kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Laba Emiten Tambang MIND ID Melonjak, Saham ANTM dan TINS Jadi Pilihan Analis


Minggu, 01 November 2026 / 10:56 WIB
Laba Emiten Tambang MIND ID Melonjak, Saham ANTM dan TINS Jadi Pilihan Analis
ILUSTRASI. INDONESIA-ECONOMY/RATES (REUTERS/Willy Kurniawan)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten-emiten pertambangan anggota MIND ID mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga kuartal III-2026.

Kenaikan harga komoditas, peningkatan volume produksi dan penjualan, serta efisiensi operasional menjadi penopang pertumbuhan laba perusahaan.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan kenaikan laba bersih 46% secara tahunan menjadi Rp 9,66 triliun. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan pertumbuhan laba 216,3% menjadi Rp 4,41 triliun.

Sementara itu, laba PT Vale Indonesia Tbk (INCO) meningkat tiga kali lipat menjadi US$ 147 juta. Adapun laba PT Timah Tbk (TINS) melonjak 584% menjadi Rp 4,12 triliun.

Baca Juga: Grafik Harga Emas Antam Batangan (1 November 2026), Hari Ini Turun atau Naik?

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, pertumbuhan laba tersebut merupakan hasil kombinasi peningkatan volume produksi dan penjualan, pemulihan harga komoditas global, serta efisiensi biaya operasional.

ANTM, misalnya, diuntungkan oleh tingginya permintaan emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven di tengah rekor harga global.

PTBA memperoleh dorongan dari peningkatan volume penjualan ekspor dan pengelolaan biaya tunai yang ketat.

Di sisi lain, INCO mampu meningkatkan laba melalui efisiensi beban produksi energi serta pengiriman nikel dalam matte yang stabil.

Adapun lonjakan laba TINS turut ditopang penertiban aktivitas tambang ilegal di wilayah konsesinya sehingga pasokan bijih timah resmi perusahaan meningkat.

"Kenaikan laba bersih yang signifikan pada empat emiten anggota grup MIND ID hingga kuartal III-2026 pada dasarnya didorong oleh perpaduan antara peningkatan volume produksi dan penjualan, pemulihan harga komoditas global, serta efisiensi biaya operasional," ujar Nafan kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).

Baca Juga: Harga Emas Antam Minggu (1/11) Stabil di Rp 2.526.000 per Gram, Cek Daftar Terbaru

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie juga menilai harga komoditas menjadi penopang utama kinerja emiten pertambangan sepanjang 2026.

ANTM diuntungkan oleh tingginya harga emas, PTBA oleh harga batubara, sedangkan INCO mendapat dorongan dari harga nikel.

Menurut Adrian, tren harga komoditas secara umum masih menjadi faktor pendukung kinerja emiten hingga akhir tahun ini.

Harga emas ditopang permintaan aset safe haven dari bank sentral, sementara harga batubara turut mendapat dukungan dari harga minyak yang relatif tinggi. Adapun harga nikel ditopang pengetatan produksi sepanjang tahun.

"Tren harga komoditas secara umum menjadi tailwind bagi kinerja ketiganya di tahun 2026," kata Adrian.

Memasuki 2027, Nafan memperkirakan prospek harga komoditas masih cukup kondusif, meski pergerakannya akan berbeda pada setiap sektor.

Baca Juga: MSCI Berencana Ubah Status Pasar Saham RI, Investor Perlu Mencermati Dampaknya

Harga emas berpotensi melanjutkan tren positif seiring ketidakpastian geopolitik global, ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan, serta aksi pembelian cadangan oleh bank sentral dunia.

Harga timah juga berpeluang mempertahankan tren positif akibat terbatasnya pasokan global dan meningkatnya permintaan dari industri teknologi serta semikonduktor.

Sebaliknya, harga nikel diperkirakan cenderung berkonsolidasi akibat pasokan global yang masih melimpah, terutama dari Indonesia.

Sementara itu, harga batubara diproyeksikan bergerak terbatas dengan dukungan permintaan musiman dari Asia Selatan dan China. Namun, komoditas ini masih dibayangi agenda transisi energi dalam jangka panjang.

Dari sisi kinerja perusahaan, Adrian memperkirakan ANTM, PTBA, dan INCO tetap membukukan kinerja solid hingga akhir 2026. Capaian hingga kuartal III-2026 dinilai telah menyumbang porsi besar terhadap proyeksi kinerja setahun penuh.

Meski demikian, pertumbuhan pada 2027 diperkirakan lebih moderat seiring semakin tingginya basis perbandingan.

"Hingga akhir 2026, kami memperkirakan kinerja ketiganya tetap solid, mengingat capaian kuartal III sudah menyumbang porsi besar terhadap proyeksi setahun penuh. Untuk 2027, laju pertumbuhan diperkirakan lebih moderat karena basis yang semakin tinggi," jelas Adrian.

Baca Juga: OJK Kaji Pengembalian Dana Investor Terdampak Kasus Saham DSSA, BREN dan CUAN

Secara relatif, Adrian menilai ANTM memiliki prospek paling stabil karena ditopang bisnis emas.

Sementara itu, INCO dan PTBA memiliki potensi pertumbuhan lebih besar, tetapi juga lebih sensitif terhadap perubahan harga nikel dan batubara.

Nafan melihat ANTM dan TINS berpeluang menjadi emiten unggulan. ANTM menjadi pilihan utama karena memiliki portofolio komoditas terdiversifikasi dan segmen emas yang relatif defensif di tengah ketidakpastian global.

Prospek jangka panjang perusahaan juga ditopang pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Adapun TINS dinilai memiliki potensi pertumbuhan menarik seiring perbaikan tata kelola pertambangan nasional. Penertiban tambang ilegal berpeluang meningkatkan porsi pasokan resmi perusahaan dan memberikan daya ungkit terhadap profitabilitas ketika harga timah dunia bertahan tinggi.

"ANTM menjadi top pick berkat portofolio komoditas yang terdiversifikasi serta segmen bisnis emas yang defensif di tengah ketidakpastian global, disokong oleh prospek jangka panjang dari ekosistem baterai EV. TINS hadir sebagai growth pick utama karena pemulihan tata kelola pertambangan nasional memberikan daya ungkit profitabilitas yang sangat tinggi saat harga timah dunia bertahan di level tinggi," papar Nafan.

Baca Juga: Beli Emas Antam Januari, Kini Rugi 20%! Ini Hitungan Buyback yang Wajib Anda Pahami

Meski prospek masih terbuka, investor perlu mencermati sejumlah risiko. Di antaranya volatilitas harga komoditas akibat dinamika pemulihan ekonomi China, gangguan operasional dan logistik pertambangan akibat cuaca ekstrem, hingga perubahan regulasi terkait tarif royalti dan kewajiban pasar domestik.

Dari sisi rekomendasi saham, Adrian memberikan rekomendasi buy untuk ANTM dengan target harga Rp 4.100 per saham dan INCO dengan target harga Rp 6.300 per saham.

Sementara itu, Nafan merekomendasikan add untuk ANTM dengan target harga Rp 3.470 per saham. Untuk INCO, ia memberikan rekomendasi accumulative buy dengan target harga Rp 4.950 per saham.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×