Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berbagai instrumen investasi kompak mencatatkan kinerja negatif sejak awal 2026. Mulai dari aset kripto, emas, obligasi, saham hingga nilai tukar rupiah sama-sama tertekan sentimen penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Sejumlah portofolio berikut dinilai prospektif oleh analis.
Melansir data Bloomberg, aset kripto turun paling curam hingga dua digit. Bitcoin (BTC) turun ke turun 47,36% ytd ke US$ 58.327. Harga emas spot juga terkoreksi cukup dalam, yakni 8,36% ytd ke level US$ 4.038,5 per ons troi.
Pasar surat utang juga mengalami tekanan. Tercatat, obligasi pemerintah mengalami penurunan kinerja 2,77% secara ytd. Sama halnya, obligasi korporasi pun minus 0,19% ytd.
Baca Juga: Pasar Keuangan Indonesia Semester II 2026 Masih Diselimuti Tantangan, Ini Kata Analis
Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun. Sejak awal tahun, IHSG sudah ambles 34,74%. Nilai tukar rupiah tak kalah merana. Rupiah juga terkoreksi mendekati Rp 18.000 per dolar AS, yakni ditutup di level Rp 17.963 pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026).
Di tengah fluktuasi dan ketidakpastian pasar ini, Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan koreksi yang terjadi hampir di seluruh kelas aset terutama dipicu oleh kombinasi suku bunga tinggi The Fed yang higher for longer, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Suku bunga tinggi membuat likuiditas mengetat secara global dan meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah AS serta dolar AS, sehingga memicu capital outflow dari aset-aset berisiko dan komoditas,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).
Meski begitu, Wahyu melihat peluang pemulihan berbagai instrumen investasi pada semester II-2026 masih cukup besar. Salah satu pemicunya adalah mulai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak kembali turun ke kisaran di bawah US$ 70 per barel sehingga berpotensi meredakan tekanan inflasi global.
Selain itu, Data Non-Farm Payrolls (NFP) periode Juni hanya mencatat penambahan 57.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar sekitar 114.000 pekerjaan. Untuk sisa tahun 2026, Wahyu menilai emas menjadi salah satu instrumen yang paling prospektif setelah mengalami koreksi tajam.
“Mengingat fungsinya sebagai safe haven dan lindung nilai inflasi, emas akan menjadi aset pertama yang merespons positif jika The Fed mulai melunakkan sikap moneternya akibat data makro, seperti NFP yang melemah,” lanjutnya.
Namun, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, justru memproyeksikan harga emas spot masih menghadapi tekanan dalam jangka menengah, meski berpeluang menguat secara bertahap hingga akhir tahun.
Menurutnya, terjadi pergeseran aliran dana investor dari aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas dan kripto ke sektor artificial intelligence (AI) serta aset-aset berbasis dolar AS. Hingga akhir tahun, dibidiknya harga emas akan bertengger ke kisaran US$ 4.600 - US$ 4.800 per ons troi, sulit kembali menembus level US$ 5.000 per ond troi.
Selain emas, IHSG juga mulai menunjukkan sinyal teknikal rebound setelah memasuki area oversold. Koreksi yang dalam membuat banyak saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan konsumer, diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik untuk investasi jangka panjang.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, mengatakan pelemahan masing-masing aset investasi di atas memiliki pemicu yang berbeda. Tetapi terdapat satu benang merah merah yang menjadi penyebab pelemahan tersebut, yakni meningkatnya sikap hati-hati (risk aversion) investor global di tengan suku bunga yang masih tinggi.
Sejalan, indeks dolar AS (DXY) terus menguat, saat ini di level 100,7. “Ada pun pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi penguatan dolar AS, defisit arus modal, dan meningkatnya premi risiko Indonesia,” ujar Budi.
Di tengah kondisi tersebut, Budi menyarankan kepada investor untuk lebih mencermati obligasi pemerintah dan saham-saham korporasi besar non-BUMN sebagai pilihan investasi utama. Selain itu, investor sebaiknya memperbesar porsi aset defensif seperti pasar uang, sambil melakukan akumulasi bertahap pada saham berkualitas.
Sementara itu, Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, mengatakan tekanan jual beberapa waktu ini berasal dari kekhawatiran investor terhadap potensi penjualan bitcoin secara berkala oleh perusahaan Strategy untuk memenuhi kewajiban pembayaran dividen saham preferen setiap dua pekan. Di sisi lain, pasar juga masih minim katalis positif yang mampu mengangkat harga aset kripto dalam jangka pendek.
Kendati demikian, Christopher menilai peluang pemulihan aset investasi pada paruh kedua 2026 masih terbuka, didukung meredanya ketegangan di Timur Tengah dan potensi ruang The Fed melakukan pelonggaran moneter. Selain itu, arus pembelian dari exchange-traded fund (ETF) bitcoin dan investor institusi diperkirakan masih akan menjadi katalis utama
“Untuk sisa akhir tahun ini, menurut saya bitcoin dapat berpeluang menjadi aset yang dapat dilirik terutama memasuki kuartal keempat nanti dikarenakan secara musiman ada potensi terjadi pemantulan nantinya pada kuartal tersebut,” ujar Christopher.
Maka dari sisi strategi investasi, Christopher menyarankan investor untuk melakukan trading jangka pendek dan juga mempersiapkan akumulasi bitcoin menjelang akhir tahun.
Terakhir, Budi memperkirakan instrumen pendapatan tetap masih berpeluang memberikan imbal hasil (return) yang relatif menarik hingga akhir 2026. Obligasi pemerintah diproyeksikan mampu mencetak return sekitar 8%-12%, sedangkan obligasi korporasi berperingkat investment grade berpotensi menghasilkan return 7%-10%.
Sementara itu, prospek return emas diperkirakan lebih terbatas, yakni berada di kisaran -5% hingga 5% hingga akhir tahun. Adapun aset kripto, dengan Bitcoin sebagai acuan, diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil dengan potensi return di rentang minus 20% hingga 30%.
Untuk IHSG, Budi memperkirakan berpeluang di kisaran 6.000 hingga akhir 2026. Di sisi lain, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di sekitar Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Kinerja Reksadana Saham Masih Minus, Momentum Pemulihan Dinanti pada Semester II
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














