Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi semakin dalam apabila gejolak di pasar saham domestik merembet ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Asal tahu saja, rupiah saat ini kembali menghadapi bayang-bayang pelemahan ke atas level Rp 18.000 per dolar AS. Rupiah dibuka stagnan pada pembukaan perdagangan Rabu (21/10), dengan bertahan di level Rp 17.992 per dolar AS.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet melihat, tekanan terhadap rupiah saat ini cukup serius karena tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal.
Pasalnya, pelemahan rupiah saat ini justru terjadi ketika dolar AS dan imbal hasil US Treasury turun, sementara yield SBN meningkat di hampir seluruh tenor.
Baca Juga: Rupiah Menguat, Yield SUN 10 Tahun Diproyeksi ke Kisaran 7,30%-7,45%
"Kondisi ini menuniukkan bahwa pasar sedang menaikkan premi risiko khusus Indonesia. Tekanan yang sudah terlihat di pasar NDF sebelum perdagangan domestik dibuka juga menandakan bahwa dorongan pelemahan datang dari pasar offshore," ungkap Yusuf kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).
Menurut Yusuf, sentimen negatif terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) dapat memicu perubahan ekspektasi investor dan meningkatkan premi risiko aset keuangan Indonesia.
Meski memang, tekanan di pasar saham bukan sumber utama pelemahan rupiah. Namun, memburuknya sentimen dapat memicu perubahan perilaku pelaku pasar, mulai dari eksportir yang menahan dolar AS hingga korporasi yang mempercepat pembelian valuta asing. Risiko akan semakin besar apabila tekanan tersebut diikuti oleh aksi jual investor asing di pasar obligasi pemerintah.
Yusuf mencatat pada pertengahan Oktober, nilai jual bersih investor asing di pasar saham sekitar US$ 4,7 miliar masih relatif kecil dibandingkan cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 146,3 miliar. Namun, risiko yang perlu diwaspadai berada di pasar SBN, mengingat kepemilikan asing di instrumen tersebut mencapai Rp 917,71 triliun.
Sebagai gambaran, apabila 10% kepemilikan asing di SBN keluar, nilai arus keluar tersebut setara dengan sekitar Rp 92 triliun, hampir sebesar akumulasi jual bersih asing di pasar saham.
Baca Juga: IHSG Berbalik Melemah ke 5.248,8 di Pagi Ini, Top Losers LQ45: WIFI, MAPI, GOTO
Maka, Yusuf memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 18.000-Rp 18.200 per dolar AS hingga akhir tahun dalam skenario dasar. Proyeksi ini dengan asumsi Bank Indonesia (BI) konsisten melakukan stabilisasi dan pasar memahami bahwa keputusan MSCI baru ditetapkan paling lambat akhir Juni 2027.
Namun, apabila arus keluar modal berlanjut, yield obligasi AS tetap tinggi, dan harga minyak kembali meningkat, rupiah berpotensi menguji kisaran Rp 18.300-Rp 18.500 per dolar AS.
Sementara itu, dalam skenario ekstrem, tekanan yang merembet ke pasar SBN dan disertai tindakan lembaga pemeringkat dapat mendorong rupiah menuju Rp 18.800-Rp 19.000 per dolar AS.
Untuk meredam tekanan, Yusuf menilai langkah BI melalui intervensi di pasar NDF, spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder sudah tepat. Kendati demikian, penggunaan instrumen yang lebih hemat devisa, seperti swap dan lindung nilai, perlu dioptimalkan.
Pembelian SBN juga perlu dijelaskan secara tegas sebagai bagian dari operasi stabilisasi pasar, bukan pembiayaan defisit anggaran. Persepsi monetisasi utang justru berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah.
"Dampak terhadap SBN diperkirakan nyata meskipun lebih terbatas dibandingkan saham. MSCI merupakan indeks saham sehingga tidak ada kewajiban mekanis bagi dana obligasi untuk menjual SBN. Namun, efek rambatannya sudah terlihat ketika yield SBN naik saat yield US Treasury turun," tandasnya.
Baca Juga: Direksi Terus Borong, Penurunan Harga Saham Perusahaan Tambang Ini Tak Kunjung Stop
Di sisi suku bunga, Yusuf menyebut BI sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% sembari menegaskan kesiapan untuk bertindak apabila tekanan berlanjut. Menurut dia, kenaikan suku bunga yang dilakukan secara terburu-buru justru berisiko dibaca pasar sebagai sinyal kepanikan.
"Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat mempertahankan instrumen peredam volatilitas serta mempermudah pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback bagi emiten dengan fundamental kuat," imbuhnya.
Namun, langkah tersebut hanya meredakan gejolak jangka pendek. Pemulihan kepercayaan investor membutuhkan penyelesaian persoalan terkait MSCI berbasis data, percepatan pemenuhan ketentuan free float, serta penindakan nyata terhadap manipulasi pasar.
Pemerintah dan otoritas juga perlu menjaga konsistensi komunikasi kebijakan, disiplin fiskal, serta menghindari perubahan kebijakan secara mendadak.
Bagi investor domestik, Yusud menyarankan diversifikasi ke dolar AS atau emas dapat dilakukan secara wajar untuk mengelola risiko, bukan untuk berspekulasi. Di pasar saham, investor dapat mencermati emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS. Sebaliknya, emiten dengan utang valas besar tanpa lindung nilai atau ketergantungan tinggi pada bahan baku impor perlu dicermati lebih hati-hati.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 17.990 Per Dolar AS Hari Ini (21/10)
Untuk instrumen pendapatan tetap, Yusuf bilang tenor pendek relatif lebih aman ketika volatilitas masih tinggi. Investor juga perlu menghindari penggunaan leverage karena risiko dalam kondisi pasar seperti ini tidak hanya berasal dari pelemahan rupiah, tetapi juga kemungkinan terpaksa menjual aset ketika harganya sedang tertekan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














