Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap mata uang kawasan Asia semakin menguat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh level US$ 92 per barel.
Fenomena ini diperparah oleh kian tingginya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat.
Kombinasi kedua faktor tersebut sukses membuat mayoritas valuta asing Asia bertekuk lutut di hadapan dolar AS.
Baca Juga: IHSG Anjlok Tiga Hari Beruntun, Ini Saham Rekomendasi Analis dan Proyeksi Pekan Depan
Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (24/7/2026), Yen Jepang (USD/JPY) terdepresiasi hingga menembus level 163,78 per dolar AS. Sementara itu, Peso Filipina (USD/PHP) merosot ke level 61,82 per dolar AS, mendekati rekor terburuknya.
Kondisi rupiah juga tidak luput dari tekanan berat pasar keuangan global. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.963 per dolar AS.
Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp 17.973 per dolar AS.
Analis mata uang Wahyu Laksono menilai bahwa rupiah saat ini bergerak melemah signifikan di area Rp 17.956,5 per dolar AS, dengan level tertinggi 52 pekan sempat menyentuh Rp 18.197,5.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan berat pada mata uang emerging markets akibat kombinasi sentimen global.
Sikap hawkish The Fed mendorong imbal hasil Treasury AS tetap tinggi sehingga memicu capital outflow dari pasar berkembang.
"Kenaikan harga minyak WTI mendekati area US$ 90–US$ 92 per barel memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit) bagi negara-negara net-importir minyak di Asia," kata Wahyu kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).
Selain itu, melebarnya selisih suku bunga (interest rate differential) membuat memegang dolar AS jauh lebih menarik secara risk-adjusted return.
Baca Juga: Prospek Saham GIAA dan CMPP Melanjutkan Pemulihan hingga Akhir 2026
Kenaikan harga minyak hingga US$ 92 per barel memberikan pukulan ganda (double whammy) bagi perekonomian Asia melalui pengurasan cadangan devisa dan transmisi inflasi impor (imported inflation).
Kebutuhan valas untuk impor BBM melonjak drastis, sementara bank sentral harus menggelontorkan dolar AS dari cadangan devisa guna menstabilkan nilai tukar lokal.
Depresiasi mata uang yang berbarengan dengan tingginya harga komoditas impor memicu kenaikan biaya energi dan bahan baku manufaktur.
Hal ini berpotensi meningkatkan beban subsidi energi APBN atau menaikkan harga jual di tingkat konsumen (pass-through effect).
Di tengah tekanan makroekonomi global yang masif, beberapa mata uang kawasan dinilai memiliki ketahanan relatif yang lebih baik.
Dolar Singapura (SGD) dan Yuan China (CNY) menjadi valas yang paling resilien di kawasan Asia.
Otoritas Moneter Singapura (MAS) menggunakan nilai tukar (exchange rate band) sebagai instrumen utama kebijakan moneter, sehingga apresiasi bertahap SGD efektif meredam inflasi impor.
Sementara itu, Yuan China didukung oleh intervensi ketat Bank Sentral China (PBOC) melalui penetapan fixing rate harian serta cadangan devisa yang sangat besar.
Kejatuhan valuta asing beruntun ini berpotensi besar memaksa bank-bank sentral Asia menaikkan suku bunga acuan (defensive rate hike).
Baca Juga: Dapat Kontrak Triliunan, Intip Prospek Kinerja dan Saham Singaraja Putra (SINI)
Langkah penyesuaian suku bunga dilakukan untuk menjaga yield spread dan mempertahankan ketertarikan investor terhadap obligasi pemerintah daerah (sovereign bonds).
"Jika intervensi cadangan devisa mulai terbatas dan depresiasi valas dinilai mengancam stabilitas makroekonomi serta ekspektasi inflasi, langkah menaikkan suku bunga acuan menjadi pilihan inevitabel bagi bank sentral di kawasan Asia," ujar Wahyu.
Pergerakan nilai tukar USD/IDR pada kuartal III-2026 diproyeksikan berada dalam fase konsolidasi di area puncak (high-level consolidation).
Dalam skenario base case, rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.200 per dolar AS.
Bank Indonesia diproyeksikan melakukan intervensi aktif di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menahan volatilitas agar tidak menembus batas psikologis Rp 18.200.
Namun, risiko pelemahan lebih lanjut tetap terbuka jika sentimen pasar memburuk. "Jika harga minyak mentah melampaui US$ 100 per barel dan The Fed kembali memberikan sinyal pengetatan moneter tambahan, risiko lonjakan menuju rentang Rp 18.000 – Rp 18.500 per dolar AS dapat terbuka," tutup Wahyu.
Baca Juga: IHSG Melemah Tipis Dalam Sepekan, Dibayangi Tekanan Global dan Aksi Profit Taking
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














