Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah semakin babak belur. Lagi-lagi hampir menembus rekor terlemah sepanjang masa atau all time high (ATH). Pelemahan rupiah yang mendekati Rp 18.200 per dolar dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak hanya dipengaruhi sentimen usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Asal tahu saja, rupiah telah melemah enam hari perdagangan berturut-turut. Rabu (28/10), kurs rupiah spot melemah 0,15% menjadi Rp 18.184 per dolar AS. Dari awal tahun, rupiah bahkan sudah anjlok 9% year-to-date (YtD) dibandingkan Rp 16.687 pada 1 Januari 2026.
Angka kurs rupiah spot hari ini hanya sedikit di bawah posisi terendah sepanjang masa pada Rp 18.188 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026 lalu.
Seirama, kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) bahkan melemah lima hari perdagangan beruntun. Hari ini, kurs rupiah Jisdor melemah 0,24% menjadi Rp 18.183 per dolar AS. Ini adalah posisi rupiah Jisdor paling lemah sepanjang masa.
Baca Juga: Rupiah Kembali Tertekan, Ini Sentimen yang Membayangi
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, berpandangan tren pelemahan ini salah satunya adalah dampak dari strategi hedging yang ditempuh BI menghadapi tantangan ketika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
Ia menyoroti mekanisme strike price terhadap instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yang menurutnya dapat memengaruhi efektivitas strategi tersebut ketika jatuh tempo.
“Ya karena ada faktor juga kebijakan yang ditempuh adalah hedging (pada instrumen DNDF), jadi USD yang masuk kan posisinya call option. Jadi pas mendekati strike price jatuh tempo ya BI kalah nafas, karena rupiahnya kena sentimen MSCI, gitu kalo dibaca dari sisi teknikal,” jelas Yanuar saat dihubungi Kontan, Rabu (28/10/2026).
Di sisi lain, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga terjadi di tengah arus keluar modal asing setelah pengumuman MSCI. Arus keluar tersebut tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga menyentuh surat berharga negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.184, Dolar AS dan Sentimen MSCI Jadi Faktor Penekan
Untuk periode 19-22 Oktober 2026, tercatat arus keluar modal asing mencapai sekitar Rp 18 triliun. Arus keluar tersebut berasal dari instrumen SRBI sebesar Rp 6,5 triliun, SBN sebesar Rp 6,3 triliun, dan pasar saham Rp 5,4 triliun.
Menurut Yanuar, salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investor asing adalah repricing aset atau penyesuaian ulang valuasi investasi akibat kenaikan yield di pasar global.
Tak sampai situ saja, Yanuar melihat tekanan ini berpotensi berlanjut apabila kondisi global belum membaik dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik belum pulih.
“Masih panjang, ini akan terus seperti ini,” tandasnya.
Yanuar juga memperkirakan rupiah akan bergerak menuju keseimbangan baru dengan kecenderungan terus melemah. Bahkan ia mengamini, bahwa rupiah berpotensi tembus Rp 18.200 dalam jangka waktu dekat, dan terbuka menuju posisi Rp 18.500 per dolar AS, bila kepercayaan investor asing ke pasar domestik tak lekas kembali.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,15% ke Rp 18.184 per Dolar AS pada Rabu (28/10/2026)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














