Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Performa sektor manufaktur kembali merosot pada periode Juni 2025.
Dalam laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke posisi 46,9 pada Juni 2026 dari level 50,0 pada bulan sebelumnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan penurunan PMI tersebut menjadi sinyal peringatan bagi sektor manufaktur, terutama dalam jangka pendek.
Menurutnya, kontraksi PMI mencerminkan aktivitas manufaktur yang sedang melemah akibat sejumlah tekanan, baik dari sisi domestik maupun eksternal.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (7/1)
Nafan menjelaskan, pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi faktor utama yang menekan aktivitas produksi.
Di saat yang sama, biaya input meningkat seiring fluktuasi nilai tukar rupiah, sementara permintaan ekspor dari sejumlah mitra dagang utama juga melambat.
"Ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah, karena kalau kontraksi selama beberapa bulan ke depan berlanjut, performa pendapatan dan laba bersih emiten manufaktur sisa kuartal tahun 2026 bisa tertekan dari sisi marjin," kata Nafan kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).
Ia menambahkan, dampak pelemahan PMI tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh subsektor manufaktur.
Sektor otomotif dan komponen, misalnya, diperkirakan cukup sensitif terhadap pelemahan daya beli masyarakat dan dinamika suku bunga.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Terkoreksi pada Senin (12/1), Intip Saham Rekomendasi Analis
Selain itu, industri semen dan bahan bangunan juga berpotensi terdampak terhadap proyek infrastruktur maupun sektor properti.
Di sisi lain, sektor barang konsumsi non-siklikal dinilai masih relatif lebih defensif.
Meski demikian, emiten di sektor ini tetap menghadapi tantangan dari kenaikan biaya pokok penjualan (cost of goods sold/COGS), terutama jika pelemahan manufaktur disertai meningkatnya biaya bahan baku impor akibat tekanan nilai tukar rupiah.
Secara terpisah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) Brigita Kinari, menyampaikan penurunan kondisi manufaktur lebih mencerminkan perlambatan siklus dibanding pelemahan fundamental sektor manufaktur.
Kontraksi dipicu oleh kombinasi melemahnya permintaan, baik domestik maupun ekspor, di tengah kenaikan biaya produksi akibat inflasi yang mencapai 3,34% YoY, depresiasi rupiah, serta meningkatnya harga energi dan bahan baku.
"Kondisi tersebut berpotensi menekan margin emiten, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor dan pricing power yang terbatas," ucap Brigita kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis
Meski demikian, Brigita belum melihat pelemahan ini bersifat struktural. Penurunan harga gas industri melalui program HGBT, impor barang modal dan bahan baku yang masih tumbuh positif, serta berbagai stimulus pemerintah menunjukkan kapasitas produksi nasional masih terjaga.
Dengan begitu, peluang pemulihan sektor manufaktur tetap terbuka apabila permintaan domestik membaik pada semester II-2026.
Brigita juga menerangkan emiten yang paling rentan adalah industri yang bergantung pada permintaan siklikal maupun ekspor, karena harus menghadapi penurunan volume penjualan di tengah kenaikan biaya produksi.
Sebaliknya, consumer staples relatif lebih defensif. Meskipun tekanan biaya masih terasa pada kuartal III-2026, penurunan harga minyak Brent diperkirakan mulai menurunkan biaya kemasan dan bahan baku berbasis petrokimia mulai kuartal IV-2026, sehingga berpotensi memperbaiki margin.
Di subsektor semen, fundamental juga masih cukup solid. Penjualan semen nasional masih tumbuh 10% YoY hingga Mei 2026, didorong proyek infrastruktur, dengan SMGR mencatat pertumbuhan volume 4% YoY, sementara INTP turun 6% YoY.
"Artinya, pelemahan PMI belum sepenuhnya tercermin pada seluruh subsektor manufaktur sehingga pemilihan emiten menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar melihat kondisi sektornya," tambah Brigita.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Tembus 9.000, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Di tengah kontraksi PMI, Brigita lebih mengutamakan emiten manufaktur yang memiliki katalis spesifik sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pemulihan aktivitas manufaktur nasional.
Sektor consumer staples seperti KLBF menjadi pilihan utama karena menjadi penerima manfaat terbesar dari penurunan harga minyak dunia. Target harga untuk saham KLBF berada di level Rp 1.200 per saham.
Lalu sektor semen seperti SMGR menarik dengan momentum operasional yang lebih baik dengan pertumbuhan volume yang masih positif, sejalan dengan berlanjutnya proyek infrastruktur pemerintah.
Target harga saham untuk SMGR berada di posisi Rp 1.800 per saham.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Pemicu dan Saham Rekomendasi Analis
Sementara itu, Nafan merekomendasikan add ASII dan UNVR di target harga masing-masing Rp 5.225 dan Rp 2.100, serta akumulasi beli saham INTP di level Rp 4.690 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














