Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak naik pada perdagangan awal pekan ini. Senin (27/4/2026) pukul 10.45 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 95,25 per barel atau naik 8,96% dalam seminggu dan 65,88% secara tahun berjalan (ytd).
Ada pun minyak Brent berada di level US$ 106,46 per barel atau melonjak 11,48% sepekan terakhir dan 74,93% ytd.
Kondisi ini memperpanjang kenaikan dari minggu lalu karena Selat Hormuz tetap tertutup di tengah perundingan perdamaian AS-Iran yang terhenti.
Mengutip Bloomberg, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan perjalanan delegasi AS ke Pakistan pada akhir pekan lalu, sementara Iran mengatakan tidak akan bernegosiasi selama mereka masih diancam.
Gencatan senjata telah digaungkan sejak awal April, tetapi blokade Selat Hormuz oleh AS dan Iran telah memutus transit harian melalui jalur penting tersebut.
Baca Juga: Indeks Dolar Melonjak Pasca Negosiasi Lanjutan AS dan Iran Gagal
Hal itu mengancam pasokan minyak mentah, bahan bakar, gas alam dan pupuk, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang inflasi.
"Selat Hormuz masih terkepung, dan lalu lintas terhenti," kata Mona Yacoubian, Direktur Program Timur Tengah di Pusat Studi Strategis dan Internasional seperti dilansir Bloomberg.
"Sepertinya kedua belah pihak tidak ingin kembali ke konflik terbuka. Kita berada di masa transisi ini, di mana semuanya buntu."
Badan Energi Internasional mengatakan konflik AS-Iran menyebabkan kerugian dan guncangan pasokan terbesar sepanjang sejarah. "Konsolidasi di atas US$ 100 per barel adalah area yang dituju," kata Robert Yawger, direktur futures energi Mizuho Securities.
Perang Iran kini telah memasuki minggu kesembilan, memicu apa yang digambarkan IEA sebagai guncangan pasokan energi terbesar yang pernah tercatat, sekaligus meningkatkan tekanan inflasi dan membebani prospek pertumbuhan global.
Blokade angkatan laut AS yang sedang berlangsung terus membatasi ekspor minyak mentah Iran dan menjadi penghalang utama bagi kemajuan diplomatik apa pun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













