Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan emiten Grup Astra menunjukkan hasil yang beragam hingga kuartal III-2026. Sejumlah perusahaan mencatatkan penurunan laba bersih, sementara emiten lainnya berhasil membukukan pertumbuhan laba di tengah dinamika bisnis sepanjang tahun ini.
PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR), misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih masing-masing sebesar 11,73% dan 61,08% secara tahunan (yoy).
Sebaliknya, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih tertinggi, yakni sebesar 78,01% yoy.
Dari sisi pendapatan, UNTR menjadi emiten yang mencatatkan penurunan, dengan kontraksi sebesar 10% yoy. Sementara itu, emiten Grup Astra lainnya berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan hingga akhir September 2026.
Baca Juga: Pandu Sjahrir Buka Suara Terkait Supra Sekuritas
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan perbedaan hasil kinerja emiten grup Astra dipengaruhi karakteristik bisnis dan kondisi sektoral.
ASII mengalami tekanan pada bisnis pertambangan dan alat berat serta beban non-berulang. UNTR terdampak pelemahan bisnis batu bara dan alat berat serta gangguan operasional tambang emas.
Sebaliknya, AUTO diuntungkan kenaikan permintaan komponen dan pasar suku cadang, AALI oleh perbaikan kinerja bisnis kelapa sawit, sedangkan ASGR ditopang pertumbuhan bisnis solusi dokumen dan teknologi informasi.
Ke depan, Alrich bilang kinerja grup Astra berpeluang membaik pada kuartal IV seiring pemulihan operasional Martabe dan peningkatan volume kontrak pertambangan.
Pada tahun 2027, ASII berpotensi ditopang otomotif dan jasa keuangan, AUTO oleh permintaan komponen dan aftermarket, AALI oleh harga serta produksi CPO, dan ASGR oleh kebutuhan solusi teknologi. Sementara itu, pemulihan UNTR bergantung pada harga komoditas dan aktivitas pertambangan.
Risiko utama mencakup perlambatan ekonomi, tekanan daya beli, volatilitas komoditas, dan kenaikan biaya operasional.
"Secara fundamental, AUTO dan AALI menarik untuk dicermati karena pertumbuhan laba yang kuat, sedangkan ASII menawarkan diversifikasi bisnis. ASGR berpotensi diuntungkan kebutuhan digitalisasi, sementara UNTR lebih sensitif terhadap siklus komoditas," kata Alrich kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Rupiah Menguat Hari Ini, Cek Sentimen dan Proyeksi Jumat (30/10)
Namun, dalam kondisi market seperti saat ini, pertumbuhan laba saja tidak cukup. Valuasi, foreign inflow dan konfirmasi technical rebound tetap perlu diperhatikan sebelum akumulasi.
Dari sisi rekomendasi saham, Alrich menyarankan saat ini sebaiknya investor mempertimbangkan untuk wait and see terlebih dulu.
Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama berpendapat perbedaan kinerja emiten Grup Astra pada kuartal III-2026 mencerminkan perbedaan siklus bisnis dan kontribusi masing-masing segmen.
Pada ASII, penurunan laba bersih 11,73% menjadi Rp 21,6 triliun terutama dipengaruhi pos non-berulang berupa penurunan nilai dan penyesuaian nilai wajar investasi. Jika pos tersebut dikecualikan, laba bersih relatif stabil di Rp 24,6 triliun.
Sementara itu, UNTR mengalami tekanan lebih besar akibat penurunan alokasi RKAB batu bara nasional, penurunan penjualan emas, serta beban nonberulang dan penghentian sementara operasional tambang emas Martabe pada awal tahun.
Sebaliknya, AALI diuntungkan oleh peningkatan produksi CPO dan perbaikan margin, sehingga laba bersih tumbuh 78,01%. AUTO mencatat pertumbuhan berkat peningkatan permintaan komponen kendaraan dan bisnis aftermarket, sedangkan ASGR ditopang pertumbuhan bisnis Solusi Dokumen dan Solusi Teknologi Informasi.
"Jadi, meskipun berada dalam satu grup, eksposur bisnis terhadap komoditas, otomotif, dan belanja korporasi membuat kinerja masing-masing emiten berbeda," ucap Elandry.
Untuk kuartal IV-2026 hingga 2027, prospek Grup Astra masih cukup terbuka, tetapi pemulihannya kemungkinan tidak merata. ASII berpotensi ditopang oleh bisnis otomotif dan jasa keuangan, sementara kontribusi dari alat berat dan pertambangan masih bergantung pada pemulihan volume penjualan serta harga komoditas.
Baca Juga: DSSA Gelontorkan Rp 3,1 Triliun untuk Ekspansi Pusat Data, Cermati Prospeknya
UNTR berpeluang membaik apabila aktivitas pertambangan meningkat dan produksi emas Martabe kembali berjalan normal, tetapi alokasi produksi batu bara dan harga komoditas tetap menjadi faktor penentu.
AALI berpotensi mempertahankan pertumbuhan apabila harga jual CPO tetap menguntungkan dan produktivitas perkebunan terjaga. AUTO memiliki peluang pertumbuhan dari permintaan komponen kendaraan, perluasan pasar aftermarket, dan pengembangan komponen kendaraan listrik. Adapun ASGR berpotensi diuntungkan oleh digitalisasi dan kebutuhan solusi teknologi informasi perusahaan.
Faktor pemberat yang perlu diperhatikan adalah daya beli domestik, biaya operasional, volatilitas harga komoditas, nilai tukar, suku bunga, serta tingkat belanja modal korporasi. Karena itu, investor perlu mencermati keberlanjutan pertumbuhan laba dan arus kas, bukan hanya pertumbuhan pendapatan.
Sementara itu, tim riset Stockbit Investment menilai laba bersih ASII berpotensi pulih signifikan pada semester II-2026, dengan indikasi pemulihan yang mulai terlihat pada kuartal III-2026.
Dengan proyeksi laba bersih tahunan di kisaran Rp 30 triliun, ASII diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,7 kali rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (P/E), setelah harga sahamnya naik 8% pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Valuasi tersebut berada sedikit di atas rata-rata historis tiga tahun ASII yang sebesar 6,6 kali P/E. "Valuasi tersebut belum tergolong mahal, meskipun potensi kenaikan harga saham atau upside yang tidak terlalu besar," tulis tim riset Stockbit.
Selain pemulihan kinerja operasional, Stockbit Investment menilai pengelolaan permodalan yang baik juga dapat menjadi katalis positif bagi ASII. Salah satunya melalui langkah perseroan meningkatkan kepemilikan saham di AUTO, yang menunjukkan tren pertumbuhan kinerja solid.
Untuk target harga, Elandry menyarankan sebaiknya investor menggunakan horizon 12 bulan sebagai acuan awal dan dievaluasi kembali berdasarkan kinerja 2027. Target analis yang tersedia untuk ASII berada di kisaran Rp 6.450–Rp 6.700 per saham, sedangkan AUTO memiliki target konsensus sekitar Rp 3.600. Untuk AALI, terdapat rekomendasi analis dengan target Rp 10.500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














