kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Ditekan The Fed dan Harga Minyak, Cek Proyeksi Rupiah untuk Kamis (22/10)


Rabu, 21 Oktober 2026 / 17:23 WIB
Ditekan The Fed dan Harga Minyak, Cek Proyeksi Rupiah untuk Kamis (22/10)
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi menghadapi tekanan terbatas pada perdagangan Kamis (22/10/2026) akibat kuatnya pengaruh eksternal, mulai dari ekspektasi kebijakan The Fed hingga eskalasi geopolitik.

Mengutip Bloomberg pada Rabu (21/10/2026), kurs rupiah ditutup melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp 18.022 per dolar AS, berbanding terbalik dengan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) yang justru mencatatkan penguatan 0,11% menjadi Rp 17.986 dari posisi sebelumnya Rp 18.006 per dolar AS.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet memaparkan bahwa pergerakan rupiah pada hari ini, Rabu (21/10/2026), lebih tepat dibaca sebagai penyesuaian posisi pasar usai keputusan BI menahan suku bunga acuan di level 5,75%. Tekanan yang lebih dominan sejatinya datang dari faktor eksternal berupa melesatnya indeks dolar ke level 101,75 serta sikap kehati-hatian investor terhadap potensi arus keluar modal usai adanya usulan reklasifikasi MSCI.

Menatap perdagangan Kamis (22/10/2026), Yusuf menilai pergerakan mata uang Garuda masih akan ditentukan oleh arah dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Bagaimana Nasib Rupiah?

Para pelaku pasar tengah mencermati data ekonomi dan pernyataan dari pejabat The Fed menjelang rapat FOMC pada 28 Oktober mendatang yang sebagian besar masih memproyeksikan satu kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.

"Karena itu, data yang memperkuat peluang kenaikan tersebut akan menopang dolar dan membatasi ruang penguatan rupiah," ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Di samping itu, sentimen dari Timur Tengah serta harga minyak dunia turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Harga minyak jenis Brent yang sempat bertahan di atas US$ 105 per barel akibat serangan terhadap fasilitas energi di Teluk dapat melambungkan kebutuhan devisa Indonesia untuk impor, sehingga berpotensi menambah beban pada neraca perdagangan sekaligus nilai tukar rupiah.

Dari dalam negeri, daya tahan mata uang domestik akan dinilai dari efektivitas paket stabilisasi BI yang dinilai cukup terarah lewat kenaikan deposit facility menjadi 5% dan penguatan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,17% ke RP 18.022 per Dolar AS pada Rabu (21/10)

Kebijakan yang telah menarik aliran modal masuk hingga US$ 9,9 miliar sejak Juni ini diharapkan mampu menjaga likuiditas valas, meski di saat yang bersamaan bayang-bayang ketidakpastian MSCI dan lonjakan inflasi domestik masih menghantui pasar saham.

"Tekanan inflasi pangan yang sudah mencapai 5 persen juga menjadi perhatian karena pelemahan kurs yang berlanjut dapat memperbesar risiko kenaikan harga," papar Yusuf.

Dengan mempertimbangkan beragam faktor tersebut, Yusuf memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp 17.980 sampai Rp 18.080 per dolar AS pada perdagangan Kamis (22/10/2026), dengan kecenderungan melemah terbatas.

Level Rp 18.000 dinilai akan tetap menjadi area psikologis penting yang kemungkinan besar dijaga oleh BI melalui intervensi di pasar valas, sehingga memperkecil peluang terjadinya pelemahan tajam lanjutan.

Baca Juga: Rupiah Terancam Tembus Rp 19.000 per Dolar AS jika Tekanan MSCI Merembet ke SBN

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×