Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto mulai menunjukkan pemulihan menjelang akhir 2026. Kendati demikian, investor masih perlu mewaspadai volatilitas pasar seiring pengaruh kondisi makroekonomi, arus modal institusional, serta perkembangan regulasi aset digital.
Melansir data CoinMarketCap pada Jumat (25/9/2026) pukul 16.56 WIB, Bitcoin (BTC) menguat 8,30% dalam tujuh hari terakhir ke level US$84.566,87 per koin. Pada periode yang sama, Ethereum (ETH) naik 7,92% menjadi US$2.701,88 per koin.
Penguatan tersebut menunjukkan adanya pemulihan di pasar kripto. Namun, Bitcoin masih menghadapi tantangan besar untuk kembali menguji level all time high (ATH) di sekitar US$126.000.
Saat ini, harga BTC berada di kisaran US$84.300–US$84.500 atau masih sekitar 33% di bawah rekor ATH sebesar US$126.198 yang dicapai pada 6 Oktober 2025.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Naik 8%, Ini Katalis hingga Akhir 2026
Dengan posisi tersebut, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 50% dari level saat ini untuk kembali menembus rekor tertingginya.
Pemulihan menuju level ATH akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama keberlanjutan arus dana masuk (inflow) institusional ke ETF spot, kondisi likuiditas global yang mendukung aset berisiko, serta perkembangan kepastian regulasi aset kripto di Amerika Serikat (AS).
Bitcoin memang sempat kembali menyentuh level US$86.000. Namun, kenaikan dalam jangka pendek tersebut dinilai belum cukup untuk mengonfirmasi terbentuknya tren bullish yang berkelanjutan menuju ATH. Risiko koreksi juga masih terbuka sepanjang kuartal IV 2026.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis mengatakan dinamika pasar yang masih tinggi membuat investor perlu lebih memperhatikan efisiensi portofolio dan penerapan manajemen risiko.
"Kondisi pasar yang masih sensitif terhadap faktor makro, regulasi, dan arus modal, strategi yang disiplin dan berbasis manajemen risiko menjadi lebih relevan daripada mencoba menentukan titik harga tertinggi atau terendah secara presisi," ujar Yudhono kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).
Strategi Investasi Kripto
Dalam menghadapi ketidakpastian pasar, investor dapat mencermati sejumlah indikator penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga aset kripto.
Beberapa indikator tersebut antara lain dinamika inflow dan outflow ETF spot, arah kebijakan suku bunga The Fed, data inflasi dan ketenagakerjaan AS, pergerakan yield Treasury, serta perkembangan regulasi aset digital.
Investor juga perlu mencermati proposal Regulation Crypto Assets dari Securities and Exchange Commission (SEC) yang diajukan pada Agustus 2026 karena perkembangan kebijakan tersebut dapat memengaruhi sentimen terhadap pasar aset digital.
Dari sisi strategi investasi, pembelian secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi risiko masuk pada level harga tertinggi.
Selain itu, investor perlu membedakan karakteristik investasi Bitcoin dan Ethereum. Diversifikasi portofolio juga tetap diperlukan untuk mengelola risiko, terutama ketika volatilitas pasar meningkat.
Baca Juga: Rupiah Merosot ke Level Rp 17.900, ANTM Kelola Risiko Nilai Tukar Secara Prudent
Penggunaan leverage secara berlebihan juga perlu dihindari karena dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian ketika terjadi pergerakan harga yang tajam.
Proyeksi Harga Bitcoin dan Ethereum
Untuk memperkirakan pergerakan aset kripto hingga akhir 2026, proyeksi harga dinilai lebih tepat menggunakan rentang dibandingkan menetapkan satu angka tertentu.
Jika sejumlah katalis utama, seperti arus modal institusional, kondisi likuiditas global, dan kebijakan moneter, bergerak positif, Bitcoin diproyeksikan berpotensi bergerak dalam rentang US$90.000 hingga US$125.000 pada akhir 2026.
Sementara itu, Ethereum diperkirakan dapat berada pada kisaran US$3.000 hingga US$4.000 per koin.
Namun, pencapaian kisaran tersebut tetap akan sangat bergantung pada stabilitas sentimen pasar, kondisi ekonomi global, arah kebijakan moneter, serta perkembangan regulasi aset kripto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














