kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Menakar Pergerakan IHSG dan Saham Rekomendasi Analis Sepanjang November 2026


Minggu, 01 November 2026 / 16:42 WIB
Menakar Pergerakan IHSG dan Saham Rekomendasi Analis Sepanjang November 2026
ILUSTRASI. IHSG ditutup melemah (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang November 2026 diperkirakan masih akan lesu. Tantangan utamanya berasal dari volatilitas pasar yang masih tinggi.

Per Jumat (30/10/2026), IHSG parkir di level 5.057 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks sudah turun 16,23% dalam sebulan terakhir.

Sejak awal tahun, IHSG mengakumulasi penurunan 41,25% year to date (YTD).

Aliran dana asing juga belum berhenti keluar dari pasar saham Tanah Air sejak awal 2026. 

Baca Juga: Window Dressing Akhir 2026 Berpotensi Jadi Rebound Sesaat, Cek Rekomendasi Analis

Sebulan belakangan, net sell asing tercatat sebesar Rp 18,77 triliun di pasar reguler. Asing pun tercatat keluar Rp 126,20 triliun YTD.

Pengamat Pasar Modal sekaligus CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih sensitif terhadap meningkatnya persepsi risiko dan perubahan arah aliran dana. 

Namun, tekanan pada indeks tidak dapat langsung diartikan bahwa penurunan akan berlangsung tanpa jeda sepanjang November. 

Secara historis, IHSG sebenarnya tak selalu turun setiap bulan November. IHSG pada November 2023 tercatat menguat 4,87%, tetapi turun pada 6,07% sepanjang November 2024. Lalu pada November 2025, IHSG menguat 4,22%.

“Dengan demikian, arah IHSG pada November 2026 lebih tepat dinilai melalui perkembangan fundamental, likuiditas, nilai tukar, dan risiko kebijakan dibandingkan asumsi musiman semata,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).

Praska bilang, salah satu sumber ketidakpastian utama berasal dari MSCI, yang pada 15 Oktober 2026 lalu membuka konsultasi mengenai usulan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. 

Langkah ini berpotensi membebani sentimen investor global dan menghambat aliran dana berbasis indeks.

Baca Juga: IDX Value30 Lebih Tahan dari IHSG, Ini Rekomendasi Saham Undervalued yang Layak Beli

Di dalam negeri, BEI melakukan penyesuaian penting terhadap metodologi IHSG, yaitu mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) mulai 2 November 2026.

Kelompok saham HSC sebelumnya diperkirakan memiliki bobot sekitar 18% terhadap IHSG. 

Pengecualian ini tidak membuat indeks otomatis turun sebesar bobot tersebut, karena mekanisme penyesuaian bobot dan divisor menjaga kesinambungan angka indeks.

“Secara jangka pendek, perubahan komposisi dinilai dapat memicu penyesuaian portofolio. Secara struktural, reformasi diharapkan meningkatkan kredibilitas dan kualitas pembentukan harga,” katanya.

Praska bilang, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mendorong penyempurnaan mekanisme HSC dengan melibatkan pihak independen dalam komite kerja,memperkuat pengawasan perdagangan, dan memperpanjang ruang buyback saham tanpa persetujuan RUPS hingga Juni 2027. 

Upaya ini dinilai bisa menjadi faktor penyeimbang positif, walaupun pemulihan kepercayaan investor akan bergantung pada bukti implementasi yang konsisten.

Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham HRUM, ANTM, CUAN hingga MMIX untuk Senin (26/10)

Untuk November, BEI mengeluarkan lima saham yang sebelumnya memenuhi persyaratan short selling, yaitu ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF. Artinya, tidak ada lagi saham dalam daftar tersebut pada periode November.

“Kebijakan ini dapat membatasi tekanan dari transaksi short selling yang memenuhi ketentuan, tetapi tidak menghilangkan risiko penjualan biasa oleh investor,” katanya.

Lebih lanjut, faktor makroekonomi tetap perlu dicermati. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% pada Oktober, sedangkan The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada 3,75%–4,00%.

”Pergerakan rupiah, imbal hasil surat utang, harga energi, dan dana asing akan menjadi penentu apakah koreksi berubah menjadi fase konsolidasi atau berlanjut lebih dalam,” ungkapnya.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand sependapat bahwa pergerakan IHSG di bulan November akan sangat volatil.

Arah utama pergerakannya ditentukan oleh kejelasan MSCI terkait usulan reklasifikasi pasar Indonesia, yang sempat memicu IHSG anjlok 11,67% pada 16 Oktober lalu. 

IHSG pun kini kembali menguji level psikologis 5.000, ditekan outflow asing dan rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.185 per dolar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Saham Bank Anjlok hingga 59% pada 2026, Apakah Bisa Pulih? Cek Rekomendasi Analis

Di sisi lain, kebijakan BEI seperti pengecualian sekitar 80 saham HSC dengan bobot sekitar 18% dari perhitungan IHSG mulai 2 November, serta tidak adanya saham yang bisa di-short selling pada November, bertujuan memperbaiki kualitas pembentukan harga. 

“Dalam jangka pendek, perubahan komposisi indeks bisa memicu volatilitas tambahan, namun dalam jangka menengah positif bagi kredibilitas pasar,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Praska memproyeksikan tiga skenario pergerakan IHSG sepanjang November. 

Dalam skenario optimistis, pergerakan IHSG bisa ada di rentang 5.400 - 5.600 sepanjang November. Syaratnya, rupiah stabil, dana asing kembali, dan reformasi pasar modal direspons baik.

Dalam skenario dasar, pergerakan IHSG bisa ada di level 4.950 - 5.400 sepanjang November. Ini jika konsolidasi dan volatilitas masih tinggi.

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Akuisisi Tambang di Australia, Cek Rekomendasi Analis Berikut

Sedangkan dalam skenario pesimistis, pergerakan IHSG akan ke 4.700 - 4.950 sepanjang November jika tekanan jual berlanjut dan risiko pasar meningkat.

Sektor perbankan besar, barang konsumsi primer, emas dan pertambangan unggulan, serta telekomunikasi dinilai masih bisa dicermati sepanjang November 2026.

Untuk sektor perbankan, penopangnya mencakup pertumbuhan kredit, pendanaan, efisiensi operasional, dan potensi dividen. Sektor konsumsi primer ditopang permintaan produk kebutuhan sehari-hari yang relatif masih stabil.

Sektor emas dan pertambangan didorong oleh eksposur terhadap penguatan harga emas dan beberapa mineral lantaran konflik geopolitik. Sedangkan, sektor telekomunikasi ditopang pendapatan berulang dari layanan komunikasi yang memberi karakter defensif, disertai monetisasi infrastruktur digital.

“Hindari saham HSC, sektor konstruksi atau properti dengan leverage tinggi, industri padat energi dan bahan baku impor, serta emiten yang arus kasnya belum sejalan dengan pertumbuhan laba,” ungkapnya.

Abida pun melihat sektor komoditas berpendapatan dolar AS seperti emas dan batubara yang lebih tahan terhadap pelemahan rupiah, konsumer pokok, dan telekomunikasi berkapitalisasi besar masih defensif di sepanjang November. 

Sementara, sektor yang cenderung tertekan adalah sektor perbankan besar yang masih menjadi sasaran utama outflow asing.

“Sektor properti yang sensitif terhadap suku bunga, konsumer dengan bahan baku impor, serta saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi yang terdampak kebijakan HSC juga perlu dihindari,” paparnya.

Di tengah ketidakpastian pasar sepanjang November, investor disarankan untuk terus disiplin risiko. 

Praska bilang, koreksi tajam dapat menyediakan harga lebih menarik, tetapi harga murah secara relatif tidak otomatis menandakan titik terendah. 

“Karena itu, strategi akumulasi bertahap dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan kondisi keuangan, tujuan investasi, dan batas toleransi kerugian,” tuturnya.

Abida juga menyarankan investor untuk menjaga porsi kas yang memadai dan melakukan akumulasi bertahap, bukan sekaligus. 

Di kondisi saat ini, investor harus fokus pada saham likuid dengan fundamental kuat dan neraca sehat, serta hindari saham dengan free float terbatas yang rentan terhadap kebijakan HSC. 

“Hal penting yang perlu dicermati adalah keputusan dan komunikasi MSCI, efektivitas reformasi BEI dan OJK, arah rupiah, serta konsistensi arus dana asing harian,” katanya.

Praska menyarankan investor untuk mencermati saham BBRI, BMRI, BBNI, BNGA, TAPG, ICBP, DMAS, dan MEDC sepanjang November.

Sedangkan, Abida menyarankan investor untuk mencermati saham ANTM, PTBA, AADI, ICBP, dan TLKM sepanjang November.

Target harga untuk masing-masing emiten adalah Rp 4.400 per saham, Rp 3.100 per saham, Rp 12.400 per saham, Rp 10.600 per saham, dan Rp 3.750 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×