Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan rupiah pada perdagangan pekan depan masih berpotensi menghadapi tekanan. Investor akan mencermati sejumlah faktor, mulai dari perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), risiko El Nino di dalam negeri, hingga arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bloomberg pada Jumat (18/9/2026), rupiah ditutup melemah 0,03% ke level Rp 17.758 per dolar AS dari hari sebelumnya. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif rupiah menjadi tujuh sesi perdagangan berturut-turut.
Secara mingguan, rupiah melemah 0,83% dibandingkan posisi Jumat (11/9/2026) yang berada di level Rp 17.611 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.745 per dolar AS atau melemah 0,04% dari posisi hari sebelumnya sebesar Rp 17.753 per dolar AS.
Baca Juga: Kinerja Emiten Infrastruktur Lesu di Era Suku Bunga Tinggi, Simak Rekomendasi Analis
Jika dibandingkan dengan posisi perdagangan Jumat pekan lalu yang berada di level Rp 17.611 per dolar AS, rupiah berdasarkan JISDOR tercatat melemah 0,76% secara mingguan.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan kondisi APBN menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati pasar pada pekan depan.
Hingga akhir Agustus 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut berasal dari pendapatan negara sebesar Rp 2.055,6 triliun atau 65,2% dari target APBN 2026, sementara belanja negara mencapai Rp 2.295,7 triliun.
Meski APBN mencatat defisit, Ibrahim menilai kondisi fiskal pemerintah masih kuat. Hal itu antara lain tercermin dari keseimbangan primer yang masih positif sebesar Rp 154 triliun serta defisit yang masih berada dalam kondisi terkendali.
“Angka defisit ini sebelumnya sudah disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa minggu lalu. Secara keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan berada di sekitar 2,85% dari PDB (atau setara Rp734,3 triliun), sedikit di atas target awal APBN yang sebesar 2,68% PDB,” ujar Ibrahim, Jumat (18/9/2026).
Selain kondisi fiskal, perkembangan cuaca juga menjadi perhatian pasar domestik. Fenomena El Nino pada 2026 berpotensi memberikan dampak terhadap sejumlah sektor ekonomi.
Kondisi panas dan kering di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, serta kebakaran hutan dan lahan. Perkembangan tersebut dapat menjadi sentimen tambahan yang memengaruhi persepsi pasar terhadap perekonomian domestik.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Tujuh Hari Beruntun, RDG BI Jadi Penentu Pekan Depan
Dari eksternal, investor masih akan mencermati arah kebijakan moneter AS. Ibrahim menyoroti kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Selain keputusan suku bunga, pernyataan Kevin Warsh juga menjadi perhatian. Ibrahim menilai pernyataan Warsh menunjukkan sikap hawkish karena menilai inflasi masih terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengurangi akomodasi kebijakan moneter.
Pandangan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar karena membuka ruang bagi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut.
Kombinasi sentimen domestik dan eksternal tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan pekan depan.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan pekan depan bergerak dalam kisaran Rp 17.650-Rp 18.000 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














