Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan di awal pekan seiring kombinasi tekanan geopolitik global dan potensi pembengkakan defisit neraca perdagangan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (24/7/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,15% ke level Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat (AS) dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.936.
Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp 17.973 per dolar AS.
Sentimen eksternal yang kian memanas diproyeksikan masih menjadi faktor penekan utama laju mata uang domestik pada perdagangan mendatang.
Baca Juga: Metropolitan Land (MTLA) Targetkan Kontribusi Recurring Income 30% ke Pendapatan 2026
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS pada Jumat (24/7/2026) dipicu oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang resmi memberlakukan tarif impor baru 10% hingga 12,5% terhadap 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, memanasnya konflik Timur Tengah pasca serangan kelompok Houthi terhadap dua tanker minyak Saudi serta penolakan proposal gencatan senjata oleh Iran turut mengerek harga minyak mentah.
"Eskalasi yang diperbarui membantu menaikkan harga minyak, sementara data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (26/7/2026).
Selain faktor gejolak geopolitik dan ketatnya kebijakan The Fed, hambatan pasokan minyak global akibat penghentian sementara terminal ekspor Kazakhstan turut memperberat kondisi pasar.
Dari dalam negeri, pembengkakan kebutuhan dolar AS untuk menutup defisit impor energi yang melebihi 1,5 juta barel per hari makin menguras ketahanan eksternal Indonesia.
Ibrahim bilang, kondisi ini mengancam kinerja ekonomi kuartal III-2026 seiring harga minyak yang melampaui target APBN-P sebesar US$ 83 per barel.
"Kenaikan akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari melebarnya defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026," tutur Ibrahim.
Tekanan makin nyata setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Baca Juga: Ketidakpastian Ekonomi Global dan Domestik Bayangi Peringkat Kredit Korporasi
Kondisi ini dipicu oleh lonjakan impor yang mencapai US$ 24,81 miliar atau naik 22,16% secara tahunan pada Mei 2026, yang didominasi oleh impor bahan baku dan penolong.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 melambat ke kisaran 5,4%, meski optimistis membaik pada semester II melalui penguatan likuiditas perekonomian.
Memasuki perdagangan Senin (27/7/2026), nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif, namun cenderung ditutup melemah pada rentang Rp 17.960–Rp 18.020 per dolar AS.
Ibrahim memperkirakan tekanan pasar valas akan membayangi sepanjang pekan depan dengan kisaran pergerakan yang lebih lebar.
"Sedangkan range untuk minggu depan rupiah diperkirakan di level Rp 17.880–Rp 18.250," kata Ibrahim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














