kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Koreksi Saham AI Guncang Bursa Global, Begini Efeknya ke IHSG


Rabu, 22 Juli 2026 / 17:35 WIB
Koreksi Saham AI Guncang Bursa Global, Begini Efeknya ke IHSG
ILUSTRASI. Belakangan ini, investor global mulai meninggalkan saham-saham yang berkaitan dengan AI dengan sejumlah pasar saham terkoreksi (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Euforia pada teknologi akal imitasi alias Artificial intelligence (AI) secara global justru menjadi sentimen negatif bagi beberapa pasar saham global. Investor global mulai meninggalkan saham-saham yang berkaitan dengan AI. 

Pasar saham asal Korea Selatan, misalnya, yang paling terdampak dari aksi jual ini. Dalam sebulan terakhir, indeks KOSPI sudah anjlok 25,42%. Namun sepanjang tahun berjalan ini, KOSPI masih menguat 57,73%. 

Tekanan juga terjadi di pasar saham Taiwan. Dalam sebulan terakhir, TAIEX sudah turun 6,11%. Tak hanya pasar Asia, indeks Philadelphia Semiconductor asal Amerika Serikat (AS) terkoreksi 13,84% di periode yang sama. 

Tim Riset Phillip Sekuritas menjelaskan, investor saat ini sedang menilai kembali keberlanjutan permintaan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk pengembangan AI dalam jangka panjang

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Sikap BI dan Penguatan Dolar AS Jadi Perhatian Pasar

“Dan Korea Selatan sebagai produsen chip memori AI untuk pusat data, lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar,” tulis Tim Riset Phillip Sekuritas dalam catatannya yang dirilis, Selasa (21/7/2026). 

Tim Riset Phillip Sekuritas menyoroti selain dari valuasi yang sudah terlampau tinggi dan keberlanjutan pertumbuhan belanja modal AI, peluncuran Kimi K3 oleh perusahaan rintisan asal China juga menjadi sumber kekhawatiran tambahan bagi investor. 

“Dampaknya mirip dengan ketika DeepSeek mengguncang pasar dunia di awal 2025. Peluncuran model AI ini dipandang sebagai bukti lain bagaimana model AI China yang berbiaya rendah dan mumpuni,” jelasnya. 

Goldman Sachs bahkan memproyeksikan investor mulai mengalihkan portofolionya ke perusahaan padat modal yang memiliki aset fisik dan membutuhkan capex besar dibandingkan perusahaan dengan model bisnis ringan aset (asset-light).

Perusahaan asal Amerika Serikat itu menyebut perubahan ini didorong oleh lonjakan investasi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI), suku bunga yang lebih tinggi, serta meningkatnya fragmentasi geopolitik. 

Chief Global Equity Strategist Goldman Sachs Research Peter Oppenheimer bilang, dunia kini memasuki rezim investasi baru yang ditandai inflasi dan suku bunga lebih tinggi, meningkatnya utang pemerintah, serta fragmentasi geopolitik yang disebut sebagai post-modern cycle.

"Kini semakin banyak investor yang bersedia mendanai perusahaan padat modal karena mereka semakin yakin bahwa investasi tersebut mampu menghasilkan keuntungan," tulis dalam risetnya. 

Oppenheimer menjelaskan, pandemi Covid-19 berakhir, investor lebih banyak mengalokasikan dana ke perusahaan teknologi berbasis asset-light. Iklim suku bunga rendah saat itu memungkinkan perusahaan digital bertumbuh tanpa membutuhkan investasi fisik yang besar.

Baca Juga: Saham BREN Naik, Pinjaman US$ 300 Juta Jadi Katalis? Ini Analisisnya

“Namun, kondisi tersebut mulai berubah setelah pandemi. Kenaikan inflasi dan biaya modal membuat pertumbuhan laba menjadi penentu utama kinerja saham, sementara kenaikan valuasi tidak lagi menjadi pendorong utama keuntungan investor,” jelasnya. 

Menurutnya, transformasi AI menjadi pendorong utama perubahan tersebut. Pengembangan teknologi AI kini membutuhkan investasi besar untuk membangun pusat data, jaringan, serta infrastruktur energi guna menopang kapasitas komputasi.

Goldman Sachs memperkirakan, penyedia AI terbesar akan menggelontorkan belanja modal sekitar US$ 755 miliar pada 2026. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi US$ 920 miliar pada 2027 seiring pesatnya pengembangan teknologi AI.

“Pembangunan pusat data dan pasokan energi kini menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi perusahaan AI. Kondisi tersebut turut membuka peluang pertumbuhan bagi sektor infrastruktur, energi, serta industri penunjang lainnya,” jelas Oppenheimer. 

Selain AI, Goldman Sachs bilang, meningkatnya fragmentasi geopolitik turut mendorong kebutuhan investasi fisik. Berbagai negara diperkirakan akan meningkatkan belanja untuk memperkuat rantai pasok, ketahanan energi, serta sektor pertahanan.

Meski begitu, Head of Research KISI Muhammad Wafi menyampaikan, koreksi saham-saham AI global belum akan memberikan dampak besar terhadap pasar saham Indonesia karena pengaruh yang dirasakan IHSG lebih berasal dari perubahan sentimen investor dibandingkan faktor fundamental.

"Dampak koreksi AI global ke IHSG terbatas tetapi tetap nyata melalui sentimen risk-off yang dapat memicu arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang dalam jangka pendek," kata Wafi kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Baca Juga: Booming AI Ubah Arah Investasi Investor, Ini Sektor Incaran Menurut Goldman Sachs

Di sisi lain, Wafi melihat koreksi saham AI juga berpotensi mendorong rotasi investasi menuju pasar negara berkembang yang valuasinya relatif lebih murah dan tidak terlalu terekspos terhadap euforia AI.

Dia menyebut kondisi ini membuat Indonesia memiliki peluang menarik arus dana asing, mengingat bobot saham teknologi di IHSG masih jauh lebih kecil dibandingkan indeks seperti KOSPI yang didominasi emiten terkait industri semikonduktor.

Wafi memperkirakan, apabila dana asing kembali masuk ke saham teknologi Indonesia, aliran investasi lebih berpotensi mengarah ke emiten yang berkaitan dengan infrastruktur pusat data dibandingkan perusahaan pengembang teknologi AI maupun semikonduktor.

"Indonesia belum memiliki perusahaan fabless chip ataupun pengembang model AI yang dapat diinvestasikan di bursa. Investor lebih berpeluang masuk ke emiten yang menjadi penerima manfaat AI melalui pusat data, pembayaran digital, maupun infrastruktur telekomunikasi," ujarnya.

 

Wafi memperkirakan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi emiten yang paling relevan sebagai proksi bisnis pusat data.

Namun, dia menyoroti status DCII yang masih masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) sehingga dapat membatasi aliran dana dari investor institusi.

Selain itu, Wafi menilai PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dapat menjadi pilihan yang lebih menarik sebagai emiten yang memperoleh manfaat tidak langsung dari perkembangan AI. Transformasi bisnis menuju pusat data dan layanan digital B2B dapat menjadi katalis re-rating dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×