Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga emiten yang terafiliasi dengan Grup Salim, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), kompak menyiapkan dana hingga Rp 750 miliar untuk pembelian kembali saham atau buyback.
Secara total, ketiganya mengalokasikan dana maksimal Rp 2,25 triliun untuk menyerap saham di pasar selama periode 26 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Semenjak rencana buyback tersebut diumumkan pada Jumat (23/10/2026) pergerakan saham ketiga emiten menunjukkan tren yang beragam. Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), saham ICBP turun 0,42% ke level Rp 5.975 per saham. Sebaliknya, saham INDF naik 1,89% menjadi Rp 6.750 per saham, sedangkan LSIP menguat 1,73% ke level Rp 1.470 per saham.
Baca Juga: BUVA Terbitkan Saham Baru, 1,87 Miliar HMETD Masih Belum Dieksekusi
Dalam periode lima hari perdagangan, saham LSIP mencatatkan kenaikan paling tinggi, yakni 17,6%. Saham INDF menguat 3,85%, sementara ICBP terkoreksi 0,42%.
Ketiga perusahaan akan menggunakan kas internal untuk mendanai buyback. Masing-masing menetapkan nilai maksimal pembelian sebesar Rp 750 miliar, di luar biaya transaksi, biaya perantara perdagangan, dan biaya lain yang berkaitan dengan pelaksanaan aksi korporasi.
Ketiganya menyatakan pembelian saham akan dilakukan pada harga yang dinilai baik dan wajar dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.
Ketiga emiten menyatakan buyback tidak akan memberikan dampak negatif material terhadap kegiatan usaha maupun posisi keuangan perusahaan. Manajemen masing-masing perusahaan menilai tingkat permodalan dan arus kas masih memadai untuk mendukung operasional serta berbagai inisiatif bisnis ke depan.
Secara akuntansi, buyback akan mengalihkan sebagian aset perusahaan dari kas menjadi saham treasuri. Akibatnya, total aset dan ekuitas dalam proforma keuangan ketiga emiten menyusut sesuai besarnya dana yang digunakan untuk pembelian kembali saham.
Namun, berdasarkan proforma yang disampaikan, laba bersih masing-masing perusahaan tidak berubah, sedangkan EPS meningkat. Kenaikan EPS tersebut mencerminkan dampak berkurangnya jumlah saham yang menjadi dasar perhitungan laba per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














