Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menjual pabrik kelapa sawit senilai Rp 67,6 milar.
Dalam keterbukaan informasi, SMAR melepas pabrik kelapa sawit milik anak usaha, PT Maskapai Perkebunan Leidong West Indonesia (LWI), kepada PT Bumipermai Lestari (BPL).
Pabrik tersebut berlokasi di Desa Terentang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Pelepasan itu juga beserta bangunan, infrastruktur, mesin dan peralatan kantor, laboratorium dan bengkel, kendaraan, alat berat, hingga persediaan.
Baca Juga: Tren Suku Bunga Tinggi, Begini Prospek SBN Ritel pada Semester II–2026
Saat ini, pabrik tersebut beroperasi dengan tingkat pasokan buah sawit dari kebun milik LWI sendiri yang relatif rendah, yaitu kurang dari 20% dari total buah sawit yang diolah.
Untuk mengoptimalkan utilisasi pabrik, LWI menerima titip olah buah sawit dari kebun milik BPL, pihak terafiliasi, yang berlokasi dekat dengan pabrik, dan juga membeli pasokan buah sawit pihak ketiga di sekitar pabrik.
Manajemen menilai bahwa kepemilikan dan pengoperasian pabrik kurang memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi LWI.
“Oleh karena itu, manajemen LWI memutuskan untuk mendivestasi pabrik tersebut sebagai bagian dari langkah strategis dalam optimalisasi portofolio aset,” ujarnya dalam keterbukaan informasi tersebut, dikutip 3 Juli 2026.
Divestasi tersebut akan menghasilkan tambahan arus kas saat ini. Harapannya, aksi ini dapat memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham LWI, yaitu SMAR.
Manajemen SMAR bilang, BPL merupakan pihak terafiliasi yang menjalankan kegiatan usaha yang mencakup perkebunan kelapa sawit, fasilitas pengolahan, dan fasilitas pendukung lainnya yang berlokasi di Provinsi Bangka Belitung, dan berlokasi dekat dengan Pabrik milik LWI.
Selama ini pabrik telah mengolah buah sawit milik BPL dengan kontribusi sekitar 40% dari total buah yang diolah oleh Pabrik tersebut. Dengan demikian, BPL memiliki kesesuaian operasional dan potensi sinergi yang lebih baik dalam mengelola aset tersebut secara lebih efisien dan berkelanjutan.
“BPL juga bersedia memberikan jasa titip olah atas buah sawit milik LWI sehingga dapat menjamin keberlangsungan produksi CPO LWI setelah transaksi dilakukan,” tuturnya.
LWI pun telah mempertimbangkan kemungkinan dilakukannya transaksi dengan pihak yang tidak terafiliasi. Namun, dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, LWI menilai bahwa transaksi dengan BPL merupakan alternatif yang paling optimal dalam rangka memaksimalkan nilai dan pemanfaatan aset abrik.
Sebab, apabila ditawarkan kepada pihak tidak terafiliasi dengan kondisi ketergantungan pasokan buah sawit eksternal yang tinggi, terdapat risiko nilai transaksi tidak mencerminkan nilai ekonomi pabrik yang wajar dan optimal.
“Sehingga berpotensi mengurangi tambahan arus kas yang dapat diperoleh LWI dan secara tidak langsung merugikan para pemegang saham LWI, dalam hal ini perseroan,” katanya.
Baca Juga: Kantongi Restu RUPS, FUTR Tancap Gas Garap Proyek EBT
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














