kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.185   38,00   0,21%
  • IDX 5.266   -106,96   -1,99%
  • KOMPAS100 682   -13,68   -1,97%
  • LQ45 533   -9,14   -1,69%
  • ISSI 179   -4,42   -2,41%
  • IDX30 300   -4,55   -1,49%
  • IDXHIDIV20 399   -1,83   -0,46%
  • IDX80 79   -1,55   -1,93%
  • IDXV30 111   -0,19   -0,17%
  • IDXQ30 101   -0,86   -0,84%

Kinerja SIDO Tertekan hingga Kuartal III-2026, Simak Rekomendasi dan Prospeknya


Selasa, 27 Oktober 2026 / 15:40 WIB
Kinerja SIDO Tertekan hingga Kuartal III-2026, Simak Rekomendasi dan Prospeknya
ILUSTRASI. Kinerja SIDO turun hingga kuartal III-2026. Analis menyoroti prospek pemulihan 2027 dan merekomendasikan investor wait and see. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pemulihan kinerja PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masih dibayangi sejumlah tantangan.

Pelemahan daya beli masyarakat, normalisasi persediaan distributor, serta tekanan biaya menjadi faktor yang perlu dicermati investor setelah pendapatan dan laba bersih emiten jamu tersebut mengalami penurunan hingga kuartal III-2026.

Hingga kuartal III-2026, pendapatan SIDO tercatat turun 8,42% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 2,5 triliun. Sementara itu, laba bersih perusahaan merosot lebih dalam, yakni 24,37% yoy menjadi Rp 619,1 miliar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penurunan pendapatan tersebut mencerminkan tantangan perusahaan dalam menjaga pertumbuhan bisnis di tengah dinamika pasar.

Baca Juga: Laba Bersih Sampoerna (HMSP) Melonjak 44,42% hingga Kuartal III-2026

Menurut Nafan, tekanan kinerja SIDO dapat dipengaruhi oleh normalisasi persediaan produk di tingkat distributor, daya beli masyarakat, serta efektivitas distribusi dan pemasaran. Pergerakan biaya bahan baku dan beban operasional juga perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi margin keuntungan.

Penurunan laba bersih yang lebih dalam dibandingkan pendapatan turut mengindikasikan adanya tekanan terhadap profitabilitas perusahaan.

Hingga akhir 2026, Nafan memperkirakan kinerja SIDO masih menghadapi tantangan. Meski demikian, peluang perbaikan tetap terbuka seiring normalisasi persediaan distributor dan pemulihan penjualan.

Sementara itu, prospek pemulihan pendapatan dan laba bersih pada 2027 dinilai relatif terbuka apabila permintaan konsumen tetap terjaga, distribusi kembali berjalan normal, serta produk-produk baru mampu memberikan kontribusi lebih besar.

“Untuk memperbaiki kinerja, SIDO perlu memprioritaskan pemulihan penjualan melalui optimalisasi distribusi dan pengelolaan persediaan yang lebih akurat agar tidak terjadi penumpukan stok maupun kekurangan produk di pasar. Perusahaan juga perlu memperkuat inovasi produk, khususnya pada segmen herbal, suplemen kesehatan, makanan dan minuman, serta produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen muda. Ekspansi pasar ekspor perlu dioptimalkan untuk memperluas sumber pertumbuhan pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik,” ujar Nafan kepada Kontan (27/10/2026).

Dari sisi profitabilitas, Nafan menilai efisiensi biaya produksi, pengendalian beban pemasaran, digitalisasi rantai pasok, serta peningkatan produktivitas operasional menjadi langkah penting untuk menjaga margin laba dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang.

Sejumlah sentimen positif juga berpotensi mendukung pemulihan kinerja SIDO. Faktor tersebut meliputi normalisasi persediaan distributor yang membuka peluang peningkatan penjualan, kekuatan merek unggulan seperti Tolak Angin, inovasi produk baru, serta ekspansi ekspor ke pasar potensial.

Baca Juga: OJK Catat Ratusan Ribu Laporan Penipuan, Investor Kripto Diminta Waspada

Apabila laporan keuangan berikutnya menunjukkan perbaikan pendapatan, margin laba, dan arus kas operasional, kepercayaan investor terhadap prospek pemulihan perusahaan berpeluang meningkat.

Di sisi lain, investor perlu mencermati sejumlah risiko, antara lain pelemahan daya beli masyarakat, pemulihan penjualan yang lebih lambat dari perkiraan, kenaikan biaya bahan baku dan distribusi, serta persaingan yang semakin ketat di industri produk kesehatan dan konsumsi.

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan pemulihan laba berjalan lebih lambat dibandingkan pemulihan pendapatan, terutama apabila beban operasional masih meningkat.

Nafan mengatakan, pergerakan saham SIDO selanjutnya akan bergantung pada kemampuan perusahaan merealisasikan pemulihan kinerja, valuasi saham, prospek pembagian dividen, serta kondisi pasar saham secara keseluruhan.

Oleh karena itu, pertumbuhan laba per saham, margin keuntungan, dan valuasi menjadi sejumlah indikator penting yang perlu dipertimbangkan investor dalam mengambil keputusan investasi.

Terkait rekomendasi investasi, Nafan menyarankan investor untuk bersikap wait and see terhadap saham SIDO di tengah tekanan kinerja perusahaan.

Prospek Saham SIDO pada 2027

Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai tekanan kinerja SIDO terutama dipengaruhi oleh normalisasi persediaan distributor yang berlangsung pada semester I-2026. Kondisi tersebut berdampak terhadap penjualan produk herbal dan suplemen.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Turun ke Rp 18.156 Per Dolar AS Hari Ini (27/10), Terlemah Sejak Juni

Selain itu, perubahan bauran produk serta tekanan biaya turut membebani margin keuntungan perusahaan.

Meski demikian, Alrich menyebut proses normalisasi persediaan telah berakhir pada Mei 2026. Dengan begitu, penjualan SIDO diharapkan berangsur pulih pada semester II-2026.

Untuk keseluruhan 2026, manajemen memperkirakan pendapatan SIDO berpotensi turun sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

Adapun prospek kinerja pada 2027 akan bergantung pada pemulihan permintaan produk herbal, normalisasi distribusi, serta kontribusi produk makanan dan minuman dan pasar ekspor. Kendati demikian, pemulihan tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pertumbuhan penjualan dan perbaikan margin dalam laporan keuangan berikutnya.

“Dari sisi strategi, SIDO perlu menjaga efektivitas distribusi, memperkuat pemasaran dan inovasi produk, mengoptimalkan bauran produk yang memiliki margin lebih baik, serta mengendalikan biaya produksi dan distribusi. Merek yang kuat dan jaringan distribusi yang luas menjadi modal untuk mendukung pemulihan, tetapi perusahaan tetap menghadapi risiko pelemahan daya beli, persaingan, serta kenaikan biaya bahan baku dan kemasan,” ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).

Terkait rekomendasi investasi, Alrich juga menyarankan investor untuk bersikap wait and see terhadap saham SIDO. Pasalnya, kondisi pasar saham masih bergejolak atau volatile.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×