Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1% pada perdagangan sesi pertama Senin (26/10/2026).
Pelemahan bursa domestik terjadi di tengah pergerakan pasar saham Asia yang cenderung hati-hati dan langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperketat pengawasan perdagangan saham menyusul sorotan penyedia indeks global MSCI terhadap transparansi pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Berpotensi Pulih, Ini Level Kunci yang Dicermati
Mengutip data RTI, IHSG turun 54,288 poin atau 1% ke level 5.384,970. Sepanjang sesi pertama, sebanyak 474 saham melemah, 189 saham menguat, dan 128 saham bergerak stagnan.
Total volume perdagangan mencapai 18,6 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,6 triliun.
Sebanyak 11 indeks sektoral bergerak di zona merah. Tiga sektor dengan pelemahan terdalam adalah IDX Infrastructure yang turun 1,59%, disusul IDX Industrial sebesar 1,54% dan IDX Healthcare sebesar 1,25%.
Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan ke Rp 18.117 Per Dolar AS pada Tengah Hari Ini (26/10)
Di jajaran saham anggota indeks LQ45, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menjadi salah satu saham dengan penurunan terdalam, yakni 5,48% ke level Rp 2.070.
Berikutnya, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah 4,48% ke Rp 1.065 dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 4,26% ke Rp 360.
Namun, sejumlah saham LQ45 masih mampu menguat. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) naik 4,31% ke Rp 1.090, diikuti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang menguat 2,88% ke Rp 1.430. Sementara itu, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 1,79% ke Rp 1.425.
Tekanan di pasar domestik sejalan dengan pergerakan bursa Asia yang cenderung melemah. Investor mencermati perkembangan geopolitik, agenda pertemuan sejumlah bank sentral, serta laporan keuangan perusahaan teknologi besar yang akan menjadi tolok ukur prospek bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga: Akan Buyback Saham, Red Planet Indonesia (PSKT) Siapkan Rp 5 Miliar
Mengutip Reuters, indeks Nikkei Jepang turun 0,5% setelah terkoreksi 4% sepanjang pekan lalu. Indeks utama Korea Selatan melemah 1,1%, sehingga penurunan sepanjang Oktober mendekati 20%.
Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,1% dan indeks saham unggulan China melemah 1%.
Pasar China juga mencermati dimulainya sidang pleno kelima Partai Komunis China di Beijing. Bursa saham China telah melemah selama 11 pekan berturut-turut di tengah kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan domestik, meskipun kinerja ekspor negara tersebut masih kuat.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent terkoreksi setelah melonjak mendekati level tertinggi dalam enam bulan pada pekan lalu.
Harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menekan harga minyak, meskipun risiko gangguan pasokan energi di Timur Tengah masih membayangi pasar.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati langkah BEI memperketat pengawasan untuk mencegah manipulasi perdagangan saham.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Global Digital (BELI), EBITDA Diproyeksi Positif Tahun Depan
Kebijakan ini menyusul peringatan MSCI yang menyoroti transparansi pasar modal Indonesia dan membuka kemungkinan penurunan status pasar Indonesia menjadi standalone market.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, bursa akan memperluas keanggotaan komite yang menyusun daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Komite tersebut akan melibatkan pihak independen, termasuk akademisi Indonesia dan F. Chapman Taylor sebagai perwakilan investor asing.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pengawasan transaksi dan meningkatkan transparansi pasar modal. Investor kini menanti efektivitas reformasi tersebut dalam merespons perhatian MSCI serta menjaga kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













