Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
Setali tiga uang, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan indikator valuasi historis masih relevan digunakan investo tetapi harus dibaca dalam konteks risk premium yang sedang tinggi.
Menurut dia, kenaikan yield obligasi dan pelemahan rupiah membuat discount rate yang digunakan investor ikut meningkat. Akibatnya, nilai wajar saham menjadi lebih rendah dibanding sebelumnya.
“Yang terjadi sekarang bukan cuma saham murah, tetapi risk premium re-rating struktural," kata Wafi kepada Kontan, Rabu (3/5).
Baca Juga: Risk Off Global dan Anjloknya IHSG Tekan Rupiah ke Rp 17.967 per Dolar AS
Wafi bilang posisi IHSG pada saat ini belum sepenuhnya mencerminkan seluruh risiko yang membayangi Indonesia. Dia menyebut ada tiga risiko utama yang masih menghantui.
Yakni, potensi perubahan rating sovereign, kemungkinan penurunan status Indonesia menjadi frontier market oleh MSCI dan risiko pelebaran defisit fiskal. Jika salah satu terjadi, Wafi memperkirakan IHSG akan menguji area 5.500 hingga 5.700.
Wafi menyarankan investor mencermati emiten yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS dan arus kas yang relatif stabil seperti MEDC, AADI, dan ANTM. Investor sebaiknya tidak melakukan bottom fishing di saham spekulatif.
Sementara, Alrich menyebut saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI masih menarik dicermati. Selain itu, saham defensif seperti TLKM, ICBP, dan ISAT juga dinilai mampu bertahan di tengah volatilitas pasar.
Baca Juga: IHSG Anjlok Rabu (3/6), Efek Pelemahan Rupiah dan Penyusutan Surplus Neraca Dagang
Meski peluang akumulasi mulai terbuka, Alrich menyarankan investor tetap menjaga sebagian porsi kas mengingat ketidakpastian pasar masih tinggi dan volatilitas berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













