kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Kapasitas EBT Bakal Bertambah, Analis Jagokan Saham TOBA dan PGEO


Senin, 26 Oktober 2026 / 16:24 WIB
Kapasitas EBT Bakal Bertambah, Analis Jagokan Saham TOBA dan PGEO
ILUSTRASI. Prospek saham emiten energi baru terbarukan (EBT) berpotensi ditopang oleh ekspansi kapasitas pembangkit, pendanaan hijau dan percepatan regulasi.(Dok/KEEN)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek saham emiten energi baru terbarukan (EBT) berpotensi ditopang oleh ekspansi kapasitas pembangkit, pendanaan hijau, serta percepatan regulasi. Namun, realisasi proyek dan risiko masing-masing emiten tetap menjadi faktor penentu kinerja saham sektor ini.

Asal tahu saja, amunisi dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 merencanakan penambahan kapasitas EBT baru sekitar 42,6 GW dan penyimpanan energi sebesar 10,3 GW. Penambahan tersebut terutama berasal dari energi surya sebesar 17,1 GW, tenaga air 11,7 GW, energi angin 7,2 GW, dan panas bumi 5,1 GW.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengatakan wacana RUPTL di atas dapat pertumbuhan sektor EBT dalam jangka menengah.

Menurut Sukarno, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berpotensi diuntungkan dari ekspansi pembangkit listrik tenaga panas bumi. Sementara itu, PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) dapat memperoleh peluang dari pengembangan pembangkit listrik tenaga air atau hidro.

Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 1,22% di Senin (26/10), Begini Proyeksi IHSG Dalam Sepekan

Adapun prospek PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) akan bergantung pada keberhasilan transformasi bisnis energi dan pengelolaan limbah.

“Meski demikian, realisasi proyek, biaya pendanaan, dan valuasi tetap menjadi faktor penentu,” ujar Sukarno kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Tak sampai situ saja, Sukarno juga memberi catatan bahwa BREN masih menghadapi risiko tata kelola terkait kasus penjatahan saham saat penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) yang berujung pada sanksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sukarno melihat, fundamental BREN masih didukung oleh aset panas bumi dan rencana ekspansi kapasitas. Namun, kasus tersebut meningkatkan risiko tata kelola, likuiditas, dan volatilitas saham.

Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan kasus serta valuasi BREN sebelum mengambil keputusan investasi. Sukarno juga menyebut PGEO dan KEEN dapat menjadi saham pembanding bagi investor yang ingin mencermati peluang di sektor EBT.

Ke depan, Sukarno bilang, sejumlah katalis positif yang dapat menopang kinerja emiten EBT antara lain realisasi proyek dalam RUPTL, penambahan kapasitas pembangkit, akses pendanaan hijau, serta potensi pendapatan dari kredit karbon.

Di sisi lain, investor perlu mewaspadai risiko keterlambatan proyek, pembengkakan belanja modal (capital expenditure/capex), suku bunga tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian regulasi.

Baca Juga: Tensi Geopolitik Mengerek Harga Minyak, Simak Proyeksi WTI dan Brent

Khusus TOBA, pemulihan profitabilitas menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati. Sementara itu, BREN masih menghadapi tambahan risiko terkait tata kelola.

Dari sisi rekomendasi saham, Sukarno memberikan rekomendasi trading buy atau accumulation buy untuk TOBA dan PGEO. Untuk TOBA, target harga yang dipatok berada di kisaran Rp 580-Rp 615 per saham. Sementara itu, PGEO memiliki target harga Rp 1.100-Rp 1.140 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×