Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten rumah sakit pada semester II-2026 diperkirakan masih positif, meski pertumbuhannya cenderung lebih selektif di tengah perbedaan kinerja fundamental antar emiten.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, sektor ini tetap ditopang oleh meningkatnya permintaan layanan kesehatan, pertumbuhan pasien non-BPJS, serta ekspansi layanan spesialis.
“Prospek sektor rumah sakit pada semester II-2026 masih relatif positif, didukung meningkatnya permintaan layanan kesehatan, pertumbuhan pasien non-BPJS, serta ekspansi layanan spesialis. Namun, pertumbuhan akan lebih selektif,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, emiten dengan dominasi pasien swasta, jaringan rumah sakit yang matang, serta efisiensi operasional yang baik akan mencatat pertumbuhan lebih stabil.
Baca Juga: IHSG Melonjak 2,46% ke 5.886 di Sesi Pertama, ISAT, AMMN, SCMA Jadi Top Gainers LQ45
Dari sisi fundamental, terdapat perbedaan karakteristik kinerja antar emiten seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ).
Azis menjelaskan, MIKA unggul dari sisi profitabilitas berkat kontribusi pasien swasta yang tinggi dan efisiensi operasional.
Sementara itu, SILO memiliki prospek pertumbuhan melalui penguatan layanan spesialis dan digitalisasi, meski margin masih di bawah MIKA.
Adapun HEAL mengandalkan ekspansi jaringan dan peningkatan utilisasi rumah sakit, sedangkan SRAJ masih berada pada fase turnaround dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi, namun disertai risiko yang lebih besar.
“MIKA masih menjadi emiten dengan margin dan efisiensi operasional terbaik. Di sisi lain, SILO dan HEAL menawarkan pertumbuhan yang lebih menarik melalui ekspansi kapasitas dan pengembangan layanan,” jelasnya.
Dari sisi operasional, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) dinilai menjadi indikator penting karena berkorelasi langsung dengan pendapatan dan efisiensi.
Namun, Azis menekankan bahwa kualitas pendapatan juga dipengaruhi oleh komposisi pasien dan layanan bernilai tambah.
Baca Juga: Komoditas Emas Jadi Andalan, Menyumbang 80% Transaksi Doo Financial Futures
“Kenaikan BOR akan lebih berdampak positif apabila disertai peningkatan layanan spesialis dengan margin tinggi serta pengendalian biaya,” imbuhnya.
Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai sektor rumah sakit tetap defensif dan prospektif, meski pertumbuhannya lebih moderat.
“Katalis utama berasal dari musim pancaroba yang meningkatkan kunjungan pasien, normalisasi iuran BPJS pasca implementasi KRIS, serta penetrasi layanan subspesialitas bermargin tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, divergensi kinerja antar emiten akan semakin terlihat, terutama dari perbedaan komposisi pasien BPJS dan non-BPJS.
“Emiten yang agresif meningkatkan porsi non-BPJS menikmati margin lebih tinggi, karena tarif pasien swasta bisa mencapai 35%-40% dibanding BPJS sekitar 15%,” jelas Abida.
Selain itu, efisiensi operasional, lokasi rumah sakit baru, serta kecepatan peningkatan okupansi juga menjadi pembeda kinerja.
Hingga akhir 2026, kinerja emiten rumah sakit diperkirakan tetap tumbuh, didukung peningkatan volume pasien dan kontribusi rumah sakit baru yang mulai optimal.
Baca Juga: Pefindo Sematkan Peringkat idAA untuk Kliring Berjangka Indonesia, Prospek Stabil
Namun, kenaikan biaya tenaga medis dan operasional masih menjadi risiko yang perlu dicermati karena berpotensi menekan margin.
Untuk rekomendasi, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan beli saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dengan target harga Rp 1.975 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














