kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.766   0,00   0,00%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Rupiah Diproyeksi Fluktuatif pada Awal Pekan, Ini Sentimen Penggeraknya


Senin, 21 September 2026 / 07:00 WIB
Rupiah Diproyeksi Fluktuatif pada Awal Pekan, Ini Sentimen Penggeraknya
ILUSTRASI. Rupiah diperkirakan fluktuatif pada awal pekan. Pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik global, serta ekspektasi keputusan suku bunga BI.(AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada awal pekan. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed), serta ekspektasi keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Pada Jumat (18/9/2026), kurs rupiah spot melemah tipis 0,03% menjadi Rp 17.758 per dolar Amerika Serikat (AS). Sedangkan di Jisdor Bank Indonesia, rupiah menguat 0,05% menjadi Rp 17.745 per dolar AS. 

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah perkembangan geopolitik. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar, dengan dinamika yang bergeser dari Selat Hormuz menuju Laut Merah dan Selat Al-Mandeb.

Baca Juga: Pasar Saham Menanti RDG BI, Ini Proyeksi Suku Bunga dan IHSG

"Yang pertama adalah faktor geopolitik. Yang kedua adalah kebijakan politik di Amerika pasca menantikan pemilu sela di bulan November. Kemudian, kebijakan Bank Sentral Amerika," ujar Ibrahim, Minggu (20/9/2026).

Menurut dia, ketegangan geopolitik di kawasan tersebut semakin meningkat. Ia menyoroti perkembangan di sekitar Selat Al-Mandeb serta meningkatnya aktivitas diplomatik China. Menteri Luar Negeri China Wang Yi disebut telah mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz. 

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan konsultasi dengan pejabat China dan Pakistan.

Selain geopolitik, Ibrahim menyoroti dinamika politik domestik AS menjelang pemilu sela (midterm election) pada November. Menurut dia, meningkatnya ketegangan politik antara Partai Republik dan Partai Demokrat dapat menambah ketidakpastian di pasar keuangan.

Dari sisi kebijakan moneter AS, pasar juga masih mencermati arah suku bunga The Fed. Ibrahim melihat masih terdapat peluang kenaikan suku bunga The Fed lanjutan hingga akhir tahun.

Ia menyebut, dari 18 anggota yang memberikan proyeksi, sebanyak 16 anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Dengan demikian, terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir Desember.

Baca Juga: The Fed Naikkan Suku Bunga,, Analis Beberkan Proyeksi hingga Akhir 2026

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat pergerakan rupiah pada Senin depan turut dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pekan depan, yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026.

Untuk perdagangan Senin (21/9/2026), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif di kisaran Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS.

Senada, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada awal pekan dengan kecenderungan berada di rentang Rp 17.750-Rp 17.800 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×