kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.080   20,00   0,11%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

Konsumsi Semen Naik per September 2026, Simak Prospek Kinerja Emiten Semen


Kamis, 22 Oktober 2026 / 18:30 WIB
Konsumsi Semen Naik per September 2026, Simak Prospek Kinerja Emiten Semen
ILUSTRASI. Kinerja emiten semen dilihat masih prospektif di tengah peningkatan konsumsi semen domestik di sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. (SIG/dok)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten semen dilihat masih prospektif di tengah peningkatan konsumsi semen domestik di sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026.

Konsumsi semen domestik tercatat sebesar 6 juta ton pada bulan September 2026. Jumlah ini naik 0,1% secara bulanan (MoM) dan tumbuh 3% secara tahunan (YoY). Kenaikan tersebut didorong oleh penjualan semen curah sebesar 1,9 juta ton, naik 3,9% MoM dan 8,2% YoY.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih mengatakan, peningkatan tersebut terjadi baik di dalam maupun luar Pulau Jawa akibat cuaca kering, tenggat waktu proyek, serta percepatan pencairan anggaran akhir tahun. 

Baca Juga: Darma Henwa (DEWA) Dirikan Anak Usaha Baru di Bidang Logistik

Sementara itu, pada periode ini, konsumsi semen kantong turun 1,5% MoM menjadi 4,2 juta ton, tetapi masih naik 0,8% YoY. 

Konsumsi selama sembilan bulan pertama tahun 2026 pun naik 7,9% YoY menjadi 48,1 juta ton.

“Angka ini berada di atas rata-rata capaian lima tahun terakhir yang berkisar antara 71–74%,” katanya dalam riset tanggal 21 Oktober 2026.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi sepakat bahwa kinerja industri semen pada kuartal III 2026 berpotensi lebih baik dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya, terutama dari sisi volume penjualan. 

Momentum ini didukung oleh musim kemarau, jumlah hari kerja yang lebih banyak, serta pola permintaan yang secara musiman cenderung menguat pada September hingga kuartal IV.

Dari sisi suku bunga, keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI Rate di 5,75% pada 21 Oktober dan menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5% memberikan kelonggaran untuk pertumbuhan ekonomi, namun tetap mendukung stabilitas rupiah. 

Sementara itu, dampak dari El Niño di sepanjang tahun 2026 ini memiliki dua sisi. 

Baca Juga: Harga Minyak Bumi dan Batubara Berpotensi Menguat hingga Akhir 2026

“Kondisi yang lebih kering dapat membantu kelancaran proyek konstruksi dan distribusi semen, tetapi kekeringan yang berkepanjangan juga berpotensi menekan produksi pangan dan daya beli masyarakat,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Andreas bilang, volume penjualan grup PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) turun menjadi 3 juta ton pada bulan September. Penurunannya sebesar 7,7% MoM dan 12,3% YoY, seiring dengan penurunan volume regional sebesar 39,3% YoY.

“Pangsa pasar domestik SMGR menyusut menjadi 44% pada September 2026, menjadi level terendah setidaknya sejak tahun 2021,” ungkapnya.

Sementara, volume penjualan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik 1,9% MoM dan 12,1% YoY menjadi 1,9 juta ton di bulan September 2026. 

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Berencana Buyback Saham, Begini Prospeknya

Raihan itu mendorong pangsa pasar Indocement menjadi 31,6% pada September, level tertinggi setidaknya sejak tahun 2021. 

Selama sembilan bulan pertama tahun 2026, volume SMGR tumbuh 1,5% YoY menjadi 27,9 juta ton. Ini mencakup 71,4% dari proyeksi setahun penuh tahun 2026, dibandingkan dengan kisaran historis 72%–75%.

“Sementara volume INTP tumbuh 7,8% YoY menjadi 14,1 juta ton per kuartal III. Ini mencakup 72,9%, dibandingkan dengan kisaran historis 72%–73%,” ungkapnya.

Dengan kondisi penjualan per September 2026, Andreas mengestimasikan konsumsi semen domestik sepanjang 2026 akan menjadi 66,9 juta ton dari sebelumnya 63,7 juta ton. Sementara, proyeksi pertumbuhan penjualan untuk tahun 2027 bisa mencapai 2%.

Ke depan, tantangan yang akan dihadapi emiten semen adalah kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), perlambatan belanja negara, pelemahan rupiah, serta berlanjutnya aksi jual oleh investor asing.

Sementara sentimen positifnya meliputi permintaan yang lebih kuat, peningkatan pangsa pasar bagi pemain utama, serta harga jual yang lebih baik.

“Di sisi lain, aksi jual tajam pada saham INTP pasca konsultasi MSCI mengenai reklasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market menyisakan potensi kenaikan (upside) sebesar 19,3% menuju target harga, hampir mencapai level rekomendasi beli,” ujarnya.

Imam melihat, prospek permintaan semen di sisa tahun 2026 cukup positif, terutama karena momentum penjualan secara historis menguat pada September hingga kuartal IV. 

Sentimen positifnya berasal dari pemulihan konsumsi domestik, keberlanjutan proyek infrastruktur dan perumahan, serta potensi peningkatan permintaan semen curah untuk proyek konstruksi. 

Sebagai gambaran, pada Agustus pertumbuhan semen curah nasional mencapai 7% YoY, lebih tinggi dibandingkan semen kantong sebesar 4%. 

“Selain itu, jika stabilitas suku bunga terjaga dan pembiayaan properti membaik, permintaan semen juga berpotensi memperoleh dukungan tambahan,” ungkapnya.

Andreas pun merekomendasikan beli untuk SMGR dengan target harga Rp 2.460 per saham. Sementara rekomendasi trading buy disematkan untuk INTP dengan target harga Rp 6.500 per saham. 

Imam menyarankan investor untuk mencermati saham INTP dengan target harga Rp 6.200 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×