Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang November 2026 diperkirakan masih akan lesu. Tantangan utamanya berasal dari volatilitas pasar yang masih tinggi.
Per Jumat (30/10/2026), IHSG parkir di level 5.057 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks sudah turun 16,23% dalam sebulan terakhir.
Sejak awal tahun, IHSG mengakumulasi penurunan 41,25% year to date (YTD).
Aliran dana asing juga belum berhenti keluar dari pasar saham Tanah Air sejak awal 2026.
Baca Juga: Window Dressing Akhir 2026 Berpotensi Jadi Rebound Sesaat, Cek Rekomendasi Analis
Sebulan belakangan, net sell asing tercatat sebesar Rp 18,77 triliun di pasar reguler. Asing pun tercatat keluar Rp 126,20 triliun YTD.
Pengamat Pasar Modal sekaligus CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih sensitif terhadap meningkatnya persepsi risiko dan perubahan arah aliran dana.
Namun, tekanan pada indeks tidak dapat langsung diartikan bahwa penurunan akan berlangsung tanpa jeda sepanjang November.
Secara historis, IHSG sebenarnya tak selalu turun setiap bulan November. IHSG pada November 2023 tercatat menguat 4,87%, tetapi turun pada 6,07% sepanjang November 2024. Lalu pada November 2025, IHSG menguat 4,22%.
“Dengan demikian, arah IHSG pada November 2026 lebih tepat dinilai melalui perkembangan fundamental, likuiditas, nilai tukar, dan risiko kebijakan dibandingkan asumsi musiman semata,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).
Praska bilang, salah satu sumber ketidakpastian utama berasal dari MSCI, yang pada 15 Oktober 2026 lalu membuka konsultasi mengenai usulan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Langkah ini berpotensi membebani sentimen investor global dan menghambat aliran dana berbasis indeks.
Baca Juga: IDX Value30 Lebih Tahan dari IHSG, Ini Rekomendasi Saham Undervalued yang Layak Beli
Di dalam negeri, BEI melakukan penyesuaian penting terhadap metodologi IHSG, yaitu mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) mulai 2 November 2026.
Kelompok saham HSC sebelumnya diperkirakan memiliki bobot sekitar 18% terhadap IHSG.
Pengecualian ini tidak membuat indeks otomatis turun sebesar bobot tersebut, karena mekanisme penyesuaian bobot dan divisor menjaga kesinambungan angka indeks.
“Secara jangka pendek, perubahan komposisi dinilai dapat memicu penyesuaian portofolio. Secara struktural, reformasi diharapkan meningkatkan kredibilitas dan kualitas pembentukan harga,” katanya.
Praska bilang, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mendorong penyempurnaan mekanisme HSC dengan melibatkan pihak independen dalam komite kerja,memperkuat pengawasan perdagangan, dan memperpanjang ruang buyback saham tanpa persetujuan RUPS hingga Juni 2027.
Upaya ini dinilai bisa menjadi faktor penyeimbang positif, walaupun pemulihan kepercayaan investor akan bergantung pada bukti implementasi yang konsisten.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham HRUM, ANTM, CUAN hingga MMIX untuk Senin (26/10)
Untuk November, BEI mengeluarkan lima saham yang sebelumnya memenuhi persyaratan short selling, yaitu ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF. Artinya, tidak ada lagi saham dalam daftar tersebut pada periode November.
“Kebijakan ini dapat membatasi tekanan dari transaksi short selling yang memenuhi ketentuan, tetapi tidak menghilangkan risiko penjualan biasa oleh investor,” katanya.
Lebih lanjut, faktor makroekonomi tetap perlu dicermati. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% pada Oktober, sedangkan The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada 3,75%–4,00%.
”Pergerakan rupiah, imbal hasil surat utang, harga energi, dan dana asing akan menjadi penentu apakah koreksi berubah menjadi fase konsolidasi atau berlanjut lebih dalam,” ungkapnya.














