Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot diproyeksikan masih berada di bawah bayang-bayang tekanan eksternal dan kekhawatiran pasar domestik terkait isu reklasifikasi MSCI pada hari ini.
Mengutip data Bloomberg pada Kamis (22/10/2026), rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,21% ke level Rp 18.060 per dolar Amerika Serikat (AS). Sejalan, rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah 61 poin atau 0,34% menjadi Rp 18.047 per dolar AS.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, sentimen yang akan menyetir arah rupiah diproyeksi datang dari kombinasi dinamika eksternal maupun internal yang kompleks.
Baca Juga: Rugi Turun 9,54% per Kuartal III 2026, Waskita Karya (WSKT) Lanjut Restrukturisasi
Dari sisi eksternal, Syafruddin menyoroti bahwa perhatian pelaku pasar akan tertuju pada arah pergerakan dolar AS, imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi kebijakan Federal Reserve.
Tingginya harga minyak mentah global di tengah eskalasi konflik Timur Tengah juga dikhawatirkan dapat secara langsung memperbesar kebutuhan devisa impor nasional.
Sementara itu, dari ranah domestik, ancaman MSCI yang berpotensi menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia memicu kehati-hatian tingkat tinggi para investor terhadap aset berbasis rupiah.
"Risiko penjualan saham asing dapat merambat ke pasar valuta asing apabila dana dikonversi menjadi dolar," ujar Syafruddin kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).
Lebih lanjut, langkah Bank Indonesia (BI) yang menahan BI Rate pada level 5,75% sambil menaikkan Deposit Facility menjadi 5,00% juga menjadi fokus pelaku pasar yang menanti efektivitas stabilisasi likuiditas lewat instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun dampaknya terhadap arus modal asing.
Sementara itu, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman bilang, pergerakan dolar AS, yield obligasi AS, hingga respons pelaku pasar terhadap rilis data tenaga kerja Amerika Serikat memegang peranan krusial bagi nilai tukar.
Baca Juga: Konsumsi Semen Naik per September 2026, Simak Prospek Kinerja Emiten Semen
Di tengah guncangan global tersebut, faktor internal menjadi tameng utama bagi daya tahan mata uang domestik.
"Dari domestik, sentimen MSCI, arus dana asing, dan efektivitas stabilisasi BI menjadi penentu," kata Rizal.
Berdasarkan berbagai katalis yang menyelimuti pasar, Rizal memperkirakan, rupiah hari ini (23/10/2026) bergerak pada rentang Rp 18.020 hingga Rp 18.120 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah terbatas selama tidak ada eskalasi geopolitik baru.
Senada, Syafruddin menjelaskan, untuk hari ini (23/10/2026) rupiah berfluktuasi pada rentang Rp 18.000 sampai Rp 18.120 per dolar AS. Di mana level Rp 18.000 menjadi batas psikologis penting yang membutuhkan perbaikan sentimen bursa saham dan pasokan dolar yang memadai agar dapat tertembus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













