kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Rupiah Bergerak di Bawah Rp 18.000, Risiko Global & Domestik Hambat Rupiah Perkasa


Minggu, 19 Juli 2026 / 13:44 WIB
Rupiah Bergerak di Bawah Rp 18.000, Risiko Global & Domestik Hambat Rupiah Perkasa
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil menguat tipis di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring merosotnya indeks dolar global, meski laju apresiasinya cenderung tertahan oleh rentetan sentimen domestik serta tingginya risiko eksternal.

Mengacu pada data Bloomberg pada Jumat (17/7/2026), mata uang Garuda di pasar spot ditutup menguat 0,36% ke level Rp 17.921 per dolar AS.

Sementara itu, data Trading Economics mencatat rupiah bergerak di level Rp17.946 per dolar AS, atau terapresiasi sekitar 0,74% dalam sepekan terakhir.

Baca Juga: IHSG Kembali Dibayangi Penutupan Selat Hormuz, Saham Energi Berpotensi Curi Perhatian

Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ikut menunjukkan penguatan rupiah ke Rp 17.944 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya yang sempat tertahan di Rp 18.041 per dolar AS.

Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai rupiah saat ini mengalami efek lag dibandingkan pergerakan mata uang negara tetangga karena lebih didominasi oleh faktor internal ketimbang pergerakan murni dolar global.

Menurut Dipo, tekanan jual investor asing pada instrumen saham dan obligasi akibat isu tata kelola serta review indeks MSCI menjadi jangkar penahan bagi kebangkitan portofolio dalam negeri.

"Pelemahan dolar global memberi ruang napas, tapi faktor domestik (outflow asing, kebutuhan valas musiman, dan sentimen risk-off) masih kuat," ujar Dipo kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Senada, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, mengungkapkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terbebani defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 sebesar 1,1% PDB dan defisit perdagangan Mei senilai US$ 1,61 miliar akibat lonjakan impor migas.

"Level di bawah Rp18.000 dapat bertahan jika pasokan devisa ekspor membaik, investor asing kembali masuk ke SBN dan saham, serta konflik geopolitik mereda," jelas Syafruddin kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Guna memperkuat kurs ritel dan makro, Bank Indonesia diekspektasikan pasar akan bertindak hawkish dengan menaikkan kembali BI-Rate sebesar 25 basis poin pada Juli 2026 menuju level 5,75%.

Untuk jangka pendek, Dipo memproyeksikan mata uang Garuda akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.200 per dolar AS.

Baca Juga: IHSG Menguat 4,24% dalam Sepekan, Transaksi Harian BEI Melonjak 36,25%

Sementara itu, Syafruddin memprediksi rentang kuartal III-2026 berada di Rp17.800 hingga Rp18.400 per dolar AS, dengan kecenderungan risiko melemah menuju Rp18.300 di akhir September jika pasokan devisa perdagangan belum pulih tegak.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa otoritas moneter kini memikul beban biaya ekonomi yang kian membengkak bila terus mengandalkan intervensi modal, cadangan devisa dan suku bunga tinggi demi menstabilkan nilai tukar.

"Penguatan jenis kedua (ditopang fundamental ekonomi dan masuknya devisa) tentu jauh lebih sehat dan berkelanjutan," tutup Yusuf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×