CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Adu cuan saham SCMA vs MNCN


Senin, 03 April 2017 / 21:13 WIB
Adu cuan saham SCMA vs MNCN

Berita Terkait

Reporter: Hasyim Ashari, Herry Prasetyo | Editor: Herry Prasetyo

JAKARTA. Rilis laporan keuangan tak selalu berbanding lurus dengan pergerakan harga saham. Investor di bursa saham tentu mafhum, saat laporan keuangan menunjukkan penurunan kinerja, harga saham belum tentu ikut turun. Sebaliknya, harga saham bisa naik meski perolehan laba perusahaan turun.

Anda tentu paham, harga saham bukan hanya menyangkut kinerja emiten di masa lalu. Pergerakan harga saham juga mencerminkan ekpektasi pelaku pasar terhadap kinerja emiten di masa mendatang.

Harga saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), misalnya, awal pekan ini naik 4,07% menjadi Rp 2,810 per saham. Padahal, kinerja keuangan SCMA pada tahun 2016 yang dirilis Jumat (31/3) lalu kurang memuaskan. Sebab, meski pendapatan tumbuh 6,8% menjadi Rp 4,5 triliun, laba bersih SCMA tahun lalu justru turun. Per akhir 2016, laba bersih SCMA turun tipis sebesar 1,48% menjadi Rp 1,5 triliun.

Dihitung sejak awal tahun, harga saham SCMA memang baru naik 0,36%. Namun, pada 24 Febuari lalu, saham SCMA sempat mendaki hingga menyentuh harga Rp 3.150 per saham. Setelah itu, harga saham SCMA memang cenderung melemah.

Pergerakan harga saham SCMA justru berbanding terbalik dengan rivalnya, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). Setelah anjlok hingga menyentuh harga terendah sepanjang setahun terakhir sebesar Rp 1.505 per saham pada 17 Februari lalu, harga saham MNCN terus mendaki. Hari ini, Senin (3/4), harga saham MNCN sudah berada di posisi Rp 1.840 per saham. Jika dihitung sejak awal tahun, harga saham MNCN naik sebesar 4,84%. Dalam sepekan terakhir, harga saham MNCN melejit 10,84%.

Pergerakan harga saham emiten media memang tidak lepas dari optimisme pelaku pasar terhadap peningkatan kinerja tahun ini. Maklum, setelah sempat melambat pada 2015 lalu, belanja iklan di televisi pada tahun2016 mulai melaju.

Hasil temuan Nielsen Advertising Information Services menyebutkan, total belanja iklan tahun lalu mencapai Rp 134,8 triliun, tumbuh 14% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebesar 77% di antaranya merupakan belanja iklan di televisi.

Masih berdasarkan data Nielsen, belanja iklan di media televisi tahun lalu tumbuh sebesar 22%. “Di tahun 2016, terlihat bahwa kepercayaan pasar sudah bangkit seperti sedia kala,” ungkap Hellen Katherina, Executive Director & Head of Media Business Nielsen Indonesia.

Bagaimana dengan tahun ini? Analis meyakini, tren belanja iklan masih akan tumbuh positif di 2017. Analis BNI Securities Thendra Chrisnanda memperkirakan, belanja iklan di media televisi setidaknya berpotensi tumbuh sebesar 10%.

Penopang pertumbuhan belanja iklan, menurut Thendra,  berasal dari perusahaan produsen barang konsumsi. Mereka  bakal jauh lebih agresif lagi memasarkan produk lewat iklan televisi lantaran meluncurkan banyak produk baru.

Henry Wibowo, Analis Bahana Securities, mengamini, belanja iklan tahun ini masih tumbuh positif. Malah, ia memperkirakan, pertumbuhan belanja iklan sepanjang 2017 bisa mencapai kisaran 12%–13%. Alasannya, harga komoditas kembali pulih, alhasil daya beli masyarakat mestinya bakal naik.

Oleh karena itu, kinerja perusahaan khususnya produsen barang konsumsi cepat habis alias fast moving consumer good (FMCG) tetap akan tumbuh. Mereka akan terus merogoh kocek untuk membiayai belanja iklan demi mempertahankan pangsa pasar.

Meski begitu, Henry mengingatkan, pertumbuhan belanja iklan di kuartal I 2017 cenderung jelek. Sebab, korporasi masih akan menahan bujet iklan selama pemilihan kepala daerah (pilkada), khusunya pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang belum rampung.

Selama kondisi politik masih gaduh, Henry bilang, perusahaan tidak berani jorjoran belanja iklan. “Perusahaan masih menunggu situasi politik dingin kembali, siapa pun yang menang,” ujar Hendry.

Walau di tiga bulan pertama jelek, belanja iklan di kuartal II 2017 diperkirakan kembali pulih. Di semester II, belanja iklan akan tumbuh menguat.

Perang konten

Yang menarik, di tengah tren belanja iklan yang tumbuh positif, perang konten media televisi juga kian memanas. Maklum, peringkat program alias rating dan pangsa pemirsa atawa audience share biasanya jadi pertimbangan pemasang iklan.

Perang konten paling seru terjadi antara dua perusahaan televisi yang sahamnya diperdagangkan di bursa saham: SCMA versus MNCN. Persaingan memperebutkan pangsa pemirsa makin panas pasca SCMA  melalui anak usahanya PT Indonesia Enternainmen Group mengakuisisi PT Sinemart Indonesia pada Januari lalu.

Sinemart Indonesia merupakan rumah produksi yang sebelumnya memproduksi sinetron untuk RCTI, stasiun televisi milik MNCN. Pasca diakuisisi, Sinemart hanya memproduksi sinetron untuk SCTV, stasiun televisi kepunyaan SCMA.

Pasca mengempit kepemilikan 80% saham Sinemart, SCMA langsung tancap gas. Februari lalu,  SCTV meluncurkan empat sinetron produksi Sinemart, yakni Anak Langit, Anak Sekolahan, Orang-Orang Kampung Duku, dan Berkas Cinta.

MNCN tak mau kalah. Meski tak lagi menggandeng Sinemart, RCTI meluncurkan tiga sinetron baru produksi anak usahanya, MNC Pictures. Ketiga sinetron itu adalah Dunia Terbalik, Roman Picisan, Tukang Ojek Pengkolan.

Yang menarik, sinetron yang ditayangkan kedua stasiun televisi itu bersalip-salipan menduduki rating teratas.  “Kompetisi sinetron antara RCTI dan SCTV sangat ketat,” kata  Henry.

Lalu, bagaimana prospek kedua emiten di tengah perebutan pangsa penonton? Simak rekomendasi analis berikut:

  • SCMA

Bukan tanpa alasan SCMA mengakuisisi Sinemart. Sekretaris  Perusahaan SCMA Gilang Iskandar mengatakan, kepemilikan atas saham Sinemart bisa membantu kualitas konten sinetron di SCTV. Selain untuk sinergi, ujung-ujungnya kinerja SCMA bisa meningkat.

Harapan manajemen SCMA tampaknya terkabul. Henry menyatakan, pasca akuisisi Sinemart, pangsa pemirsa SCMA  langsung meningkat. Tahun lalu, pangsa pemirsa SCTV hanya berkisar 10%–11%. Setelah meluncurkan empat sinetron baru, pangsa pemirsa SCTV naik jadi 17%–18%. “Akuisisi Sinemart memberi nilai tambah bagi SCMA,” ucap Thendra.

Meski begitu, manajemen SCMA memperkirakan, pendapatan pada kuartal I menurun sebesar 8%–10%, seiring tren pangsa pemirsa SCTV di jam utama alias prime time selama 16 bulan terakhir. Toh, mereka meyakini, perbaikan pangsa pemirsa pasca akuisisi Sinemart akan terus berlanjut.

Di sisi lain, berbarengan dengan pengenalan program Sinemart, SCMA juga mulai mempromosikan Whisper Media Ltd, perusahaan periklanan digital yang 50% sahamnya dimiliki SCMA. “Whisper diharapkan bisa menjadi mesin pertumbuhan pendapatan SCMA di masa depan,” ujar Investor Relation SCMA Olle Wennerdahl dalam keterbukaan informasi. Dua mesin ini diharapkan mendukung pertumbuhan pendapatan SCMA 2017 sekitar 10%.

Thendra menilai, Sinemart bakal jadi katalis positif utama bagi kinerja SCMA sepanjang tahun ini. Pasar penonton SCMA akan naik menjadi 14%–15%. Sementara pendapatan iklan bisa tumbuh 9%.

Meski begitu, kontribusi Sinemart terhadap pendapatan SCMA baru akan terasa di kuartal kedua. Di kuartal satu, kinerja SCMA justru menurun. Menurut Thendra, ini wajar lantaran akuisisi Sinemart menelan ongkos cukup besar.

Hingga akhir tahun, Thendra memproyeksikan, pendapatan SCMA tumbuh 10,5% menjadi Rp 5,06 triliun. Sedangkan laba bersih naik sebesar 10,47% menjadi Rp 1,78 triliun.

Henry sependapat, kinerja SCMA pada kuartal I bakal jelek. Namun, di kuartal II hingga akhir tahun, performa SCMA bisa tumbuh dobel digit. Henry memproyeksikan, pendapatan SCMA hingga tutup tahun berpotensi mencapai Rp 5 triliun dengan laba bersih Rp 1,8 triliun–Rp 1,9 triliun.

Karena itu, dalam jangka pendek, Hendry merekomendasikan tahan untuk saham SCMA. Investor bisa masuk mengoleksi saham SCMA pada Mei nanti, setelah emiten merilis kinerja kuartal pertama. Hingga akhir tahun, Henry memasang target harga Rp 3.350 per saham.

Thendra merekomendasikan beli untuk saham SCMA, dengan target harga Rp 3.550 per saham. Senin (3/4) lalu, harga saham SCMA Rp 2.810 per saham. Harga tersebut mencerminkan rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER) sebesar 27,28 kali.

  • MNCN

Meski tak lagi bekerjasama dengan Sinemart, MNCN optimistis kinerja bakal moncer tahun ini. Direktur Utama MNCN David F. Audy mengatakan, pendapatan MNCN hingga akhir tahun ditargetkan tumbuh 8%. Tahun lalu, pendapatan MNCN diperkirakan Rp 6,8 triliun.

Tahun ini, MNCN mengalokasikan belanja modal US$ 20 juta–US$ 30 juta. Anggaran tersebut lebih banyak digunakan untuk membiayai modal kerja serta biaya operasional.

Pada kuartal III tahun ini, MNCN memiliki utang jatuh tempo sebesar US$ 250 juta. Rencananya, MNCN akan melunasi utang sebesar US$ 100 juta menggunakan dana internal. Sementara sisanya, sebesar US$ 150 juta, akan dilakukan pembiayaan kembali alias refinancing ke tahun depan.

Menurut Henry, MNCN cukup terkena dampak negatif dari aksi SCMA mengakuisisi Sinemart. Apalagi, rumah produksi MD Entertainment juga hengkang dari MNCN dan pindah ke Trans TV. Alhasil, pangsa pemirsa RCTI turun dari 25% menjadi 19%, meski masih di atas SCTV.

Bagaimana pun, Thendra mengatakan, MNCN sebagai induk RCTI, MNC TV, dan Global TV tetap memegang pangsa penonton terbesar. Yang menarik, meski tak lagi menggandeng Sinemart, MNCN telah menyiapkan MNC Pictures untuk memproduksi sinetron.

Malah, rating sinetron produksi MNC Pictures mengungguli sinetron bikinan Sinemart.  “Dengan memproduksi sinetron sendiri, MNCN justru mampu menikmati penghematan biaya dibanding memakai rumah produksi lain,” ujar Thendra.

Katalis positif lainnya adalah rencana perusahaan melunasi sebagian utang. Selain memperbaiki struktur permodalan, pelunasan sebagian utang akan mengurangi beban utang MNCN. Dampak lebih lanjut, penurunan utang akan meningkatkan rasio pembayaran dividen. Ini tentu berdampak positif bagi pemegang saham.

Thendra memproyeksikan, pendapatan MNCN tahun ini berpotensi meningkat 9,54% menjadi Rp 7,64 triliun. Perkiraan Thendra, laba bersih kelompok usaha ini tumbuh 10,28% menjadi Rp 1,77 triliun. Hitungan Henry, pendapatan MNCN tahun ini mencapai Rp 7,64 triliun, dengan perolehan laba bersih sekitar Rp 1,9 triliun.

Henry maupun Thendra merekomendasikan beli untuk saham MNCN. Thendra memasang target harga Rp 2.270 per saham, sementara target harga Henry Rp 2.000. Senin (3/4), harga saham MNCN Rp 1.840 per saham, mencerminkan PER 13,63 kali.

Nah, mana saham jagoan Anda yang bakal memberikan cuan lebih tinggi?




TERBARU

Close [X]
×