dari bank-bank yang mampu menjaga pendapatan bunga dan pendapatan nonbunga.

"Namun, tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank menjaga margin, mengelola biaya dana, dan mempertahankan kualitas aset di tengah kondisi makro yang lebih ketat," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×