Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan pada pasar keuangan Indonesia belum surut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 5.000-an bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada akhir perdagangan Selasa (3/5/2026), IHSG terkoreksi 4,11% atau turun 254,36 poin ke level 5.941,06. Sementara, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.967 per dolar AS atau melemah 0,70%.
Tekanan di pasar saham saat ini ditengarai kenaikan risk premium Indonesia dibanding penurunan fundamental emiten. Ini termasuk sentimen tekanan fiskal, ketidakpastian kebijakan hingga outlook negatif lembaga pemeringkat.
Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menyebut pelebaran earnings yield spread IHSG terhadap obligasi pemerintah menunjukkan investor kini meminta kompensasi risiko yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata historis.
Dalam risetnya, BRI Danareksa Sekuritas mencatat earnings yield spread IHSG terhadap obligasi pemerintah mencapai 242 basis poin (bps), jauh di atas rata-rata historis 11 tahun sebesar minus 31 bps.
Baca Juga: IHSG Ambruk 4,11% ke 5.941, Top Losers LQ45: AMMN, MDKA, DEWA, Rabu (3/6)
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan laba emiten belum menunjukkan pelemahan signifikan. Konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan laba 2026 sebesar 14%, sementara proyeksi BRI Danareksa berada di level 13,4%.
“Perubahan outlook S&P kemungkinan sudah tercermin di harga saham. Namun, hasil evaluasi MSCI masih menjadi perhatian pasar,” tulis Erindra dalam riset yang dirilis, Selasa (2/5).
Menurut Erindra, risiko revisi outlook S&P tidak serta merta berarti penurunan peringkat kredit. Bahkan jika terjadi penurunan satu tingkat, Indonesia masih berada pada kategori investment grade.
Meski begitu, evaluasi market accessibility MSCI dinilai masih menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen investor terhadap pasar saham Indonesia.
Memang koreksi pasar membuat valuasi sejumlah emiten menjadi lebih murah. Namun, di tengah berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar, investor tidak bisa serta merta mengandalkan indikator price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV).
Baca Juga: IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Revisi Outlook dari S&P Jadi Pemicu
Memang koreksi di pasar saham membuat valuasi emiten terdiskon, tetapi di berbagai sentimen negatif yang ada investor tidak bisa serta merta mengandalkan indikator price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV).
Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis mengatakan valuasi historis tetap relevan, tetapi harus dipadukan dengan penilaian terhadap risiko negara dan kondisi pasar saat ini.
Dia menyebut pelemahan rupiah, ketidakpastian arus modal asing, isu market accessibility hingga posisi Indonesia dalam indeks global turut memengaruhi persepsi investor terhadap pasar domestik.
Setali tiga uang, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan indikator valuasi historis masih relevan digunakan investo tetapi harus dibaca dalam konteks risk premium yang sedang tinggi.
Menurut dia, kenaikan yield obligasi dan pelemahan rupiah membuat discount rate yang digunakan investor ikut meningkat. Akibatnya, nilai wajar saham menjadi lebih rendah dibanding sebelumnya.
“Yang terjadi sekarang bukan cuma saham murah, tetapi risk premium re-rating struktural," kata Wafi kepada Kontan, Rabu (3/5).
Baca Juga: Risk Off Global dan Anjloknya IHSG Tekan Rupiah ke Rp 17.967 per Dolar AS
Wafi bilang posisi IHSG pada saat ini belum sepenuhnya mencerminkan seluruh risiko yang membayangi Indonesia. Dia menyebut ada tiga risiko utama yang masih menghantui.
Yakni, potensi perubahan rating sovereign, kemungkinan penurunan status Indonesia menjadi frontier market oleh MSCI dan risiko pelebaran defisit fiskal. Jika salah satu terjadi, Wafi memperkirakan IHSG akan menguji area 5.500 hingga 5.700.
Wafi menyarankan investor mencermati emiten yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS dan arus kas yang relatif stabil seperti MEDC, AADI, dan ANTM. Investor sebaiknya tidak melakukan bottom fishing di saham spekulatif.
Sementara, Alrich menyebut saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI masih menarik dicermati. Selain itu, saham defensif seperti TLKM, ICBP, dan ISAT juga dinilai mampu bertahan di tengah volatilitas pasar.
Baca Juga: IHSG Anjlok Rabu (3/6), Efek Pelemahan Rupiah dan Penyusutan Surplus Neraca Dagang
Meski peluang akumulasi mulai terbuka, Alrich menyarankan investor tetap menjaga sebagian porsi kas mengingat ketidakpastian pasar masih tinggi dan volatilitas berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













