kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Kinerja Reksadana Saham Masih Minus, Momentum Pemulihan Dinanti pada Semester II


Jumat, 03 Juli 2026 / 17:56 WIB
Kinerja Reksadana Saham Masih Minus, Momentum Pemulihan Dinanti pada Semester II
ILUSTRASI. Ilustrasi reksadana (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana saham masih tertekan sepanjang Juni 2026 seiring belum pulihnya pasar saham domestik. Meski demikian, manajer investasi menilai prospek reksadana saham berpotensi membaik pada semester II-2026 dengan catatan sejumlah sentimen makro mulai mereda.

Berdasarkan data Infovesta, kinerja reksadana saham hingga Juni 2026 masih tertekan dengan penurunan sebesar 21,87% secara year-to-date (YtD) dan melemah 5,11% secara month-to-month (MoM).

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi mengatakan, pelemahan reksadana saham tidak terlepas dari masih berlangsungnya koreksi di pasar saham Indonesia sejak awal tahun.

"Sentimen utamanya berasal dari masih tingginya ketidakpastian global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, arus dana asing yang belum stabil, serta meningkatnya perhatian investor global terhadap kualitas dan likuiditas pasar modal Indonesia," ujar Reza kepada Kontan, Jumat (3/7).

Baca Juga: Penurunan Level PMI Manufaktur Warning Bagi Emiten, Ini Saham Rekomendasi Analis

Menurut Reza, meskipun MSCI masih mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, investor masih mencermati sejumlah aspek seperti transparansi, likuiditas, hingga implementasi reformasi pasar modal. Kondisi tersebut membuat investor cenderung bersikap hati-hati sehingga pemulihan pasar berlangsung lebih lambat dari yang diharapkan.

Menghadapi kondisi tersebut, Henan Asset Management menerapkan strategi pengelolaan portofolio yang lebih selektif. Reza mengatakan pihaknya memprioritaskan saham-saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta model bisnis yang dinilai lebih tahan menghadapi tekanan ekonomi dan gejolak pasar.

Strategi tersebut tercermin pada kinerja HPAM Syariah Ekuitas yang menjadi salah satu reksa dana saham dengan koreksi yang relatif lebih kecil, yakni turun 4,57% secara YtD dan melemah 2,28% secara MoM.

Berdasarkan fund fact sheet, portofolio HPAM Syariah Ekuitas didominasi oleh instrumen ekuitas dengan porsi 91%, sementara 8% ditempatkan pada deposito berjangka dan sisanya 1% dalam bentuk kas atau setara kas.

Dari sisi sektoral, portofolio tersebut paling banyak dialokasikan ke sektor industri sebesar 28,8%, diikuti sektor lainnya 23,2%, sektor bahan baku 21,1%, sektor barang konsumen primer 18,7%, serta perbankan 9%.

Sementara itu, lima kepemilikan saham terbesar dalam portofolio reksa dana ini adalah SRTG dengan porsi 15%, disusul MTEL 13,8%, PRDA 8,8%, SSIA 8,5%, dan FORE 7,1%.

Selain itu, Reza menyebut pihaknya juga menjaga fleksibilitas pengelolaan kas dan secara aktif melakukan penyesuaian komposisi portofolio mengikuti perkembangan kondisi pasar.

"Kami tidak hanya mengejar peluang pertumbuhan, tetapi juga tetap mengedepankan pengelolaan risiko agar volatilitas portofolio dapat terjaga," kata Reza.

Reza memproyeksikan prospek reksadana saham pada semester II akan lebih baik dibandingkan semester pertama. Setelah mengalami koreksi cukup dalam, valuasi saham dinilai mulai berada pada level yang lebih menarik, terutama bagi investor dengan horizon investasi jangka menengah hingga panjang.

Meski demikian, ia mengingatkan proses pemulihan masih akan berlangsung secara bertahap. Arah pasar akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas nilai tukar rupiah, kembalinya arus dana asing, implementasi reformasi pasar modal, serta arah kebijakan suku bunga global.

"Semester II masih akan diwarnai volatilitas. Namun peluang pemulihan mulai terbuka apabila sentimen makroekonomi dan kondisi pasar membaik," jelasnya.

Untuk strategi investasi, Reza menyarankan investor menyesuaikan alokasi aset dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Bagi investor konservatif, reksadana pasar uang maupun reksadana pendapatan tetap masih menjadi pilihan yang menarik karena menawarkan stabilitas dengan risiko yang relatif lebih rendah di tengah ketidakpastian pasar.

Sementara itu, bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang, koreksi pasar saat ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada reksadana saham maupun reksadana campuran.

"Strategi yang lebih tepat bukan berpindah sepenuhnya ke instrumen berisiko rendah, tetapi melakukan diversifikasi portofolio secara seimbang agar tetap memperoleh stabilitas sekaligus menangkap peluang pertumbuhan saat pasar mulai pulih," tutup Reza.

Baca Juga: Kripto Terkoreksi Paling Dalam, Begini Prospek Bitcoin hingga Akhir 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×