Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Pelemahan ini dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta ketidakpastian di pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 18.184 per dolar AS, melemah 0,15% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di level Rp 18.183 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,24% dibandingkan kurs Selasa (27/10/2026) yang sebesar Rp 18.139 per dolar AS.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibii mengatakan, pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen eksternal, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Rupiah Loyo Picu Asing Keluar dari Saham Rp 97 Triliun, Awasi Emiten Berutang Dolar
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi. Serangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur ekspor minyak di kawasan, terutama ketika pengiriman melalui Selat Hormuz masih terganggu akibat konflik.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi Indonesia. Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, kenaikan harga minyak juga dapat mendorong inflasi serta meningkatkan biaya produksi dan transportasi.
“Harga minyak yang bertahan di atas USD 100 per barel dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara, terutama melalui kenaikan biaya subsidi dan kompensasi energi,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Selain perkembangan geopolitik dan harga energi, pelaku pasar juga mencermati keputusan kebijakan The Fed untuk memperoleh petunjuk mengenai arah suku bunga dan prospek ekonomi AS.
Apabila harga minyak yang tinggi memicu tekanan inflasi, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter berpotensi semakin terbatas. Kondisi tersebut dapat menopang penguatan dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga: Menjelang Rilis Laporan Keuangan Kuartal III 2026 GOTO, Berikut Prediksi Analis
Dari dalam negeri, ketidakpastian mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menjadi perhatian investor.
MSCI telah mengusulkan konsultasi terkait perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Keputusan final mengenai usulan tersebut dijadwalkan paling lambat Juni 2027.
Ibrahim bilang, perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan investor asing dan arus modal ke pasar keuangan domestik. Jika persepsi investor terhadap pasar Indonesia memburuk, risiko keluarnya dana asing dapat meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
“Perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dapat memengaruhi kepercayaan investor asing dan aliran modal ke pasar domestik,” tuturnya.
Di samping itu, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi. Kejelasan komunikasi dan konsistensi kebijakan moneter dinilai penting untuk mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Untuk perdagangan Kamis (29/10/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 18.180-Rp 18.230 per dolar AS.
Sementara itu, dalam sepekan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.900-Rp 18.250 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














