kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Evaluasi Minor Kompas100 Ubah Bobot Sejumlah Saham, Ini Kata Analis


Minggu, 01 November 2026 / 18:47 WIB
Evaluasi Minor Kompas100 Ubah Bobot Sejumlah Saham, Ini Kata Analis
ILUSTRASI. BEI melakukan evaluasi minor terhadap konstituen indeks Kompas100 untuk periode 2 November 2026 hingga 29 Januari 2027. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi minor terhadap konstituen indeks Kompas100 untuk periode 2 November 2026 hingga 29 Januari 2027. Dalam evaluasi kali ini, tidak ada saham yang keluar maupun masuk indeks, tetapi terdapat perubahan bobot sejumlah saham, termasuk saham-saham berkapitalisasi besar.

Perubahan bobot terbesar di antara saham perbankan terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Bobot BBRI turun dari 10,36% menjadi 9%. Bobot PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menyusut dari 9,39% menjadi 9%.

Sebaliknya, bobot PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik dari 8,81% menjadi 9%. Kenaikan bobot juga terjadi pada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dari 3,40% menjadi 3,54%, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dari 6,14% menjadi 6,35%, PT Astra International Tbk (ASII) dari 5,47% menjadi 5,64%, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dari 4,55% menjadi 4,75%.

Baca Juga: Dihantam Sentimen Global dan Isu MSCI, IHSG Terkoreksi 16,23% di Oktober 2026

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, perubahan bobot tersebut berpotensi memengaruhi permintaan dan penawaran saham-saham konstituen, terutama dari investor institusi dan fund manager yang menjadikan Kompas100 sebagai acuan portofolio.

"Penurunan bobot BBRI dari 10,36% menjadi 9% dan BMRI dari 9,39% menjadi 9% berpotensi mengurangi kebutuhan alokasi dana pada kedua saham tersebut. Sebaliknya, peningkatan bobot BBCA, BBNI, TLKM, ASII, dan AMMN berpotensi meningkatkan permintaan terhadap saham-saham tersebut seiring penyesuaian portofolio investor," ujar Nafan kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).

Menurut dia, BBCA, BBNI, TLKM, ASII, dan AMMN berpotensi memperoleh tambahan permintaan dari investor yang mengikuti indeks. Sementara itu, BBRI dan BMRI berpotensi mengalami penyesuaian alokasi atau tekanan jual relatif.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, evaluasi minor tersebut dapat memicu rotasi dana antarsaham, terutama dalam kondisi pasar yang masih menghadapi tekanan sentimen dan ketidakpastian arus dana asing.

"Perubahan ini dapat menjadi katalis bagi pergerakan harga saham, terutama dalam jangka pendek, tetapi tidak serta-merta mencerminkan perubahan fundamental perusahaan," kata Hendra.

Hendra menambahkan, pengaruh perubahan bobot terhadap harga saham lebih bersifat teknikal melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Penambahan bobot dapat mendorong pengelola dana meningkatkan kepemilikan, sedangkan pengurangan bobot berpotensi memicu penjualan sebagai bagian dari rebalancing portofolio.

Baca Juga: Rupiah Masih Dibayangi Tekanan, Simak Proyeksinya untuk Senin (2/11)

Meski begitu, besarnya dampak tetap bergantung pada dana kelolaan yang mengikuti indeks, likuiditas saham, free float, serta keputusan investor aktif. Nafan juga mengingatkan bahwa kenaikan bobot tidak otomatis menjamin kenaikan harga saham, begitu pula penurunan bobot tidak selalu menyebabkan koreksi harga.

Dari sisi fundamental, Nafan masih melihat prospek BBCA cukup menarik berkat kualitas aset, permodalan yang kuat, dan konsistensi pertumbuhan kredit. BBRI juga ditopang eksposur pada segmen mikro dan UMKM, sedangkan BMRI memiliki diversifikasi kredit korporasi dan komersial serta ekosistem bisnis yang kuat.

Untuk TLKM, prospeknya ditopang upaya efisiensi operasional, monetisasi infrastruktur digital, dan penguatan bisnis data. Sementara itu, AMMN memiliki prospek yang berkaitan dengan perkembangan operasional pertambangan tembaga dan emas serta dinamika harga komoditas global.

Hendra menilai BBRI dan BMRI masih menarik dari sisi bisnis perbankan, kualitas kredit, dan potensi pertumbuhan kredit, meski penurunan bobot dapat menimbulkan tekanan teknikal. BBCA berpeluang memperoleh sentimen positif dari kenaikan bobot dengan dukungan kualitas aset dan konsistensi kinerja.

Adapun BBNI berpotensi mendapatkan tambahan permintaan dengan tetap memperhatikan pertumbuhan kredit dan efisiensi. TLKM memiliki karakter defensif melalui pendapatan berulang dari layanan telekomunikasi, sedangkan ASII ditopang diversifikasi bisnis otomotif, alat berat, dan jasa keuangan. Untuk AMMN, investor perlu mencermati volatilitas harga komoditas, kebutuhan investasi, serta risiko operasional.

Dari sisi rekomendasi, Nafan memberikan rekomendasi akumulasi beli untuk BBCA dengan target harga Rp 6.775 per saham, BBRI Rp 3.360 per saham, BMRI Rp 5.375 per saham, TLKM Rp 2.430 per saham, serta AMMN Rp 6.425 per saham.

 

Sementara itu, Hendra merekomendasikan speculative buy untuk BBRI dengan target harga Rp 3.000 per saham, BMRI Rp 3.960 per saham, BBCA Rp 5.250 per saham, BBNI Rp 3.490 per saham, dan ASII Rp 5.000 per saham.

Untuk TLKM, Hendra merekomendasikan buy on weakness pada area Rp 1.840 dengan target harga Rp 2.200 per saham. Adapun AMMN direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 3.500 dengan target harga Rp 3.940 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×