kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Saham Bank Anjlok hingga 59% pada 2026, Apakah Bisa Pulih? Cek Rekomendasi Analis


Selasa, 27 Oktober 2026 / 05:31 WIB
Saham Bank Anjlok hingga 59% pada 2026, Apakah Bisa Pulih? Cek Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Saham Bank Anjlok hingga 59% pada 2026, Apakah Bisa Pulih? Cek Rekomendasi Analis


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar masih mengalami tekanan sepanjang 2026. Hingga perdagangan Senin (26/10/2026), sejumlah saham bank besar mencatat penurunan harga lebih dari 20% secara year to date (ytd).

Pada akhir perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (26/10/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup di Rp 4.940 turun 85 poin atau 1,69% secara harian. Harga saham BBCA terkoreksi 38,44% secara year to date (ytd), terdalam di antara empat saham bank besar di Indeks LQ45.

Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) pada hari yang sama ditutup di Rp 2.910, stagnan secara harian. Secara ytd, harga saham BBRI merosot 730 poin atau 20,05%. 

Sedangkan harga Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah ke Rp 3.910 turun 22,96% secara ytd. 

Tekanan juga dialami PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang turun 18,54% secara ytd ke Rp 3.470.

Adapun saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) terkoreksi ke Rp 935, merosot 19,40% secara ytd. .

Penurunan paling dalam secara persentase dalam kelompok tersebut dialami PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Saham BRIS merosot 59,42% ytd ke level Rp 1.055. 1.055,00 IDR

Sejumlah saham perbankan tersebut bahkan sempat menyentuh level terendah sepanjang 2026. Saham BBRI tercatat pernah berada di Rp 2.460, BMRI di Rp 3.200, BBNI di Rp 2.830, BBCA di Rp 4.740, dan BRIS di Rp 1.000.

Baca Juga: Generasi Milenial Dominasi Investor SBR015, Penjualan Tembus Rp 17 Triliun

Valuasi saham bank mulai menarik

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai koreksi harga saham perbankan membuat valuasi sejumlah bank besar terlihat lebih menarik.

Meski demikian, menurut dia, penurunan harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan fundamental industri perbankan.

Sentimen global, tekanan terhadap rupiah, arus keluar dana investor asing, serta ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut memengaruhi pergerakan saham perbankan.

Untuk sisa 2026, Rully melihat beberapa faktor yang berpotensi menjadi katalis pemulihan harga saham bank.

Pertama, stabilisasi nilai tukar rupiah dan meredanya tekanan jual dari investor asing. Kedua, membaiknya sentimen terhadap MSCI seiring perkembangan konkret reformasi pasar modal Indonesia.

Ketiga, pemulihan yang ditopang oleh perbaikan kinerja fundamental perbankan, terutama pertumbuhan kredit, kualitas aset, biaya dana, dan prospek laba.

Dengan demikian, arah pergerakan saham perbankan tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tetapi juga pada kemampuan bank mempertahankan pertumbuhan bisnis dan profitabilitas.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 1,21% ke 5.373, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing di Awal Pekan

BI Rate ditahan, likuiditas perbankan mendapat dukungan

Kebijakan moneter juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026.

BI juga menyiapkan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap untuk memperkuat likuiditas perbankan. Kebijakan tersebut diharapkan mendukung penyaluran kredit dan aktivitas ekonomi.

Namun, Rully menilai dampak kebijakan likuiditas terhadap pertumbuhan kredit dan profitabilitas bank masih perlu dicermati.

Berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas yang dikutip dalam pemberitaan Kompas.com, pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat melambat dibandingkan Agustus 2026.

Dalam riset tersebut, pertumbuhan kredit disebut mencapai 12,7% secara tahunan pada September 2026, dibandingkan 13,3% pada Agustus 2026.

Perlambatan terutama terjadi pada kredit investasi yang dipengaruhi oleh segmen konstruksi. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 12,7% secara tahunan dan kredit konsumsi masih relatif lemah, dengan pertumbuhan 4,7%.

Total kredit perbankan tercatat mencapai Rp 9.078 triliun, meningkat 0,7% secara bulanan. Secara year to date, pertumbuhan kredit pada September 2026 mencapai 7,5%.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perkembangan intermediasi perbankan masih menjadi salah satu indikator penting untuk memantau prospek saham bank.

Tonton: IHSG Terus Memerah Hari Ini (26 Oktober 2026)

Daya beli dan ketidakpastian global menekan saham bank

Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menjelaskan bahwa pelemahan saham perbankan dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan eksternal.

Dari dalam negeri, ekspansi kredit menghadapi tantangan akibat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Sejumlah pelaku usaha juga masih menunggu kepastian kondisi ekonomi sebelum memperluas bisnis.

Sementara dari luar negeri, gejolak pasar global, fluktuasi harga minyak, serta dampaknya terhadap inflasi dan suku bunga turut memengaruhi sentimen investor.

Trioksa menilai pergerakan saham perbankan berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi dan politik. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Untuk sisa 2026, ia memperkirakan saham perbankan berpeluang membaik seiring tambahan stimulus dari BI, meskipun pemulihannya diperkirakan belum signifikan.

Aksi pembelian kembali saham atau buyback juga dinilai berpotensi membantu menahan tekanan harga saham lebih lanjut.

Meski valuasi saham bank mulai terlihat menarik setelah koreksi, investor tetap perlu mencermati perkembangan rupiah, arus dana asing, pertumbuhan kredit, kualitas aset, serta prospek laba masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.






Sebagian artikel tayang di: https://money.kompas.com/read/2026/10/26/190900326/saham-saham-bank-anjlok-puluhan-persen-bisakah-segera-bangkit-?page=all#page2.


 

IHSG Terus Memerah Hari Ini (26 Oktober 2026)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×