Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga emiten Grup Salim melakukan pembelian kembali alias buyback saham dengan total nilai Rp 2,25 triliun. Aksi ini dinilai bisa menjadi katalis untuk kinerja ketiga emiten tersebut.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) berencana melakukan buyback saham dengan total nilai maksimal masing-masing Rp 750 miliar.
Buyback saham ketiganya masing-masing berlangsung dari tanggal 26 Oktober 2026 hingga 31 Desember 2026.
INDF, ICBP, dan LSIP masing-masing akan menganggarkan sejumlah dana yang berasal dari kas internal perseroan dengan jumlah maksimum pembelian sebanyak-banyaknya sebesar Rp 750 miliar.
Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Level Rp 18.135 per Dolar AS, Premi Risiko Indonesia Meninggi
“Jumlah tersebut belum termasuk biaya transaksi, biaya perantara perdagangan dan biaya lainnya yang terkait rencana pembelian kembali saham,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi tanggal 23 Oktober 2026.
Manajemen bilang, jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak lebih dari 20% dari modal disetor masing-masing emiten, dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan free float yang berlaku.
Pelaksanaan rencana pembelian kembali saham itu diakui tidak akan menyebabkan penurunan pendapatan para emiten atau memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usahanya.
Lebih lanjut, rencana pembelian kembali saham akan menyebabkan pengalihan aset dari semula berupa kas menjadi saham treasuri.
“Perseroan telah memiliki tingkat permodalan dan arus kas yang memadai untuk mendukung inisiatif dan kegiatan usahanya, dan pelaksanaan rencana pembelian kembali saham diperkirakan tidak berdampak negatif terhadap posisi keuangan,” tuturnya.
Melansir RTI, harga saham INDF ada di level Rp 6.675 per saham pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Senin (26/10). ICBP ada di level Rp 5.975 per saham dan LSIP Rp 1.455 per saham.
Baca Juga: Petrosea (PTRO) Beli Kapal Rp 5,46 Miliar dari Perusahaan Afiliasi
Sejak awal tahun, saham INDF dan ICBP masing-masing sudah turun 1,48% dan 27,13% year to date (YTD). Sementara, saham LSIP naik 21,76% YTD.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan melihat, rencana buyback INDF, ICBP dan LSIP dengan total dana Rp2,25 triliun merupakan langkah yang cukup positif. Terutama, di tengah kondisi pasar yang masih volatil dan harga ketiga saham tersebut sudah mengalami koreksi cukup dalam.
Dalam jangka pendek, buyback berpotensi memberikan tambahan permintaan sekaligus menahan tekanan jual agar harga saham tidak turun terlalu dalam.
“Namun bukan berarti harga akan langsung berbalik naik, karena arah pergerakannya tetap akan dipengaruhi kondisi pasar dan fundamental masing-masing perusahaan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (26/10/2026).
Dari sisi free float, hal tersebut belum menjadi masalah yang signifikan. INDF dan LSIP memiliki free float yang relatif besar, sementara ICBP memang lebih terbatas di sekitar 19,4%.
Baca Juga: Tensi Geopolitik Mengerek Harga Minyak, Simak Proyeksi WTI dan Brent
Dengan estimasi jumlah saham yang dapat dibeli menggunakan anggaran tersebut mengacu pada harga saham per hari ini, ketiganya diperkirakan masih memenuhi ketentuan minimum free float yang berlaku.
Terkait kondisi keuangan, aksi buyback ini belum berpotensi mengganggu likuiditas secara material.
Dana yang digunakan berasal dari kas internal, sementara posisi kas INDF per semester I 2026 secara konsolidasi mencapai sekitar Rp54 triliun. Lalu, kas ICBP sebesar Rp33,5 triliun dan LSIP Rp8,37 triliun per Juni 2026.
Alhasil, kebutuhan buyback masih relatif terkendali, meskipun realisasinya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan operasional dan investasi masing-masing perusahaan.
Lebih lanjut, dampak buyback terhadap laba operasional sebenarnya tidak langsung signifikan, tetapi dapat meningkatkan earnings per share karena jumlah saham beredar berkurang.
“Dampak utamanya lebih kepada stabilisasi harga saham, optimalisasi struktur modal dan peningkatan kepercayaan investor,” ungkapnya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, rencana buyback ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi investor karena menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga nilai pemegang saham.
Dari sisi perusahaan, buyback dapat menjadi peluang untuk membeli kembali saham pada harga yang dinilai menarik. Apabila saham tersebut kemudian dijual kembali pada harga yang lebih tinggi, perusahaan juga berpotensi memperoleh keuntungan modal (capital gain).
Dari sisi valuasi, pengurangan jumlah saham beredar berpotensi meningkatkan laba per saham (earnings per share/EPS), dengan asumsi laba bersih tetap terjaga.
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 1,22% di Senin (26/10), Begini Proyeksi IHSG Dalam Sepekan
“Hal ini dapat membuat valuasi saham terlihat lebih menarik dan berpotensi mendukung pergerakan harga saham, meskipun realisasinya tetap bergantung pada kondisi pasar dan kinerja fundamental perusahaan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (26/10/2026).
Dari sisi free float, ketiga emiten masih memiliki ruang yang relatif memadai berdasarkan data yang tersedia. LSIP memiliki free float sekitar 40,26%, INDF 48,24%, dan ICBP 19,47%.
Sementara itu, dampak terhadap arus kas juga cukup minim. Berdasarkan laporan keuangan kuartal II 2026, LSIP memiliki kas setara kas sebanyak Rp 8,3 triliun. Sedangkan INDF memiliki kas setara kas sebanyak Rp 33,5 triliun, serta INDF memiliki kas setara kas sebanyak Rp 54,1 triliun.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, aksi ini menarik karena dilakukan saat valuasi tertekan dan menjadi sinyal manajemen bahwa harga saham di bawah nilai wajarnya.
Untuk INDF dan ICBP, nilai anggaran buyback itu relatif kecil terhadap kapitalisasi pasar, sehingga dampaknya ke EPS terbatas. INDF dari Rp 538 menjadi Rp 545 dan ICBP dari Rp 317 menjadi Rp 321, atau sekitar 1,3%.
Sementara, untuk LSIP, nilai Rp 750 miliar jauh lebih besar relatif terhadap kapitalisasi pasarnya, sehingga dampak ke EPS dan sinyalnya lebih kuat. Ini tercermin dari kenaikan saham sekitar 17,6% dalam sepekan.
Buyback dibatasi maksimal 20% modal disetor dan wajib memperhatikan ketentuan free float, sehingga dengan skala tersebut seharusnya tidak ada risiko pelanggaran batas free float.
“Dari sisi arus kas, ketiganya memiliki posisi kas yang kuat, terutama LSIP dengan neraca tanpa utang, sehingga buyback tidak mengganggu operasional maupun kemampuan membayar dividen,” tuturnya.
Prospek kinerja ketiga emiten Grup Salim itu hingga akhir 2026 dan di 2027 diperkirakan masih cukup positif.
Ekky mengatakan, untuk INDF dan ICBP pendorongnya terutama karena bisnisnya relatif defensif dan memiliki brand serta jaringan distribusi yang kuat.
Pada semester I, pendapatan INDF masih tumbuh sekitar 9%, sedangkan ICBP tumbuh 11%. Namun laba bersih keduanya masih menghadapi tekanan dari rugi selisih kurs akibat pelemahan rupiah.
Memasuki 2027, peluang pertumbuhan masih terbuka apabila daya beli masyarakat membaik, rupiah mulai stabil dan tekanan biaya bahan baku mereda.
Risiko utama yang mempengaruhi kinerja INDF dan ICBP masih berasal dari harga gandum, minyak nabati, biaya energi dan logistik, serta kemampuan perusahaan mempertahankan margin ketika konsumen masih cukup sensitif terhadap harga.
Sementara untuk LSIP, prospeknya cukup menarik karena harga CPO masih berpotensi bertahan pada level relatif tinggi. Permintaan biodiesel serta risiko penurunan pasokan akibat kondisi cuaca dapat memberikan support terhadap harga CPO hingga 2027.
Kinerja semester I LSIP juga cukup baik, dengan pendapatan tumbuh 16% dan laba bersih naik 25% YoY.
Namun LSIP tetap menghadapi risiko dari penurunan produktivitas akibat El Niño, karhutla, kenaikan biaya produksi, serta perubahan kebijakan ekspor dan biodiesel.
“Meskipun harga CPO berpotensi meningkat, pertumbuhan laba tetap akan bergantung pada kemampuan menjaga volume produksi,” katanya.
Imam berpandangan, prospek ICBP masih ditopang oleh pertumbuhan penjualan yang kuat, terutama dari segmen mi instan dan produk susu. Penjualan Juli-Agustus 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 11% YoY.
Pertumbuhan juga didukung ekspansi pasar luar negeri, dengan penjualan internasional pada semester I 2026 meningkat 21,9% YoY, serta kontribusi bisnis Pinehill di kawasan Timur Tengah.
Namun, tantangan utama ICBP berasal dari kenaikan biaya bahan baku. Harga gandum domestik dilaporkan meningkat 5%-6% sejak awal tahun, sedangkan harga rata-rata CPO naik 12,4%.
“Kedua komoditas tersebut berkontribusi sekitar 45% terhadap harga pokok penjualan ICBP, sehingga kenaikannya berpotensi menekan margin apabila tidak diimbangi penyesuaian harga jual atau efisiensi biaya,” ungkapnya.
Untuk tahun 2026, proyeksi pertumbuhan penjualan direvisi menjadi 8,4% YoY, dari sebelumnya 4,7% YoY. Namun, proyeksi margin kotor diturunkan menjadi 34,3% pada 2026 dan 34,8% pada 2027.
Estimasi laba inti juga direvisi turun masing-masing 4,3% dan 3,3%.
Dengan demikian, pertumbuhan penjualan dan ekspansi pasar internasional menjadi katalis positif, sedangkan kenaikan biaya bahan baku masih menjadi risiko utama.
“Hingga 2027, kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan penjualan sekaligus memutihkan margin akan menjadi faktor penting bagi kinerja saham ICBP,” tuturnya.
Untuk LSIP, prospeknya dipengaruhi oleh pergerakan harga CPO, implementasi program biodiesel B50, serta produktivitas perkebunan. Harga minyak mentah dilaporkan meningkat sekitar 6% sejak 30 Agustus 2026, sementara harga CPO belum sepenuhnya mencerminkan kenaikan tersebut.
“Apabila harga minyak mentah bertahan tinggi, harga CPO berpotensi memperoleh dukungan dari meningkatnya daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














