Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dihadapkan pada pelemahan lanjutan pada awal pekan ini.
Berdasarkan data Bloomberg Senin (26/10/2026) hingga pukul 16.40 WIB, harga minyak WTI turun 2,53% di level US$ 100,74 per barel. Sedangkan yang minyak jenis Brent turun 2,47% di level US$ 114,25 per barel.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, ketidakmampuan harga untuk mendobrak level batas atas merupakan sinyal peringatan krusial bagi pelaku pasar dalam meraba arah pergerakan komoditas energi ini.
Berdasarkan analisis timeframe daily, area US$ 102,51–US$ 104,21 menjadi benteng pertahanan atas utama.
Baca Juga: Kapasitas EBT Bakal Bertambah, Analis Jagokan Saham TOBA dan PGEO
Kegagalan mempertahankan posisi di atas area ini (False Break) menunjukkan bahwa dorongan beli dari pelaku pasar mulai kehabisan bensin.
"Kegagalan bertahan di atas area US$ 102,51–US$ 104,21 memperbesar peluang koreksi, terutama apabila tekanan jual terus meningkat," ungkap Geraldo dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).
Di sisi fundamental, dinamika harga masih terjebak dalam tarik-menarik sentimen. Ketegangan geopolitik yang memicu kekhawatiran atas gangguan distribusi pasokan memang menjadi katalis penahan harga agar tidak jatuh terlalu dalam.
Meski demikian, prospek pelemahan permintaan energi global membuat investor berhati-hati, sehingga sentimen geopolitik tersebut terbukti belum cukup kuat untuk melawan tekanan teknikal yang membayangi.
Merespons fluktuasi yang dipicu oleh sentimen yang saling bertolak belakang ini, dinamika harga pada level-level kunci akan sangat menentukan nasib pergerakan WTI ke depan.
"Penembusan yang valid di atas resistance dapat membuka peluang kenaikan lanjutan, sedangkan kegagalan berulang berpotensi mempertahankan tekanan bearish," imbuh Geraldo.
Geraldo menambahkan, prospek pergerakan WTI ke depan terancam membentuk pola ABC Correction.
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 1,22% di Senin (26/10), Begini Proyeksi IHSG Dalam Sepekan
Selama harga belum mampu menembus area resistance secara meyakinkan, WTI diproyeksikan akan bergerak menuju zona support pertama di level US$ 97,65.
Jika tekanan jual terus berlanjut, pelemahan harga dapat terseret lebih dalam menuju US$ 95,25.
Sebagai katalis perubahan momentum, pelaku pasar juga perlu mencermati level US$ 101; apabila level ini berhasil ditembus dan dipertahankan secara valid, prospek bearish yang ada perlu dievaluasi kembali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














