kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.202   17,00   0,09%
  • IDX 5.282   16,18   0,31%
  • KOMPAS100 686   3,41   0,50%
  • LQ45 539   6,45   1,21%
  • ISSI 177   -2,03   -1,14%
  • IDX30 303   3,34   1,12%
  • IDXHIDIV20 406   6,22   1,56%
  • IDX80 79   0,40   0,52%
  • IDXV30 112   0,64   0,58%
  • IDXQ30 102   1,33   1,33%

IDX Value30 Lebih Tahan dari IHSG, Ini Rekomendasi Saham Undervalued yang Layak Beli


Kamis, 29 Oktober 2026 / 05:36 WIB
IDX Value30 Lebih Tahan dari IHSG, Ini Rekomendasi Saham Undervalued yang Layak Beli
ILUSTRASI. IDX Value30 Lebih Tahan dari IHSG, Ini Rekomendasi Saham Undervalued yang Layak Beli


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Saham-saham dengan valuasi murah atau undervalued masih berpotensi menarik perhatian investor hingga 2027. Di tengah tekanan pasar saham domestik, indeks IDX Value30 menunjukkan penurunan yang lebih terbatas dibandingkan sejumlah indeks utama di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data BEI, IDX Value30 terkoreksi 19,60% sejak awal tahun atau year to date (YTD). Angka tersebut lebih baik dibandingkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 38,91% YTD.

Sebagai perbandingan, indeks LQ45 turun 36,28%, IDX30 melemah 30,71%, sedangkan IDX80 terkoreksi 40,38% sejak awal 2026.

Kinerja relatif tersebut menunjukkan bahwa saham-saham berharga murah dengan fundamental yang memadai berpotensi memiliki daya tahan lebih baik saat pasar mengalami tekanan. Meski demikian, kinerja masa lalu tidak menjamin hasil investasi pada periode berikutnya.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, IDX Value30 berfokus pada saham dengan valuasi rendah, antara lain berdasarkan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) dan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV), serta memiliki profitabilitas yang baik.

Menurut David, ketahanan indeks turut didukung karakter defensif sejumlah konstituennya dan evaluasi komposisi indeks secara berkala.

"Kinerja umumnya didukung oleh saham-saham perbankan dengan PBV rendah, emiten energi/komoditas yang membagikan dividen secara konsisten (dividend yield tinggi), serta saham consumer goods berharga murah yang mengalami pemulihan margin," ujarnya kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).

Baca Juga: Tokenisasi Saham AS Merambah Indonesia, Ini Risiko yang Perlu Dipahami Investor

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai, kinerja IDX Value30 yang relatif lebih baik mencerminkan daya tahan saham dengan valuasi menarik, arus kas kuat, dan imbal hasil dividen kompetitif.

Ketika sentimen pasar melemah dan terjadi arus keluar dana asing atau foreign outflow, saham berfundamental baik dengan valuasi terdiskon cenderung lebih defensif.

Namun, Elandry mengingatkan bahwa kinerja indeks juga dipengaruhi oleh komposisi dan bobot masing-masing saham.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, saham dengan valuasi rendah umumnya telah mengalami diskon harga sejak awal. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang penurunan ketika pasar mengalami tekanan.

Ia juga menilai, indeks LQ45 dan IDX30 lebih terpengaruh oleh saham perbankan berkapitalisasi besar yang menghadapi tekanan arus dana asing sepanjang tahun ini.

Secara sektoral, saham komoditas berpendapatan dolar AS dan emiten dengan dividend yield tinggi dinilai turut menopang kinerja IDX Value30. Meski demikian, kontribusi setiap saham perlu dilihat berdasarkan data bobot konstituen terbaru.

Baca Juga: Saat IHSG Rebound ke 5.282, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing, Rabu (28/10)

Prospek saham undervalued hingga 2027

Memasuki sisa 2026 dan sepanjang 2027, saham bervaluasi murah masih berpeluang mencatatkan kinerja relatif lebih baik apabila ketidakpastian ekonomi dan tekanan pasar berlanjut.

David menilai, IDX Value30 berpotensi mempertahankan kinerja yang lebih baik dibandingkan indeks utama lainnya di tengah ketidakpastian makroekonomi global dan domestik.

Sejumlah sentimen yang dapat mendukung saham-saham dalam indeks tersebut antara lain tren penurunan suku bunga acuan, potensi pembagian dividen interim maupun final, serta rotasi investasi dari saham berharga mahal ke saham dengan valuasi lebih rendah.

Sebaliknya, pemulihan daya beli masyarakat yang belum merata, fluktuasi harga komoditas global, dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat menjadi faktor penekan.

Dari sisi sektoral, perbankan dan keuangan diperkirakan masih berpotensi menjadi penopang. Faktor pendukungnya meliputi likuiditas yang terjaga, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang stabil, serta pertumbuhan kredit.

Emiten energi dan komoditas dengan arus kas kuat dan imbal hasil dividen tinggi juga berpotensi memberikan bantalan terhadap volatilitas pasar.

Sebaliknya, emiten industri dasar dan manufaktur masih menghadapi tantangan berupa tekanan margin akibat kenaikan biaya operasional dan perubahan harga bahan baku.

Elandry menilai, prospek IDX Value30 hingga 2027 tetap menarik, tetapi penguatannya bergantung pada pemulihan kepercayaan investor dan kembalinya aliran modal ke pasar domestik.

Stabilisasi rupiah, peluang penurunan suku bunga, pertumbuhan laba emiten, dan daya tarik dividen menjadi sejumlah katalis positif.

Adapun risiko yang perlu dicermati mencakup berlanjutnya arus keluar dana asing, ketidakpastian terkait MSCI, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, serta volatilitas harga komoditas. "Peluang rebound terbuka, tetapi kemungkinan berlangsung selektif," ujar Elandry.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor

Saham BMRI, ASII, dan PTBA masuk rekomendasi analis

Di tengah prospek tersebut, sejumlah saham dari sektor perbankan, konsumer, otomotif, dan pertambangan menjadi perhatian analis.

Elandry menilai PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berpotensi diuntungkan apabila aliran dana kembali masuk ke pasar domestik. Prospek saham ini turut ditopang pertumbuhan kredit dan kualitas aset.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dinilai menarik karena permintaan konsumen relatif stabil. Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki eksposur terhadap ekonomi domestik, sektor otomotif, dan pertambangan.

Untuk saham batubara, kinerja PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) masih akan dipengaruhi perkembangan harga komoditas dan permintaan global.

Berdasarkan data dalam naskah sumber, saham BMRI, INDF, ASII, dan UNTR masing-masing turun 24,71%, 5,90%, 25,37%, dan 13,22% YTD. Sebaliknya, ADRO naik 34,81%, PTBA menguat 40,69%, dan ITMG meningkat 14,17% sejak awal tahun.

Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa saham dengan valuasi rendah tidak otomatis menghasilkan imbal hasil yang sama. Investor tetap perlu mempertimbangkan prospek laba, kondisi fundamental, struktur biaya, dan risiko sektoral masing-masing emiten.

Abida menilai, peluang IDX Value30 untuk tetap unggul secara relatif cukup besar selama pasar berada dalam fase risk-off, ketika investor cenderung mengurangi risiko dan mengutamakan saham bervaluasi murah serta pembagian dividen.

Namun, ketika pasar pulih secara luas, saham dengan beta tinggi atau sensitivitas lebih besar terhadap pergerakan pasar berpotensi mencatatkan kenaikan lebih cepat dibandingkan saham value.

Menurut Abida, sentimen positif bagi konstituen IDX Value30 meliputi valuasi yang menarik, laba yang terjaga, harga komoditas yang solid, dan kepastian terkait status MSCI.

Sebaliknya, arus keluar dana asing yang berlanjut, pelemahan rupiah, serta volatilitas harga komoditas dapat menekan kinerja indeks.

Saham komoditas, khususnya batubara dan logam, berpotensi menjadi penggerak ketika harga jual dan pendapatan dolar AS mendukung kinerja keuangan. Di sisi lain, saham perbankan besar yang masih menghadapi tekanan arus dana asing dapat menjadi pemberat indeks meskipun fundamentalnya tetap solid.

Emiten konsumer dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor juga perlu dicermati karena pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan.

Tonton: BREAKING NEWS! THE FED KEMBALI TAHAN SUKU BUNGA di 3,75%-4% INI PENYEBABNYA

Daftar rekomendasi saham dan target harga

David menyarankan investor mencermati saham-saham IDX Value30 dengan fundamental kuat, kinerja konsisten, dan riwayat pembagian dividen berkala. Strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap dapat dipertimbangkan sesuai profil risiko dan valuasi masing-masing saham.

Sementara itu, Elandry merekomendasikan akumulasi bertahap untuk BMRI, ASII, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Berikut rekomendasi saham dan target harga dari kedua analis: 

Saham Rekomendasi analis Target harga
BMRI Elandry dan Abida Rp 5.450 dan Rp 6.200
ASII Elandry dan Abida Rp 6.400 dan Rp 6.850
TLKM Elandry Rp 2.880
PTBA Abida Rp 3.100

Abida merekomendasikan beli untuk PTBA, ASII, dan BMRI dengan target harga masing-masing Rp 3.100, Rp 6.850, dan Rp 6.200 per saham.






 

Massa Emak-emak Datangi Bundaran HI, Bawa Makanan Gratis untuk Dukung Demo Mahasiswa





 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×