Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (21/10/2026), seiring penantian pasar terhadap keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) dan perkembangan sentimen ekonomi global.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup menguat 54 poin atau 0,30% ke level Rp 17.992 per dolar AS pada Selasa (20/10). Penguatan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang terapresiasi Rp 44 atau 0,24%, dari sebelumnya Rp 18.050 menjadi Rp 18.006 per dolar AS.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai penguatan rupiah tersebut lebih mencerminkan pemulihan sementara akibat meredanya kepanikan pasar, ketimbang menjadi indikasi pasti pembalikan tren pelemahan.
Menurut dia, apresiasi rupiah ditopang oleh penurunan imbal hasil US Treasury, pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah guncangan MSCI yang mengurangi laju pengurangan risiko investasi (de-risking), serta sikap pelaku pasar yang cenderung menahan posisi spekulatif menjelang pengumuman kebijakan bank sentral.
Baca Juga: OJK Kebut Penyempurnaan Reformasi Pasar Modal Jelang Tenggat MSCI
Memasuki perdagangan Rabu (21/10/2026), pergerakan mata uang Garuda akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
"Pergerakan rupiah besok terutama akan ditentukan oleh tiga blok sentimen: keputusan RDG BI, arah yield US Treasury dan dolar AS, serta keberlanjutan pemulihan pasar saham domestik pasca shock MSCI," ungkap Syafruddin kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).
Keputusan BI dan Pergerakan Dolar AS Jadi Penentu Rupiah
Dari sisi global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun yang masih bertahan di kisaran 5% membuat aset berbasis dolar AS tetap kompetitif bagi investor asing.
Kondisi tersebut diperkuat oleh pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) di sekitar level 102, yang membatasi ruang penguatan rupiah lebih lanjut.
Meski tekanan dari imbal hasil obligasi AS berpotensi mereda dan memberikan ruang bagi pasar valuta asing domestik, perubahan selera risiko investor global tetap dapat memicu pergeseran arus modal dan membalikkan arah pergerakan rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan Bank Indonesia, terutama apakah bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% maupun memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: Pasar Saham Bergejolak, Prospek Industri Reksadana Bagaimana?
Pemulihan IHSG setelah mengalami koreksi tajam turut memberikan dukungan psikologis bagi pasar keuangan domestik. Namun, menurut Syafruddin, keberlanjutan penguatan rupiah tetap sangat bergantung pada pergerakan arus modal asing.
"Jika BI menegaskan stabilisasi rupiah, intervensi valas tetap aktif, dan pasar saham tidak kembali mengalami sell-off, rupiah berpeluang bertahan di bawah Rp 18.000," kata Syafruddin.
Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah masih dapat meningkat apabila imbal hasil obligasi AS melonjak tajam atau terjadi gelombang baru penjualan aset keuangan di Indonesia.
Risiko fundamental juga dinilai belum sepenuhnya mereda. Hal ini seiring dengan rencana MSCI yang masih mempertimbangkan penurunan status investasi Indonesia serta tingginya arus modal keluar sepanjang tahun ini.
Proyeksi Rupiah Rabu (21/10/2026)
Untuk perdagangan Rabu (21/10/2026), Syafruddin memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.080 per dolar AS. Sementara itu, titik keseimbangan teknikal diperkirakan berada di kisaran Rp 17.970 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Level Rp 17.900 diperkirakan menjadi area support jangka pendek karena secara historis berada di zona yang dapat kembali memicu permintaan dolar AS.
Baca Juga: OJK Periksa 31 Saham HSC, Terindikasi Potensi Pelanggaran Pidana
Adapun rentang Rp 18.050 hingga Rp 18.080 per dolar AS menjadi area resistance awal, mengingat sensitivitas pasar yang masih tinggi terhadap tekanan arus modal keluar.
Syafruddin menilai pergerakan rupiah masih menghadapi dua kemungkinan. Apabila Bank Indonesia mengambil sikap yang lebih ketat atau hawkish dibandingkan ekspektasi pasar, rupiah berpeluang menguat hingga menguji level Rp 17.850 per dolar AS.
Sebaliknya, apabila BI mempertahankan suku bunga tanpa disertai komunikasi yang kuat mengenai stabilisasi nilai tukar, terlebih jika IHSG kembali melemah, rupiah berpotensi tertekan hingga menembus Rp 18.100 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












