Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan pekan depan diperkirakan masih menghadapi sejumlah tekanan. Pelaku pasar akan menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22-23 September 2026, sekaligus mencermati perkembangan yield US Treasury (UST).
Mengutip data Bloomberg pada Jumat (18/9/2026), rupiah ditutup melemah tipis 0,03% ke level Rp 17.758 per dolar AS dari posisi perdagangan sebelumnya. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif rupiah menjadi tujuh sesi perdagangan berturut-turut.
Secara mingguan, rupiah melemah 0,83% dibandingkan posisi Jumat (11/9/2026) yang berada di level Rp 17.611 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.745 per dolar AS atau melemah 0,04% dibandingkan posisi hari sebelumnya. Jika dibandingkan dengan perdagangan Jumat pekan lalu sebesar Rp 17.611 per dolar AS, rupiah berdasarkan JISDOR tercatat melemah 0,76% secara mingguan.
Baca Juga: Emas Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Seiring Melandainya Harga Minyak
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah pada akhir pekan salah satunya dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan berlangsung pekan depan, pada 22-23 September 2026.
“Rupiah ditutup melemah tipis terhadap dolar AS tertekan oleh antisipasi RDG BI minggu depan yang diperkirakan akan menahan tingkat suku bunga,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).
Ekspektasi bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar. Kondisi tersebut berlangsung di tengah kenaikan yield US Treasury yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah.
Baca Juga: IHSG Konsolidasi Melemah di Pekan Ini, Tekanan Suku Bunga Global
Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah dunia belum memberikan dukungan signifikan terhadap pergerakan rupiah. Saat ini, harga minyak Brent berada di level US$ 103 per barel atau melemah 0,45% secara harian.
"Penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup besar tidak banyak mendukung rupiah," kata Lukman.
Untuk perdagangan pekan depan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














