Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) belum mampu mendorong harga emas dan perak kembali ke tren bullish. Pasar masih dibayangi ekspektasi suku bunga tinggi, aksi ambil untung setelah reli sebelumnya, serta ketidakpastian prospek ekonomi global.
Melansir Trading Economics pada Rabu (9/9) pukul 17.28 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di kisaran US$ 4.392 per ons troi, naik 0,83% secara harian. Meski begitu, harga ini masih jauh lebih rendah ketimbang harga akhir bulan Agustus lalu yang sempat naik hingga US$ 4.684 pada 25 Agustus 2026.
Sama halnya dengan perak, saat ini diperdagangkan di kisaran US$ 66,2 per ons troi atau menguat 0,78$ secara harian. Tetapi harga hari ini juga cenderung melemah dibanding akhir bulan Agustus yang sempat menyentuh US$ 70 per ons troi.
Baca Juga: Harga Emas dan Perak Belum Kembali Bullish, Kenaikan Yield US Treasury Jadi Penahan
Analis komoditas dan founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, meski Indeks Dolar AS (DXY) berada di kisaran 98,7, pergerakan logam mulia masih menghadapi sejumlah tekanan.
Salah satunya berasal dari perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Sinyal hawkish dari petinggi The Fed, Kevin Warsh, dalam Jackson Hole Symposium membuat pasar memperkirakan suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama untuk meredam inflasi.
"Hal ini menaikkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil," kata Wahyu kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).
Selain faktor suku bunga, Wahyu melihat emas dan perak juga tengah mengalami aksi ambil untung teknikal setelah reli sebelumnya. Kondisi tersebut membuat kedua logam mulia memasuki fase koreksi dan konsolidasi di bawah area resistensi penting.
Untuk perak, pergerakannya cenderung lebih terbatas karena komoditas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai logam mulia, tetapi juga memiliki peran sebagai logam industri. Ketidakpastian terhadap prospek manufaktur global turut membatasi penguatan harga perak.
Dampak Kenaikan Harga Energi
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah menjadi sentimen yang cukup kompleks bagi logam mulia. Harga minyak yang menembus US$ 100 per barel pada Rabu (9/9) kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Menurut Wahyu, dalam jangka pendek kenaikan harga energi dapat menjadi tekanan bagi emas dan perak. Pasalnya, inflasi yang lebih persisten berpotensi membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Namun, dalam jangka menengah, kondisi tersebut justru dapat menjadi katalis bagi emas dan perak apabila inflasi tetap tinggi dan pertumbuhan ekonomi mulai melambat.
Baca Juga: Investor SR025 Tak Sekadar Kejar Imbal Hasil, Tenor Pendek Lebih Diminati
Wahyu menilai inflasi berbasis energi atau cost-push inflation pada akhirnya dapat kembali meningkatkan fungsi emas dan perak sebagai lindung nilai terhadap penurunan daya beli.
"Hal tersebut membatasi potensi penurunan harga yang dalam dan pada gilirannya dapat kembali memicu bullish jangka panjang, terutama ketika inflasi akhirnya memicu krisis ekonomi ataupun kenaikan harga komoditas termasuk logam mulia," jelasnya.
Wahyu memperkirakan harga emas dan perak hingga akhir 2026 masih berada dalam fase konsolidasi konstruktif dengan kecenderungan bullish. Dalam analisis teknikalnya, Wahyu melihat harga emas berpotensi telah membentuk titik bawah di sekitar US$ 3.943 per ons. Setelah itu, terdapat peluang pembalikan arah menuju bullish.
Ia memperkirakan emas berpotensi berkonsolidasi di kisaran US$ 4.000-US$ 4.600 per ons troi. Resistance terdekat berada di US$ 4.600, sedangkan resistance kuat berikutnya di US$ 4.900.
Sementara itu, perak dinilai memiliki peluang serupa, meski dengan tingkat volatilitas yang lebih tinggi.
Wahyu melihat harga perak berpotensi telah membentuk titik bawah di sekitar US$ 53,60 per ons. Harga berpeluang berkonsolidasi pada rentang US$ 58-US$ 71,30, dengan resistance berikutnya berada di US$ 85.
Untuk strategi investasi, Wahyu bilang dengan kondisi pasar saat ini investor jangka pendek memanfaatkan volatilitas dengan strategi buy on dips. Sementara bagi investor jangka menengah-panjang, koreksi harga dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap melalui strategi dollar-cost averaging (DCA).
Baca Juga: Kembali Bergejolak, Harga Minyak Brent Sudah Tembus US$ 100 Per Barel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














