kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Rupiah Melemah 0,82% Sepekan, Ini Pemicu dan Proyeksinya Pekan Depan


Sabtu, 26 September 2026 / 05:15 WIB
Rupiah Melemah 0,82% Sepekan, Ini Pemicu dan Proyeksinya Pekan Depan
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah kembali tertekan sepanjang perdagangan pekan ini. Perhatian investor masih tertuju pada perkembangan kebijakan The Fed (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan sepanjang perdagangan pekan ini. Perhatian investor masih tertuju pada perkembangan kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS), hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang turut memengaruhi harga minyak dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot pada Jumat (25/9/2026) ditutup di level Rp 17.903 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah melemah 0,82% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya, yakni Rp 17.758 per dolar AS pada Jumat (18/9/2026).

Tekanan serupa tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Pada Jumat (25/9/2026), rupiah berada di level Rp 17.917 per dolar AS, melemah 0,97% dibandingkan posisi JISDOR pada Jumat (18/9/2026) yang berada di level Rp 17.745 per dolar AS.

Pengamat uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih datang dari sentimen global. Pasar mencermati perkembangan konflik Iran dan AS serta kenaikan harga minyak yang berpotensi kembali mendorong inflasi.

Baca Juga: BEI Gelar International Capital Market Summit 2026, Hadirkan Pelaku Pasar Global

"Kenaikan harga minyak menjadi salah satu perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Ini membuat pasar kembali melihat kemungkinan suku bunga bertahan lebih tinggi," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

Di sisi lain, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian setelah sejumlah pejabat bank sentral AS membuka peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Data ekonomi AS juga menunjukkan aktivitas yang masih relatif kuat. PMI komposit September tercatat mencapai 58,4, sedangkan klaim pengangguran awal turun menjadi 197.000.

"Data ekonomi AS yang masih kuat ikut memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Pasar akan terus mencermati perkembangan inflasi dan arah suku bunga AS," tutur Ibrahim.

Baca Juga: Bitcoin Mulai Pulih, Ini Proyeksi Harga BTC dan Ethereum hingga Akhir 2026

Dari dalam negeri, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus melakukan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan sektor eksternal serta arus modal juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas perekonomian dan nilai tukar.

Untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.800-Rp 18.100 per dolar AS. Pergerakan rupiah masih akan bergantung pada arah dolar AS, kebijakan The Fed, harga minyak, serta perkembangan geopolitik global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×