Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Leyand International Tbk (LAPD) berencana menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu II (PMHMETD II) atau rights issue sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru.
Melalui aksi korporasi ini, LAPD juga akan mengakuisisi 87,5% saham PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS) senilai Rp 38,85 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi pada Selasa (27/10/2026), saham baru yang diterbitkan merupakan saham Seri B dengan nilai nominal Rp 25 per saham.
Harga pelaksanaan indikatif ditetapkan Rp 30 per saham, sehingga nilai maksimal penghimpunan dana melalui rights issue mencapai Rp 60 miliar.
Baca Juga: IHSG Rontok 39% & Asing Net Sell Hampir Rp 125 T, Investor Ritel Perlu Beli / Jual?
Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (29/10/2026).
Pelaksanaan aksi korporasi ini juga bergantung pada pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemenuhan persyaratan lainnya.
Pemegang saham pengendali LAPD, PT JSI Sinergi Mas (JSI), yang saat ini memiliki 51% saham perusahaan, akan melaksanakan seluruh haknya melalui penyetoran modal dalam bentuk selain uang atau inbreng.
JSI akan menyetorkan 52.500 saham BSS yang mewakili 87,5% modal ditempatkan dan disetor BSS, dengan nilai Rp 38,85 miliar.
Dengan skema tersebut, JSI tidak perlu menyetorkan uang tunai untuk melaksanakan haknya. Nilai penyertaan itu mencakup pelaksanaan hak JSI senilai Rp 30,60 miliar dan sisa nilai Rp 8,25 miliar.
Baca Juga: Cetak Kinerja Cemerlang, Cek Prospek Emiten Grup MAP
Atas sisa nilai tersebut, JSI akan bertindak sebagai pembeli siaga dengan mengambil sebanyak-banyaknya 275.033.369 saham baru yang tidak diambil oleh pemegang saham lain.
Penyelesaiannya dilakukan melalui penyetoran sisa saham BSS dan, jika diperlukan, pembayaran tunai oleh LAPD kepada JSI sesuai ketentuan transaksi.
Apabila pemegang saham selain JSI tidak melaksanakan haknya dan JSI mengambil seluruh porsi sebagai pembeli siaga, jumlah saham baru yang diterbitkan diperkirakan mencapai 1.295.033.333 saham.
Dalam skenario ini, kepemilikan JSI di LAPD berpotensi meningkat dari 51% menjadi maksimal 63,06%, sedangkan kepemilikan masyarakat menjadi 36,94%.
Perkuat bisnis lewat akuisisi
Manajemen menjelaskan, sekitar 64,75% dari nilai maksimal rights issue, atau Rp 38,85 miliar, akan digunakan untuk mengambil alih saham BSS milik JSI.
Setelah transaksi rampung, LAPD akan menguasai 87,5% saham BSS dan menjadikannya sebagai entitas anak terkendali.
Baca Juga: IHSG Rawan Melemah ke 5.118, Simak Rekomendasi Saham DSNG, CPIN, AADI, dan BRMS
Sementara itu, sisa dana sekitar 35,25% atau maksimal Rp 21,15 miliar ditargetkan berasal dari pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) oleh pemegang saham selain JSI.
Setelah memperhitungkan kemungkinan pembayaran tunai kepada JSI, dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja BSS, termasuk biaya operasional pertambangan, tenaga kerja, dan pemeliharaan alat.
Namun, jumlah dana tunai yang diterima LAPD akan bergantung pada partisipasi pemegang saham selain JSI.
Jika pemegang saham lainnya tidak melaksanakan HMETD, LAPD tidak akan memperoleh dana tunai dari pelaksanaan hak tersebut. Dalam kondisi itu, kebutuhan modal kerja akan dipenuhi melalui kas internal dan/atau sumber pendanaan lain.
Aksi korporasi ini ditujukan untuk memperkuat posisi keuangan sekaligus mengembangkan portofolio usaha LAPD melalui kepemilikan saham BSS.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, LAPD mencatatkan ekuitas negatif Rp 2,65 miliar dan modal kerja bersih negatif Rp 26,45 miliar.
Dalam proyeksi keuangan proforma, total aset LAPD diperkirakan meningkat dari Rp 99,47 miliar menjadi Rp 211,44 miliar setelah pelaksanaan rights issue dan konsolidasi BSS. Ekuitas juga diproyeksikan berbalik dari negatif Rp 2,65 miliar menjadi positif Rp 57,46 miliar.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Menguat Selasa (27/10), Saham Teknologi dan Chip Jadi Buruan
Dari sisi operasional, BSS membukukan pendapatan Rp 20,59 miliar dan laba periode berjalan Rp 1,74 miliar untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Setelah konsolidasi, pendapatan LAPD secara proforma untuk periode tersebut diperkirakan meningkat dari Rp 1,91 miliar menjadi Rp 22,50 miliar.
Meski demikian, modal kerja bersih proforma LAPD diperkirakan masih negatif Rp 29,99 miliar. Untuk memitigasi risiko tersebut, perusahaan menyiapkan sejumlah langkah, antara lain menggunakan dana rights issue untuk kebutuhan operasional BSS, merestrukturisasi kredit modal kerja BSS, mempercepat penagihan piutang, serta mengandalkan dukungan pendanaan dari JSI jika diperlukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













