Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak di bawah tekanan menjelang perdagangan awal pekan.
Melansir Bloomberg Jumat (30/10/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,06% secara harian ke level Rp 18.147 per dolar AS. Secara mingguan, rupiah spot terkoreksi 0,37% dibandingkan posisi Rp 18.080 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026) pekan lalu.
Pelemahan juga terjadi pada kurs rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Rupiah Jisdor tercatat turun 0,05% secara harian menjadi Rp 18.138 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs ini melemah 0,38% dari posisi Rp 18.069 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.
Baca Juga: Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Kapitalisasi Pasar Bakal Ikut Tertekan
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah sepanjang pekan lalu lebih banyak berasal dari sentimen domestik. Salah satunya adalah sentimen penghindaran risiko (risk off) yang disertai aksi jual bersih investor asing secara berkelanjutan di pasar saham dalam negeri.
Sementara itu, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketegangan politik di dalam negeri turut menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Situasi tersebut semakin menjadi perhatian menyusul aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar sejak awal Oktober.
Kata Ibrahim, demonstrasi tersebut mencerminkan ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Isu yang menjadi sorotan antara lain penanganan kebakaran hutan, persoalan lingkungan, hingga penggunaan anggaran negara untuk berbagai program pemerintah.
Lebih lanjut Lukman bilang, prospek rupiah secara umum pada awal pekan ini masih cenderung lemah dan dibayangi berbagai sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri.
Aksi likuidasi global terhadap berbagai kelas aset pada Jumat lalu juga berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang Garuda pada perdagangan awal pekan.
Baca Juga: Menilik Nasib Pasar Saham Indonesia Jelang Review MSCI November 2026
Di sisi lain, investor cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik, terutama inflasi dan neraca perdagangan. Pergerakan rupiah juga masih akan dipengaruhi oleh perkembangan sentimen di pasar saham domestik.
"Pergerakan rupiah juga masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen di pasar ekuitas domestik," ujar Lukman kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).
Dari eksternal, pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat, termasuk data ISM dan nonfarm payrolls (NFP), serta perkembangan pemilu legislatif paruh waktu AS (midterm elections).
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB), serta posisi cadangan devisa.
Untuk perdagangan Senin (2/11/2026), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 18.100-Rp 18.200 per dolar AS. Sementara Ibrahim, memproyeksi rupiah besok Senin akan di level Rp 18.140 - Rp 18.190 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














