kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Bitcoin Malah Melemah


Kamis, 29 Oktober 2026 / 17:03 WIB
The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Bitcoin Malah Melemah
ILUSTRASI. CRYPTOCURRENCY (Romain Costaseca/Hans Lucas via Reuters)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan nyatanya belum mampu mendorong penguatan pasar kripto.

Asal tahu saja, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75% - 4%. Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi belum memberikan kepastian mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Sejalan dengan itu. harga Bitcoin pada Kamis (29/10/2026) pukul 16.20 WIB bertengger di level US$ 80.129 melemah 1,54% secara harian dan 2% sepekan terakhir. Tapi berdasarkan data internal pasar FLOQ pada 29 Oktober 2026, Bitcoin setelah pengumuman tersebut sempat turun ke kisatan US$ 79.700.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis berpandangan, keputusan mempertahankan suku bunga belum cukup untuk menjadi katalis positif bagi pasar kripto. Pasalnya, investor masih menghadapi ketidakpastian terkait inflasi dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Baca Juga: Bitcoin Bertahan di Atas US$ 80.000, tetapi Tren Bullish Belum Terjamin

Menurut Yudhono, pelaku pasar tidak hanya mencermati keputusan suku bunga saat ini, tetapi juga mempertimbangkan alasan di balik keputusan tersebut dan prospek kebijakan The Fed ke depan.

Bagi pasar kripto, kondisi ini berpotensi mempertahankan volatilitas harga karena investor terus menyesuaikan ekspektasi terhadap suku bunga dan likuiditas global.

“Hal yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan tersebut, yakni inflasi masih tinggi dan The Fed belum memiliki cukup keyakinan untuk menentukan langkah berikutnya. Bagi pasar kripto, kondisi ini berarti volatilitas masih berpotensi berlanjut karena investor akan terus menyesuaikan ekspektasi terhadap suku bunga dan likuiditas global,” kata Yudho dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Pergerakan Bitcoin setelah pengumuman FOMC memperlihatkan bahwa keputusan menahan suku bunga tidak otomatis memicu penguatan aset kripto. Pergerakan ini menunjukkan bahwa respons pasar tidak hanya ditentukan oleh keputusan suku bunga, tetapi juga oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter berikutnya, kondisi geopolitik, dan perkembangan ekonomi AS.

Yudhono mengatakan, arah harga Bitcoin dan aset kripto lainnya dalam jangka pendek akan dipengaruhi oleh data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta sinyal kebijakan The Fed menjelang akhir tahun.

Baca Juga: Bitcoin Gagal Bertahan Dekati US$ 85.000, Arus Dana ETF Jadi Perhatian

Jika data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda, sentimen pasar berpeluang membaik. Sebaliknya, inflasi yang bertahan tinggi dan membuka ruang bagi kenaikan suku bunga lanjutan dapat menambah tekanan terhadap aset berisiko.

Ketidakpastian kebijakan moneter AS juga terlihat dari ekspektasi pasar terhadap pertemuan FOMC berikutnya pada 8-9 Desember 2026.

Data pasar prediksi Polymarket yang dipantau pada 29 Oktober menunjukkan probabilitas sekitar 77% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember. Sementara itu, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga berada di sekitar 20%.

Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pelaku pasar pada saat pengamatan dan dapat berubah mengikuti perkembangan data ekonomi. Dengan demikian, probabilitas tersebut bukan kepastian bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.

Ke depan, investor akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS, terutama inflasi, aktivitas ekonomi, dan kondisi pasar tenaga kerja, untuk memperkirakan arah kebijakan moneter.

“Ke depan, pasar akan semakin bergantung pada data dan bukan semata-mata pada ekspektasi pemangkasan suku bunga," tandasnya.

Yudhono menilai, pelaku pasar perlu memperhitungkan berbagai kemungkinan, baik ketika inflasi mulai mereda maupun ketika tekanan harga bertahan lebih lama. Pengelolaan risiko juga menjadi penting mengingat harga aset kripto dapat bergerak tajam mengikuti perubahan sentimen global.

Baca Juga: Harga Bitcoin Terkoreksi Lagi, Investor Wajib Cermati Tiga Sentimen Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×