kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Otot Rupiah Kian Perkasa, Ekonom Ingatkan Batas Bunga Tinggi dan Ongkos Jaga Kurs


Minggu, 19 Juli 2026 / 17:25 WIB
Otot Rupiah Kian Perkasa, Ekonom Ingatkan Batas Bunga Tinggi dan Ongkos Jaga Kurs
ILUSTRASI. Petugas menunjukkan uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah bergerak menguat ke bawah level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring terpangkasnya indeks dolar global, meski laju apresiasinya masih dibayangi oleh risiko volatilitas domestik.

Mengutip data Bloomberg pada akhir pekan, mata uang Garuda di pasar spot ditutup menguat ke kisaran Rp 17.921 per dolar AS setelah indeks dolar AS (DXY) di platform Trading Economics melandai ke level 100,765.

Namun, laju penguatan mata uang domestik ini dinilai belum akan berjalan berkelanjutan akibat tingginya permintaan valas di dalam negeri serta beban impor energi.

Baca Juga: Indeks Sektor Kesehatan Anjlok 29,57% di Sepanjang 2026, Peluang Rebound Terbuka

Kejatuhan indeks dolar global dalam jangka pendek terbukti baru menjadi faktor pendukung eksternal, bukan penentu utama pulihnya otot rupiah secara permanen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa pelemahan dolar akibat inflasi AS yang melandai sejauh ini masih sebatas koreksi karena pasar menanti kepastian suku bunga The Fed.

Menurutnya, daya dorong eksternal tersebut belum cukup kuat untuk membawa rupiah ke bawah Rp 17.500 jika tidak diimbangi dengan perbaikan pasokan devisa dari dalam negeri.

Yusuf juga mengingatkan bahwa ruang Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga demi membentengi kurs sudah semakin terbatas karena memicu biaya ekonomi yang mahal.

"Fokus berikutnya seharusnya bergeser pada peningkatan pasokan devisa melalui implementasi DHE SDA, menjaga kredibilitas fiskal agar kepercayaan investor tetap terpelihara, serta memperbaiki struktur ekspor dan mengurangi ketergantungan impor energi," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (17/6/2026).

Oleh sebab itu, otoritas moneter dan pemerintah diimbau untuk segera menggeser strategi stabilisasi dengan berfokus pada perbaikan sektor riil ketimbang terus menguras cadangan devisa.

Pasokan devisa dari sektor tata kelola komoditas dan ekspor bernilai tambah mendesak untuk diperkuat guna meredam sentimen negatif dari ketidakpastian geopolitik global.

Yusuf mengatakan bahwa di kuartal III-2026, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak fluktuatif pada rentang Rp17.700 hingga Rp18.200 per dolar AS dengan kecenderungan arah yang bergantung pada arus modal asing.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas Senin (20/7), Analis Rekomendasi Saham ADRO dan ITMG

"Perlu ditekankan perbedaan antara rupiah yang stabil karena ditopang suku bunga tinggi dan intervensi dengan rupiah yang benar-benar kuat karena ditopang fundamental ekonomi dan masuknya devisa," pungkas Yusuf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×