Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang masa penawaran Sukuk Tabungan seri ST017 pada 6 November hingga 22 Desember 2026, ekspektasi terhadap tingkat imbal hasil (yield) instrumen syariah ini mulai meningkat.
Meskipun Bank Indonesia (BI) masih menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%, dinamika pasar obligasi domestik membuka peluang bagi pemerintah untuk menawarkan kupon yang lebih agresif dibandingkan seri sebelumnya.
Chief Operating Officer (COO) Bareksa Ni Putu Kurniasari mengatakan, adanya peningkatan premi risiko di pasar surat utang yang akan mendorong Kementerian Keuangan menyesuaikan strategi penetapan kupon.
Baca Juga: Ditopang Sejumlah Katalis, Cek Rekomendasi Saham Migas: ELSA, ENRG, MEDC dan PGAS
Hal ini krusial agar instrumen non-tradable ini tetap diminati oleh masyarakat di tengah ketatnya persaingan likuiditas antar instrumen.
"Kalau melihat dari yield benchmark obligasi yang meningkat sampai ke 7,5% untuk tenor 10 tahun, meskipun BI Rate tetap, saya perkirakan Kemenkeu akan meningkatkan kupon untuk ST017 ini lebih tinggi dari SBR015," ujar Putu kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Sebagai perbandingan, pada penawaran Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 bulan lalu, pemerintah menetapkan kupon floating with floor sebesar 6,75% untuk tenor dua tahun (T2) dan 6,85% untuk tenor empat tahun (T4).
Angka ini sudah lebih tinggi dibandingkan Sukuk Tabungan seri ST016 yang terbit pertengahan tahun ini dengan kupon 6,05% (T2) dan 6,25% (T4).
Hitungan senada juga diutarakan oleh Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, yang memproyeksikan batas minimal imbal hasil ST017 berpotensi menyentuh kisaran 6,8%–6,9% untuk tenor dua tahun dan 7,0%–7,1% untuk tenor empat tahun.
Syafruddin menyoroti pentingnya penetapan batas bawah yang tepat agar tidak kalah saing dengan instrumen perbankan, namun tetap terukur secara fiskal.
Baca Juga: Bumi Serpong Damai (BSDE) Jual Lahan Rp 3,1 Triliun ke DSSA, Ini Tujuannya
"Pemerintah juga memiliki ruang untuk mempersempit spread dibanding ST016 karena basis investor ritel sudah lebih dalam. Di sisi lain, kupon tidak bisa terlalu rendah karena investor akan membandingkannya dengan deposito, SBN tradable, dan instrumen pasar uang," jelas Syafruddin kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Dengan mempertimbangkan tekanan pada nilai tukar rupiah dan tingginya yield obligasi pemerintah saat ini, rentang proyeksi tersebut setara dengan spread sekitar 105–115 basis poin untuk ST017T2 dan 125–135 basis poin untuk ST017T4 terhadap BI-Rate, yang dinilai sebagai titik keseimbangan paling rasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














