Penulis: Bimo Adi Kresnomurti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Intip profil emiten BTPS yang segera buyback saham Rp1 Triliun. BTPS mengumumkan adanya rencana buyback saham mulai 14 Oktober 2026.
PT Bank BTPN Syariah Tbk dengan kode saham BTPS merupakan bank umum syariah yang berfokus melayani masyarakat inklusi, terutama perempuan prasejahtera produktif dan pelaku usaha ultra mikro.
Perusahaan menyediakan layanan keuangan berbasis syariah dengan pendekatan pendampingan nasabah untuk mendukung pengembangan usaha dan kesejahteraan keluarga.
Baca Juga: ASII Siap Buyback Saham Rp8 Triliun: Intip Profil Emiten hingga Kinerja Terbarunya
BTPS Siapkan Buyback Saham hingga Rp1 Triliun
Selain kinerja keuangan, perhatian pasar tertuju pada rencana pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp1 triliun. Berdasarkan laporan BEI 13 Oktober 2026, BTPN Syariah menyetujui rencana tersebut melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Rencana tersebut mencakup pembelian kembali saham hingga maksimal 10% dari modal ditempatkan perusahaan. Dana buyback direncanakan berasal dari ekuitas perseroan, dengan pelaksanaan yang mempertimbangkan kebutuhan bisnis dan ketentuan yang berlaku.
Manajemen menyebut langkah tersebut bertujuan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, sekaligus menunjukkan keyakinan terhadap fundamental perusahaan.
Mengutip data IPOT, harga saham BTPS telah naik ke Rp1.015/saham atau menghijau 5,73% selama sepekan terakhir.
Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi mengenai profil saham perbankan syariah ini.
Baca Juga: Segera Buyback Saham Rp1,383 T, Intip Profil Emiten MBMA dan Kinerja Terkini
Lini Bisnis BTPN Syariah
Kegiatan usaha BTPN Syariah berpusat pada layanan perbankan syariah dan pemberdayaan masyarakat. Berikut beberapa lini bisnis utamanya.
1. Pembiayaan usaha ultra mikro
BTPN Syariah menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat prasejahtera produktif, khususnya perempuan yang menjalankan atau mengembangkan usaha kecil. Pembiayaan menjadi salah satu sumber utama pendapatan bank.
2. Pembiayaan berbasis akad syariah
Perseroan menggunakan akad yang sesuai dengan prinsip perbankan syariah, termasuk murabahah dan musyarakah. Murabahah merupakan transaksi jual beli dengan margin yang disepakati, sedangkan musyarakah merupakan bentuk kerja sama usaha dengan penyertaan modal para pihak.
3. Penghimpunan dana masyarakat
Bank menghimpun dana melalui produk simpanan syariah, termasuk tabungan dan deposito dengan akad yang sesuai ketentuan perbankan syariah.
4. Pendampingan dan pemberdayaan nasabah
Selain menyediakan akses pembiayaan, BTPN Syariah menjalankan pendekatan pendampingan untuk membantu nasabah mengembangkan usaha, mengelola keuangan, dan meningkatkan kemampuan berusaha.
Baca Juga: BUVA Right Issue Rp1,54 Triliun, Intip Profil Emiten Properti dan Real Estate Ini
Manajemen BTPN Syariah Terbaru
Berdasarkan informasi resmi perusahaan, jajaran pengurus BTPN Syariah untuk periode 2026–2029 mencakup sejumlah nama berikut.
| Jabatan | Nama |
|---|---|
| Komisaris Utama/Independen | Mulya Effendi Siregar |
| Komisaris Independen | Dewie Pelitawati |
| Komisaris | Ongki Wandiati Dana |
| Komisaris | Sendiaty Sondy |
| Direktur Kepatuhan dan Sekretaris Perusahaan | Arief Ismail |
Mulya Effendi Siregar ditetapkan sebagai Komisaris Utama dalam RUPS Tahunan pada April 2026. Sementara itu, Arief Ismail menjadi salah satu perwakilan manajemen yang menyampaikan penjelasan perusahaan mengenai rencana pembelian kembali saham pada Oktober 2026.
Baca Juga: FORU Right Issue Rp27,1 Triliun: Intip Profil Emiten, Lini Usaha, hingga Kinerjanya
Kinerja Keuangan BTPS Semester I-2026
Berdasarkan laporan BEI, untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026, BTPN Syariah mencatatkan pertumbuhan laba bersih, aset, dan pembiayaan.
Namun, sejumlah komponen pendapatan dan beban operasional menunjukkan perkembangan yang perlu diperhatikan.
Berikut ringkasan kinerja keuangan BTPS pada semester pertama 2026.
| Indikator | Kinerja Semester I-2026 |
|---|---|
| Laba bersih | Rp655,49 miliar |
| Total aset | Rp23,30 triliun |
| Pertumbuhan aset tahunan | 8% |
| Penyaluran pembiayaan | Sekitar Rp11 triliun |
| Pertumbuhan pembiayaan tahunan | 9% |
| Return on Assets (ROA) | 7,2% |
| Capital Adequacy Ratio (CAR) | 58,7% |
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perseroan masih mencatatkan profitabilitas dan memiliki rasio permodalan yang kuat.
Baca Juga: Saham GIAA Melesat, Intip Profil Emiten hingga Kinerja Keuangan Terbarunya
Dari sisi laba, perolehan Rp655,49 miliar meningkat sekitar 1,8% dibandingkan Rp643,85 miliar pada semester I-2025. Pertumbuhan laba tersebut relatif terbatas karena pendapatan margin murabahah dan pendapatan operasional lainnya mengalami penurunan.
Pendapatan margin murabahah tercatat sekitar Rp2,2 triliun, turun 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, beban pencadangan kerugian pembiayaan menurun sehingga membantu menopang laba operasional.
Dari sisi kualitas pembiayaan, rasio pembiayaan bermasalah bruto atau NPF bruto turun menjadi 2,74% dari 2,92% pada akhir 2025. NPF neto tercatat sebesar 0,01%. Kondisi tersebut menunjukkan perbaikan kualitas pembiayaan pada periode pelaporan, meskipun risiko pembiayaan tetap perlu dipantau.
Dengan demikian, penilaian terhadap BTPS sebaiknya tidak hanya berfokus pada besarnya anggaran pembelian kembali saham, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Tonton: Saham GOTO Kembali Bergerak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














