kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Dihantam Sentimen Global dan Isu MSCI, IHSG Terkoreksi 16,23% di Oktober 2026


Minggu, 01 November 2026 / 18:36 WIB
Dihantam Sentimen Global dan Isu MSCI, IHSG Terkoreksi 16,23% di Oktober 2026
ILUSTRASI. IHSG parkir di level 5.057,05 pada Jumat (30/10/2026). Alhasil, dalam sebulan IHSG terkoreksi 16,23% dan anjlok  41,25% secara YtD (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham domestik menghadapi tekanan berat sepanjang Oktober 2026. Selain sentimen eksternal, persoalan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia turut membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), IHSG parkir di level 5.057,05. Secara bulanan, IHSG terkoreksi 16,23%. Sementara sejak awal tahun, indeks telah melemah 41,25% secara year to date (YtD).

Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan suku bunga acuannya belum cukup memberikan dorongan bagi pasar saham domestik.

Baca Juga: Rupiah Masih Dibayangi Tekanan, Simak Proyeksinya untuk Senin (2/11)

"Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%-4% belum cukup menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia, karena investor global masih mencermati arah kebijakan moneter AS ke depan," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Nafan bilang, tingginya dolar AS dan imbal hasil US Treasury berpotensi membuat aset berdenominasi dolar tetap menarik. Kondisi ini dapat menghambat pemulihan arus modal asing ke pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap IHSG juga berkaitan dengan persoalan struktural yang memengaruhi kepercayaan investor. Beberapa di antaranya adalah isu transparansi pasar, potensi reklasifikasi Indonesia oleh MSCI, serta berlanjutnya aksi jual investor asing. Penurunan IHSG lebih dari 3% pada salah satu perdagangan Oktober turut menunjukkan kuatnya tekanan jual di pasar.

Di tengah kondisi tersebut, Nafan menyebut sektor perbankan masih menarik untuk dicermati.

"Investor dapat memprioritaskan bank dengan kualitas aset yang terjaga, permodalan kuat, pertumbuhan kredit yang sehat, dan valuasi yang menarik," tuturnya.

Baca Juga: Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Kapitalisasi Pasar Bakal Ikut Tertekan

Selain perbankan, sektor komoditas dapat menjadi alternatif diversifikasi, terutama bagi emiten yang didukung tren harga komoditas global, neraca keuangan yang sehat, serta arus kas operasional yang kuat. Sementara itu, sektor konsumer defensif berpotensi lebih resilien ketika volatilitas pasar meningkat karena permintaan terhadap produk kebutuhan pokok cenderung lebih stabil.

Ke depan, Nafan memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan hingga akhir 2026 apabila arus dana asing belum berbalik secara konsisten. Meski demikian, peluang pemulihan tetap terbuka apabila pemerintah, OJK, dan BEI mampu mempercepat reformasi pasar modal, memperkuat transparansi serta tata kelola emiten, dan memulihkan kepercayaan investor global.

Secara teknikal, IHSG diproyeksi memiliki level support di 4.777 dan resistance di 5.810. Memasuki awal 2027, arah pergerakan indeks akan turut ditentukan oleh stabilitas rupiah, arus dana asing, serta efektivitas reformasi pasar modal domestik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×