Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Indonesia tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kebutuhan dolar AS menjelang akhir bulan, arus modal asing, hingga sentimen pasar keuangan domestik turut membebani pergerakan rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (27/10/2026), rupiah melemah 0,12% ke level Rp 18.156 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga turun 0,13% menjadi Rp 18.139 per dolar AS, dari posisi sehari sebelumnya sebesar Rp 18.116 per dolar AS.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis baru tersebut bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan mencerminkan akumulasi berbagai sentimen negatif di pasar keuangan.
Tekanan terhadap rupiah semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan likuiditas valuta asing (valas) oleh korporasi domestik pada akhir bulan. Kebutuhan tersebut terutama berkaitan dengan pembayaran impor dan kewajiban utang luar negeri.
Baca Juga: Kinerja Adaro Andalan (AADI) Ditopang Harga Batubara, Cek Rekomendasi Sahamnya
"Ketika investor asing menarik portofolionya dan menukarkan aset rupiah mereka kembali ke dolar AS, lonjakan permintaan terhadap greenback melonjak secara signifikan di pasar spot, memaksa rupiah terdepresiasi lebih dalam," ungkap Rahma kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).
Rupiah tertinggal saat mata uang Asia menguat
Pelemahan rupiah berbanding terbalik dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang justru memperoleh dorongan positif dari meredanya penguatan indeks dolar AS atau DXY.
Analis mata uang sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan, mata uang kawasan Asia mendapat dukungan dari aksi ambil untung terhadap dolar AS menjelang rapat kebijakan moneter global. Selain itu, peningkatan selera risiko investor turut mendorong aliran modal asing ke sektor teknologi dan semikonduktor di Asia Timur.
Namun, rupiah belum mampu memanfaatkan momentum tersebut karena masih menghadapi tekanan dari dalam negeri.
"Rupiah belum mampu memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS karena terhimpit oleh tekanan musiman akhir bulan (month-end corporate demand) untuk kebutuhan pembayaran dividen dan utang luar negeri, beban impor migas, serta kehati-hatian investor terkait dinamika pasar modal domestik (isu likuiditas indeks saham, MSCI)," terang Wahyu kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan dolar AS secara global belum tentu langsung memberikan keuntungan bagi rupiah. Tekanan permintaan valas domestik dan sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia masih menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan mata uang Garuda.
Intervensi BI diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) dinilai perlu memperkuat langkah stabilisasi guna mencegah pelemahan rupiah memicu dampak lanjutan, terutama melalui kenaikan harga barang impor atau inflasi impor.
Rahma menilai, pasar mengandalkan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui strategi intervensi di berbagai instrumen. Langkah tersebut mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN).
Selain intervensi, BI juga perlu menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik agar tetap mampu menarik minat investor. Upaya ini dinilai penting untuk meredam tekanan arus modal keluar yang berpotensi memperlemah rupiah lebih lanjut.
Baca Juga: Laba United (UNTR) Anjlok 61,08% Hingga Kuartal III-2026, Ini Prospek Sahamnya
Prospek rupiah dan mata uang Asia
Di tengah ketidakpastian pasar, Wahyu memperkirakan sejumlah mata uang Asia masih memiliki peluang bergerak relatif stabil, meskipun prospeknya dipengaruhi oleh faktor fundamental dan kebijakan masing-masing negara.
Won Korea Selatan (USD/KRW) diperkirakan bergerak dalam rentang 1.290–1.360, dengan dukungan kinerja ekspor teknologi. Sementara itu, yuan China (USD/CNH) diproyeksikan relatif stabil di kisaran 6,6200–6,7800.
Dolar Singapura (USD/SGD) dinilai dapat menjadi pilihan untuk menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian, dengan proyeksi pergerakan pada rentang 1,2700–1,3000. Adapun ringgit Malaysia (USD/MYR) diperkirakan berkonsolidasi di kisaran 4,0200–4,1600, ditopang aliran investasi langsung.
Di sisi lain, yen Jepang (USD/JPY) diproyeksikan bergerak pada rentang 154,00–161,50, dengan risiko intervensi otoritas moneter Jepang yang masih membayangi pergerakannya.
Untuk rupiah, Wahyu memperkirakan pasangan USD/IDR bergerak dalam rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.350 per dolar AS. Level Rp 18.000 yang sebelumnya menjadi batas psikologis kini mulai bergeser menjadi area penopang baru di tengah tekanan terhadap mata uang domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














