Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026). Ketidakpastian konflik di Timur Tengah dan sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi sentimen yang dicermati investor pekan ini.
Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,30% ke level Rp 18.135 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 18.116 per dolar AS, turun dari Rp 18.069 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026).
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, kenaikan harga minyak di tengah antisipasi aksi militer AS dan Israel turut menekan rupiah. Tekanan serupa juga terlihat pada sejumlah mata uang lain yang sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham AMRT, UNTR, dan UNVR untuk Perdagangan Selasa (27/10)
“Rupiah dan mata uang yang sensitif terhadap harga minyak dunia seperti rupee India dan peso Filipina melemah cukup tajam terhadap dolar AS di tengah kenaikan harga minyak dunia oleh antisipasi aksi militer oleh AS dan Israel. Sentimen risk-off di pasar ekuitas dan outflow besar dana asing yang berkelanjutan juga membebani rupiah,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (26/10/2026).
Mengutip Trading Economics pada Senin (26/10/2026) pukul 17.57 WIB, pasangan USD/INR berada di level 95,42, naik 0,52% secara harian. Adapun USD/PHP berada di level 64,03, naik 1,66% secara harian. Kenaikan kedua pasangan mata uang tersebut menunjukkan rupee India dan peso Filipina melemah terhadap dolar AS.
Di pasar minyak, harga sempat turun mendekati US$ 101 per barel pada Senin, setelah mundur dari level tertinggi belakangan ini. Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk potensi berlanjutnya serangan terhadap Iran. Jika konflik kembali memanas, pasokan energi dari kawasan tersebut berisiko terganggu.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan sejumlah agenda ekonomi AS pekan ini, mulai dari rapat Federal Open Market Committee (FOMC), data produk domestik bruto (PDB), hingga inflasi personal consumption expenditures (PCE). Data-data tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Baca Juga: Waspada! Meski Harga Turun, Gangguan Jalur Logistik Bisa Genjot Minyak ke US$ 140
Lukman bilang, hasil pemilu legislatif di Israel juga akan dicermati investor. Sementara itu, tidak ada data maupun agenda ekonomi domestik yang menjadi perhatian utama pasar pekan ini.
“Sepekan ini investor menantikan banyak agenda dan data ekonomi penting yang di antaranya FOMC, PDB dan inflasi PCE AS. Investor juga menantikan hasil pemilu legislatif di Israel. Tidak ada data maupun agenda dari domestik pekan ini,” jelas Lukman.
Untuk perdagangan Selasa (27/10/2026), Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 18.100 hingga Rp 18.200 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














