Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memperbesar tekanan arus modal keluar atau capital outflow dari pasar saham domestik.
Tekanan tersebut tercermin dari aksi jual investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak awal tahun hingga akhir perdagangan Selasa (27/10/2026), nilai jual bersih asing di keseluruhan pasar telah mencapai Rp 97,37 triliun.
Di sisi lain, rupiah masih berada dalam tren pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,15% ke level Rp 18.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Yield SUN Tembus 7,66%, Pembiayaan Utang Pemerintah Makin Berat
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan rupiah yang terus melemah berpotensi meningkatkan tekanan capital outflow. Sebab, investor asing menghadapi risiko ganda dari penurunan harga saham dan pelemahan kurs.
"Tekanan jual dapat berlanjut selama rupiah belum stabil dan ketidakpastian pasar masih tinggi," kata Alrich kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Indikasi pemulihan perlu dilihat dari stabilisasi rupiah, meredanya aksi jual asing, dan membaiknya kepercayaan investor. Alrich juga berpendapat belum ada waktu pasti kapan tekanan ini berakhir.
Disisi lain, emiten yang perlu dicermati adalah perusahaan dengan utang dolar AS besar, ketergantungan tinggi pada bahan baku impor, dan pendapatan dominan dalam rupiah.
Contohnya sektor penerbangan seperti GIAA dan petrokimia seperti TPIA, dengan catatan dampaknya bergantung pada struktur utang dan hedging masing-masing perusahaan.
Sebaliknya, eksportir berpendapatan dolar berpotensi diuntungkan, meski tetap bergantung pada harga komoditas dan biaya produksi.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena meningkatkan risiko investasi, terutama bagi investor asing yang menghadapi potensi kerugian kurs.
Namun, koreksi IHSG tidak bisa hanya dikaitkan dengan rupiah, melainkan juga dipengaruhi arus keluar dana asing dan ketidakpastian terkait MSCI serta kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Memperburuk Sentimen Pasar, Risiko Investasi Turut Meningkat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














